Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

21 Juni 2015

Mengambil Hikmah dari Musibah Kebakaran

Pagi-pagi sudah dioprak-oprak istri untuk segera mengantarnya ke acara pengajian. Karena istri sudah janjian dengan jamaahnya, sepulang pengajian mau silaturahim ke keluarga korban kebakaran kemaren. Wah, musti bersegera nih.
Biar nggak diomelin ya om?
Yaaah... maklum saja, karena jerih payahnya semalaman mensortir isi lemari memilah pakaian yang masih layak pakai supaya tidak sia-sia. Kita, para suami, musti mengapresiasinya toh? Lagian, nyenengin hati istri kan pahalanya berlipat lipat tuh di bulan puasa ini... :blush:
Adalah Munari Wibowo (50), warga gang Dukuh Gudang jalan Progo RT 01 RW 03 Kota Pekalongan beserta keluarganya, terpaksa merelakan hidup menumpang di rumah pak RW. Karena tiga hari lalu rumah dan seluruh isinya ludes dilalap si jago merah saat mereka hendak sholat tarawih.
Penghidupan Munari hanya sebagai penarik becak. Dibantu istrinya yang seorang ibu rumah tangga sederhana, membuat kehidupan mereka di bawah garis kemiskinan. Alasan itulah yang menyebabkan Munari lebih memilih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Padahal jatah kompor gas dan tabung gas 3kg juga dapat.
"Tidak cukup mas, sudah saya coba," jawab ayah 7 anak ini ketika saya tanya alasan tidak menggunakan gas. "Makanya saya rela mengumpulkan kayu bakar selepas narik becak," mantan penjaga malam di sebuah kampus swasta Pekalongan ini menambahkan. Tidak tiap hari Munari mencari kayu bakar. Setelah dirasa cukup stok kayunya, ia pun konsentrasi menarik becak. "Kadang ada yang memberi (kayu-kayu sisa bangunan)," ujarnya menutup pembicaraan.
Munari merasa sudah mematikan api dengan menyiramkan air ketika hendak pergi ke mushola. Bara kecil di bawah wajan luput dari perhatiannya. Rupanya, bara yang tersisa dari aktivitas memasak sebelum berbuka puasa tadi itulah pangkal musababnya...
Malam itu, semua warga Dukuh Gudang sedang bersiap-siap pergi ke mushola. Tak terkecuali keluarga Munari. Apalagi rumah Munari hanya selisih 2 rumah dari mushola, dan dialah yang bertugas menjadi bilal.
Sesaat setelah Munari mengumandangkan iqamat, para jamaah segera merapikan shaf dan sholat isya' pun dimulai oleh sang imam. Tiba-tiba terdengar kegaduhan pada shof paling belakang. Lama-lama kegaduhan itu semakin jelas dan membuat konsentrasi jamaah buyar.
"Kebakaran! Kebakaraann!! Kebakaraaannnn!!!" teriak seseorang. Teriakan itu otomatis membubarkan prosesi sholat isya yang baru saja dimulai. Seisi mushola kontan berhamburan ke arah sumber cahaya yang lama-lama menjulang dan terang benderang.
Ada yang ngomando, yang lain ambil ember dan alat seadanya, ada yang mulai menyiram, bahkan dengan air got sekalipun. Sebagian kaum ibu malah panik dan mondar mandir tidak karuan. Pak Topo, salah satu tokoh masyarakat, langsung insiatif menelpon blangwir alias Dinas Pemadam Kebakaran.
Markas blangwir yang berjarak hanya beberapa ratus meter itu tidak membuatnya cepat datang. Entahlah, mungkin ada banyak faktor teknis ataupun birokrasi yang musti dilalui? Padahal kalau ditempuh dengan jalan kaki saja tidak sampai 10 menit.
Kurang dari setengah jam, sang api sudah melalap habis rumah Munari. Beberapa saat kemudian 4 mobil damkar tiba, namun tidak bisa langsung bekerja. Pak Topo yang tadi menelepon, langsung mendekati salah seorang petugas damkar. Oleh petugas, pak Topo diminta menelepon PLN guna memutus arus di wilayah itu. Karena sangat berbahaya jika semprotan air damkar menyentuh kabel berarus.
Tanpa buang waktu, pak Topo langsung menelepon PLN. Akhirnya setelah arus diputus, petugas damkar mulai bekerja. Karena api sudah padam sejak tadi, semprotan damkar hanya memadamkan bara yang tersisa.
Dari musibah ini, saya mendapatkan hikmah yang luar biasa:
1. Kebijaksanaan pemerintah terkadang tidak efektif dan efisien di tataran grass root.
2. Dalam kondisi force majeur, sholat wajib sekalipun boleh dibatalkan (tapi nanti tetap diulang ya..)
3. Senantiasa membawa hp dan menyimpan nomor-nomor penting, seperti nomor kantor polisi, damkar, PLN dsb, sangat berguna di saat darurat (jangan lupa, isi pulsa terlebih dahulu)
4. Jangan panik ketika terjadi kebakaran. Langkah pertama: hubungi damkar, selanjutnya: PLN. Jangan sampai damkar sudah datang tapi tidak bisa langsung bekerja.
.
Begitulah pemirsa, secuil peristiwa yang sempat saya potret. Semoga kita semua terhindar dari musibah apa pun. Namun jika pun musibah itu menimpa kita, syukur dan sabar adalah langkah terbaik supaya kita bisa langsung *move on*.
Seperti kulihat pagi tadi di raut wajah pak Munari. Beliau telah berhasil mengikhlaskan semua miliknya. Semoga Allah SWT mengganti hartamu pak Munari, dengan ganti yang banyak dan lebih baik...

22 Maret 2015

Kopdar Bukalapak Solo

Dari kiri: Oom Jeep, om belum kenalan, om Rully juragan kamera, om Fajar FBD Kamera, om Iyan, om Juragan onderdil sepeda, dan saya...


Alhamdulillah sempat "menyelundup" ke acara kopdar Bukalapak Solo. Lho, kok menyelundup? Hehe... iya, karena bukan wong Solo. Dibela-belain jauh-jauh dari Pekalongan hanya supaya dapat menyedot ilmu dari para master seller Solo.

Asli, acara kopdarnya Bukalapak ini termasuk acara yang sangat-sangat berbahaya! Betapa tidak, di dalamnya mengandung "virus" yang sangat cepat menular. Gegara ikut acara ini, sepulangnya saya terserang "flu" kemaruk bisnis. Sampai-sampai ketika mendapati produk kaos distro islami yang cukup keren, saya rela menguras isi ATM. Haha...

Namun di balik gegap gempitanya acara ini, ada dua hal yang saya sesali. Pertama, karena tidak bawa kamera. Jadi hanya ngiler dan mupeng lihat para juragan pada narsis. Belum lagi, dengar-dengar ada kontes selfie... Walah, nasib... Tapi untungnya om Fajar baik hati, saya bisa nunut narsis groupi bareng mereka... Matur suwun om Fajar.

Penyesalan kedua, karena saya tidak dapat goodie bag-nya... hiks...

04 Oktober 2014

Cewek Idaman

Ini dia cewek idamanku

Lamaaa sekali saya mengidamkan punya cewek cantik. Alhamdulillah Idul Adha tahun ini terlaksana juga meminang si putih nan cantik ini. Maharnya cukup 11 juta saja.

Atas bantuan seorang kawan akhirnya saya bisa mempersembahkan ini untuk:

  1. Ibunda tercinta, Sudiyanti binti Raden Siswo Haryono,
  2. Ayahanda, Sijam Sami Adji bin Singa Bangsa,
  3. Nenek Aminah binti Tasli
  4. Nenek Rakmah binti Tasli
  5. Adinda Sinoro Puji bin Sijam Sami Adji
  6. Kakak Sinorowedi bin Sijam Sami Adji
  7. Kakak Sionalis binti Sijam Sami Adji

Nomor 1 sampai 5 sudah meninggal semua, semoga Allah mengasihi mereka. Sementara mas Sinorowedi dan mbak Sionalis masih hidup. Mereka bertujuh adalah orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan saya.

Ya Allah, Rabb yang telah mengilhamkan mimpi kepada nabi mulianya Ibrahim dan anaknya Ismail, tahun ini hamba absen dulu menunaikan syariat qurbanMU. Namun terimalah sekedar tanda cinta hamba untuk orang-orang terkasih hamba. Ampunilah dosa-dosa mereka dan sayangilah mereka lebih daripada mereka menyayangi hamba. Amiin...

11 Desember 2013

Selebrasi Milad ke-43 ku

Hari ini, empat puluh tiga tahun lalu, di sebuah desa kecil Podo, kecamatan Kedungwuni, kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, lahirlah bayi laki-laki. Konon sang orang tua si bayi mendapat nasihat dari guru spiritualnya: jika bayinya nanti lahir perempuan berilah ia nama Nur Hidayah. Namun jika lahir laki-laki, beri ia nama: Nurhadi.

Itulah pemirsa, konon cerita dari orang tua saya. Dan hari ini, tepat di usiaku yang ke-43 tahun, saya ingin memberikan yang terbaik untuk SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan, tempat saya mengekspresikan ide dan karya dalam upaya memcetak generasi Robbani bersama rekan seperjuangan. Hm...

Saya kumpulkan para santriwati kelas 7 dan 8 (memang baru ada dua angkatan sih) di Masjid Al-Anshor yang berada di ujung selatan kawasan pondok kami, usai UAS hari ini. Mereka saya terapi menggunakan SEFT yang ilmunya baru saja saya dapatkan beberapa hari lalu. Terapi ini asas kerjanya adalah mengingat kembali emosi-emosi negatif yang pernah dialami, kemudian mengikhlaskan dan memasrahkan secara total kepada Allah SWT, dan kita memohon padaNYA kesembuhan, kedamaian hati kita. Adapun tapping (mengetuk-ngetuk ringan) di titik-titik meridian tubuh adalah upaya melancarkan peredaran darah sehingga bisa menetralisir racun energi di tubuh kita.

Alhamdulillah, 80% dari mereka mengalami penurunan emosi negatifnya. Walaupun belum maksimal hasilnya, karena memang harus diulang beberapa kali, tidak cukup dalam sekali terapi.

Kemudian malam harinya, giliran santri ikhwan yang diterapi. Sehingga total, 114 orang santri yang menerima terapi SEFT hari ini. Alhamdulillah... senang rasanya bisa meringankan dan membahagiakan mereka. Ya Allah, karuniakanlah kedamaian hati dalam dada mereka dan penuhi dada mereka dengan cintaMu, agar mereka mudah menerima hidayahMu dan memenuhinya dengan kalamMu... Aamiiin...

04 Desember 2013

Kalender SEFT®



Tiba-tiba saja ketika Andrew menyodorkan jadual TS (Training SEFT) sepanjang tahun 2014 pekan lalu, bola lampu di kepalaku berpijar sangat terang. Dan ide itu pun langsung bermunculan... Cling! cling! cling!

Terbayang di mataku, sebuah kalender SEFT yang berisikan informasi-informasi penting seputar SEFT, entah dari mana nanti mengambilnya. Dan yang paling penting, di sana nanti terpampang Jadual Setahun TS di seluruh Indonesia! Ini adalah ruh kalenderku nanti. Ya, jualannya memang di situ sih... He...


Setelah melalui perenungan dan kerja marathon menuangkan ide ke atas "canvas" digitalku, akhirnya rampung sudah desain kalendernya seperti ini. Kalender triwulanan, yang bahan dasarnya dari buku SEFT karya foundernya, Ahmad Faiz Zainuddin. Di bawah tiap lembarnya, terpampang dengan jelas, Jadual TS di seluruh Indonesia, sesuai bulan tersebut. Memudahkan para calon peserta dan alumni melihat di kota mana saja TS dilangsungkan.

Dan hari ini, sejak dua hari lalu saya masukkan percetakan, kalendernya sudah selesai naik cetak semua. Semoga besok sudah rampung proses finishing klemnya. Terima kasih Yaa Robbi... izinkan hamba mengikuti TS yang ilmunya nanti hamba niatkan untuk kemaslahatan ummat, khususnya kebutuhan di Pondok SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan, dengan modal jualan kalender.

Kalau istilahnya para alumni TS, mari kita lakukan DeepSEFT untuk kalender ini. Supaya apa? Ya, supaya laris lah. Supaya sesuai dengan keinginan waktu kalender ini hendak dibuat. Apa saja tuh? Pertama, kalender ini laris manis dan menuai laba yang banyak. Kedua, dari laba itu bisa untuk membiayai TS yang hendak saya ikuti. Yang menurut ukuran kocek saya cukup berat, 3,5 juta. Ketiga, agar kalender ini nanti, membawa manfaat sebesar-besarnya bagi pembelinya dan orang-orang yang menggunakannya.

O ya pemirsa, sejatinya desain kalender ini asli karya saya, namun saya tidak mau mengangkanginya sendiri, toh hak cipta sejati ada di tangan Allah SWT Sang Maha Desainer. En toh saya juga mencomot foto-foto yang ada di internet, yang nota bene milik orang lain. Sehingga Anda saya persilakan mendownload kalender ini dan mengeprin untuk kebutuhan Anda sendiri. Namun, jika kurang puas dan ingin membelinya (semoga saja masih ada stok), bisa menghubungi saya di nomor Whatsapp 0819678518, atau invite pin BB saya 2936A53A.

01 Desember 2013

Hah?? PKN!

Hari ini, seantero jagad memperingati Hari AIDS. Sebetulnya saya tidak begitu peduli. Namun ketika negara kita, khususnya melalui kementerian kesehatannya merestui Pekan Kondom Nasional (PKN), jadi muak saya dibuatnya.

Di bawah ini komentar seorang teman di Purwodadi, menurut saya bagus untuk direngungkan:

Ketika saya ditanya tentang bagaimana sikap terhadap Pekan KONDOM yang digalakkan MENKES dalam menyambut hari AIDS sedunia.

Saya hanya bilang, ketika keluarga harmonis, mampu berbagi kasih dan cinta dengan bijak bersama pasangan. Ketika orangtua mampu mengajarkan akhlaq yang baik bagi anak-anaknya. Maka jangankan 1 bus KONDOM dengan gambar JUPE. 1 armada dan beribu kontiner KONDOM dengan gambar yang lebih menantang pun. Kita semua tak akan terpengaruh.

Memang kita saat ini harus protes, karena melihat fenomena yang mengerikan. Mohon Maaf, karena pemerintah sedang main "kelamin" untuk menyelamatkan anak bangsa dr AIDS dr pada dengan mempergunakan benteng akhlaq.

Pemerintah lebih memilih memproteksi "kelamin" dari pada akhlaq para remaja.
Jadi kalau boleh saya bilang bahwa logika pemerintah adalah logika "kelamin", akal mereka ada dikelamin mereka karena mereka lebih peka pada kelamin dengan memproteksi dengan kondom dari pada memproteksi remaja dengan ahlaqul karimah!

Kalau akal pemerintah sudah ada di kelamin! Lantas bagaimana dengan kehidupan mereka!?
Ayo mulai dari diri kita dan keluarga kita! Itu lebih baik!

30 November 2013

Melepas Istri Wisuda

Sore tadi mengantar istri ke Pusri, tempat pemberhentian bus rombongan wisuda UT UPBJJ Semarang ke kampus UT Pusat, Jakarta. Dari 5 orang angkatan dia yang mendapat undangan wisuda di kampus pusat, hanya tiga orang yang bisa berangkat. Awalnya istri tidak berminat, dikarenakan mendengar kabar kabur tentang biayanya yang mahal. Belum lagi bayangan dia di sananya masih harus mengurus ini itu kelengkapan wisuda, akomodasi dan lain lain, sementara ia buta peta.

Ternyata oh ternyata, wisuda di kampus UT Pusat tidak ada biayanya. Ya, gratis 100%. Biaya yang dikenakan hanya 1 juta oleh travel agen selaku EO-nya. Biaya itu sudah all-in, artinya tinggal berangkat bawa badan saja tidak takut "terbengkalai", hehe... Makanya dua hari lalu minta diantar ke Semarang untuk mendaftar. Jadilah hari ini ia berangkat. Saya lihat ada 4 bus besar... Hm.. banyak juga rupanya mahasiswa UT Jawa Tengah ya...

Menurut rundown acara yang dia terima, wisuda baru dilaksanakan selasanya. Sementara besok Senin ada pra-acara, biasanya berupa seminar (begitu menurut bu Siti, petugas di kantor UPBJJ Semarang).

Sebenarnya dua hari ini dan kemaren saya berencana ikut Training SEFT di Hotel Ibis Semarang. Namun karena beririsan waktunya dengan keberangkatan istri ke Jakarta ini, akhirnya saya batalkan. Kasihan anak-anak, sedang masa UAS di sekolahnya. Insya Allah ikut training pekan depan wis. Resikonya, ikutnya kelas Jakarta nih. Alhamdulillah, malah bisa dilatih langsung sama penggagasnya, Ahmad Faiz Zainuddin.

O ya, pemirsa, ada yang belum tahu apa itu SEFT? Tunggu celoteh saya selanjutnya... Mampir lagi ya...

17 Agustus 2013

Tujuhbelasan

Apa yang terbersit di benak Anda mendengar kata "Tujuhbelasan"? Sebagian besar saya yakin langsung mengaitkannya dengan momentum bersejarah kebangsaan ini. Apalagi kalau bukan dirgahayu kemerdekaan RI.

Sesungguhnya saya tidak begitu antusias pada setiap momen tujuhbelasan. Di samping karena sudah "tidak perlu" upacara bendera lagi --kecuali dulu jaman sekolah-- rutinitas semisal: pengibaran eh, tepatnya pemasangan bendera di depan rumah masing-masing dan melihat penjual bendera tiban yang sudah mulai menata dagangannya jauh-jauh hari di bulan Juli, juga tidak ada "kewajiban melekat" untuk merayakannya. Hari ini sama dengan hari-hari lain dalam kalenderku.

Namun ada satu rutinitas yang membuat perut saya mual (ah, sampai sebegitunya?) adalah melihat "logo resmi" HUT Kemerdekaan RI. Yang tiap tahun begitu-begitu saja. Ini pernah saya luapkan dalam blog ini juga, tentang "krisis kreatifitas" dalam hal pembuatan logo ini. Benar-benar jengah dibuatnya. Baiklah, tahun ini saya tidak mau mengomentari hal itu. Toh juga tidak memberi dampak yang berarti bagi para "penentu kebijakan" logo itu.

Yang jelas, tujuhbelasan di mataku adalah: hari ulang tahun istri yang kesekian kalinya. Tahun ini, berarti 42 tahun umurnya. Semoga dia bisa memanfaatkan setiap detik umurnya dengan baik dan benar, sesuai koridor Ilahiah... Terima kasih istriku, telah bersama melajukan bahtera rumah tangga kita hingga tahun ke-18 ini... Semoga Allah SWT memberkahi umurmu...

01 Juli 2013

Kembali Ke "Barak"

Istriku dan anak keempat, Jundi


Wuih, seperti slogannya militer saja! Ini nih pemirsa, ceritanya istri saya sedang berbungah karena per tahun ajaran 2013/2014 ini dipindahtugaskan ke RAIT Ulul Albab Kota Pekalongan. Karena dia kan sudah menjadi abdi negara (dalam hal ini PNS di lingkungan Kemenag Kota Pekalongan), jadi musti siap di tempatkan di mana pun. Sebelumnya dia bertugas di MSI 15 Medono.

Tidak hanya istri yang berbahagia, yayasan juga. Karena "jerih payah"nya selama ini untuk "mengembalikan" 6 orang "assabiqunal awwalun" guru-guru perintis di RAIT Ulul Albab telah berhasil. Yah, tentu saja tidak keenam-enamnya dikabulkan pihak Kemenag. Hanya dua orang dari enam yang dikabulkan (isteri saya dan bu Nur Hidayah yang sudah lebih dulu).

15 Februari 2013

Hari Ketiga Edisi Mengurug Masjid

Subhanallah, rupanya sejak dua hari kemarin bermain-main tanah dengan para santri, sampai hari ini pun masih berlanjut. Bahkan kali ini hampir semua santri ikhwan terlibat. Sehingga estafeta ember untuk mengangkut tanah lebih dekat jaraknya. Jadi jika dua hari kemarin yang berjalan orangnya, hari ini embernya.

Cukup meriah juga nih... Para santri ikhwan juga sangat bersemangat. Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan. Walaupun jika dibanding dengan banyaknya tanah, pekerjaan gabungan tiga hari ini masihlah sekitar sepuluh persenan kurang. He...

Mudah-mudahan mereka masih enjoy untuk diajak kerja bakti beberapa hari ke depan. O ya, di hari ketiga ini, pegel-pegel di pinggangku sudah sembuh. Alhamdulillah. Semakin yakin dengan teori: jika pegel berlanjut, mencangkul juga berlanjut!

Lihatlah, tanah urugan ini masih butuh sentuhan Anda...

14 Februari 2013

Santri Ikhwan Ngiri

Jika kemarin yang serakah pahala santri akhwat, hari ini adalah edisi ikhwan. Ya, si Fahmi, Huda, Rama, Farhan dan Daffa pun ingin menorehkan sejarah, bahwa keringat mereka turut menjadi saksi pembangunan Masjid Al-Anshor di kawasan pondok pesantren kami, SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan.

Lho, kok cuma lima orang? Bukankah santriwannya ada 21 orang? Benar. Sebagian yang lain sedang istirahat siang. Maklum, jika melaksanakan "kemisan" begini, mereka rata-rata giat memanfaatkan waktu istirahat siangnya. Namun jika tidak sedang puasa sunnah, pasti jam-jam segini sedang asyik-asyiknya main futsal di halaman.

Nah, supaya yang tidak melaksanakan shoum sunnah juga dapat pahalah, maka saya ajak kerja bakti memindahkan tanah urugan ke bakal masjid kami.

Padahal pinggang saya masih terasa mlanjer nih, gara-gara kemarin mencangkul sesorean. Maklum, biasa pegang mouse disuruh pegang cangkul. Begini jadinya. Namun kucoba teori: jika sakit berlanjut, maka kerja bakti juga harus lanjut. He...

13 Februari 2013

Sesekali, Kita Perlu Memberikan Atmosfer "Pemberontakan" Kepada Anak Anak Kita

Ya. Sesekali. Saya kira tidak mengapa.
Seperti yang saya lakukan hari ini, mengajak para santri "memberontak" dari kebiasaan. Mumpung hujan sore-sore, usai sholat ashar berjamaah dan murojaah, mereka kutawari "Ayoo, siapa mau hujan-hujanan berpahala?"
Sontak beberapa jemari mengacung diiringi teriakan heboh, "Saya Tadz, saya Tadz!!"

"Oke, siapkan plastik!" perintahku.
"Untuk apa Tadz?" tanya seorang santri.
"Melindungi kepala kalian, biar tidak flu."
"Idih, ya malu Tadz, kalau dilihat orang," alasan mereka.
"Aku nggak mau pake ah!" timpal yang lain.
"Aku juga!"
"Aku juga!"
Jadi deh, semua tidak mau melindungi kepalanya dari tetesan "rahmat Allah".  Semoga saja habis ini tidak pada meriang. Ya Robbi, kami berlindung dari penyakit karena bermain-main dengan hujanMu ini...

"Eh, sebentar! Bukankah kalian ada ekskul jurnalistik?" saya menghentikan langkah.
"Alaaah... Bosen ah Tadz!" seru salah satu.
"Iya Tadz, sekali-kali refreshing gitu dong," timpal yang lain.
"Oke, konsekuensi dimarahi ustadzah Azmi tanggung sendiri ya!"
"Oke Tadz, nggak pa pa!" jawab mereka kompak.
"Dan.... resiko kena poin tanggung sendiri ya?!" godaku.
"Yaa... masak mau bantu membangun masjid kok kena poin. Tidak adil dong!" mereka masih protes.
"Gini aja wis, kami kena poin nggak apa-apa. Tapi kerja bakti ini juga dikasih poin plus dua kali lipatnya ya Tadz?" rayu salah satu.
"Yee... maunya. Biar nggak tekor ya? Haha... Ada-ada saja ide kalian ini! Sudah ah, let's go girls!" perintahku memotong protes mereka yang bertubi-tubi.

Berbaris otomatis membuntutiku, Salma, Hana, Muna, Nadia, Dita dan Salsa. Lho, kok cuma enam ekor? He... yang lain males karena sudah mandi sore katanya. Oke, tak mengapa. Enam orang cukup lah.
Kami bertujuh beriringan menuju "tempat permainan" itu: onggokan tanah urugan di sebelah utara bakal masjid kami. Seperti satu regu tentara siap tempur, masing-masing membawa senjata: ember dan cetok.
Sayangnya, di tengah keasyikan kami, hujan berangsur reda. Wah, nanggung nih.
"Yaah... Hujannya berhenti.." Hana kecewa
"Ustadz, kurang asyik nih!" protes Salma
"Iya Tadz, nggak asyik," Muna tak mau kalah
Lho..lho..lho... kok protesnya ke ustadz? Protes sama Allah sana, kalau berani. He...
"Sudahlah, nanti usai kerja bakti ini, ustadz siram pakai selang," bujukku
"Bener ya Tadz? Asyiiikk....," Dita, Nadia dan Salsa langsung bersemangat kembali.

Sang "Pemberontak": Salsa, Muna, Hana, Salma, Nadia, Dita

***
Eeh... di tengah asyik-asyiknya kami memindahkan tanah urugan itu ke dalam bakal masjid kami, pak Kyai berteriak, "Sudah jam lima seperempat!"
Tak terasa time is over saudara-saudara... Jadi terpaksa kami menyudahi keasyikan ini deh.
"Come on ladies, saatnya bebersih diri!"
"Yeee.... Asyiiiikk....!!!"
Dan mereka pun asyik bebersih di bawah "hujan buatan" yang tercurah dari ujung selang hijau di tanganku...

11 Februari 2013

Ganti Rantai BMW-ku

Mencoba rantai merk "Orisin", yang harganya jauh lebih murah. Jika beli yang orisinil punya Honda, harus mengeluarkan kocek 140.000 untuk satu set gear dan rantai, selisih 50.000 cukup matrial lah...
Sekalian beli lampu rem 2.500 dan kaca spion 20.000. Bawa ke bengkel "Dua Saudara" di kelurahan Soko, hanya dikenakan ongkos 10.000. Alhamdulillah, ngirit... Semoga saja rantainya kuat setahun lebih. Karena pengalaman, memakai rantai orisinil Honda juga durasi pakainya kurang lebih setahunan. Jadi kenapa musti keluar kocek lebih, jika yang murah tapi kuat saja ada?

10 Februari 2013

Jika Kecewa Mencengkeram Jiwa Anda

Hati-hati dengan orang yang merasa kecewa dengan Anda. Namun Anda tidak perlu terkooptasi dengan segala reaksi yang dia berikan. Anggaplah orang tersebut sedang memberikan "ilmu hikmah" tersendiri buat Anda secara gratis.

Seperti yang dialami seorang sahabat saya hari ini. Beliau adalah seorang Kepala Sekolah di sebuah SMP swasta di kotaku. Sepekan yang lalu beliau baru saja memberhentikan salah seorang karyawannya, atas permintaan sendiri. Konon sang karyawan ini merasa kecewa dengan keputusan yang diambil oleh sahabat saya tadi. Sayangnya, sang karyawan ini mengakhiri hubungan kerjanya dengan tidak happy ending; dalam kondisi marah dan pakai acara merusak properti segala.

Ternyata walau sudah sepekan lewat, rasa kecewa sang karyawan ini belum juga reda. Ia masih menyimpan dan bahkan mengipas-kipas baranya. Puncaknya, hari ini dia melakukan teror kepada karyawan lain, disertai ancaman. Tujuannya agar para koleganya juga mengikuti jejaknya: keluar dari pekerjaannya.

Parahnya, sang karyawan kecewa ini juga meneror beberapa tukang yang kebetulan sedang membangun masjid di sekolah itu. Tak urung teror ini sempat mempengaruhi suasana kerja para tukang tersebut. Maklumlah, mereka -para tukang itu- semuanya pendatang. Mendapat teror dari dari karyawan kecewa yang warga asli di daerah itu, mereka shock juga. Bahkan memohon kepada juragannya untuk ditarik pulang ke daerahnya alias menghentikan tugasnya yang baru saja dimulai.

Sahabat saya tidak membiarkan hal ini berlarut-larut. Pertama menenangkan para tukang agar tetap tenang dan jangan terpengaruh dengan teror yang ada. Sembari meyakinkan bahwa tidak ada yang dapat mencelakai atau menentukan nasib kita kecuali atas kuasa Allah SWT semata. Kedua, mengantisipasi jika mantan karyawannya tadi melakukan aksi susulan.

Di balik langkah taktis tadi, sahabat saya ini sebenarnya sangat yakin, bahwa mantan karyawannya itu hanya besar mulut saja. Sesungguhnya ia tidak sekuat atau seberpengaruh seperti yang dikoar-koarkannya. Andaikan apa yang ia koar-koarkan benar-benar terjadi alias sampai terjadi penganiayaan fisik, maka justru hal ini akan lebih mudah proses hukumnya.

04 Februari 2013

Dari Langit

"Dari langit," jawab Irfan (5 th) anak kelimaku antusias.

Irfan (5 th)
Memperhatikan hamparan sawah di belakang "apartemen" lantai duaku serasa luruh sudah semua rasa lelah. Ya, lelah jiwa ini mendengar, membaca dan melihat reaksi orang-orang yang mengolok-olok PKS. Biarlah, kelak mereka akan tahu.
Oke, mari kita kembali ke pengalaman siang tadi. Irfan dan saya menikmati hamparan sawah nan menghijau di belakang "apartemen". Sebagian besar telah rapat dengan tumbuhan dari keluarga rerumputan itu. Sebagian kecil lain, yang lebih dekat ke kaki apartemen ini, masih renggang-renggang. Di sela-selanya dapat kami lihat dengan jelas air beningnya dengan endapan lumpur di dasarnya.
"Bi, aku pernah main-main di situ sih," tunjuk Irfan ke arah sawah tepat di bawah kami.
"Pas waktu kering ya?" tanyaku
"Nggak, pas sudah basah gitu," sergahnya
"Sama siapa saja mainnya?"
"Sama Azmi."
Ketika kulihat beberapa ikan kecil berenang, kucoba memancing nalar anakku yang masih duduk di bangku TKIT Ulul Albab 2 itu.
"Eh, ada ikannya tuh... Irfan lihat tidak?" kataku. Irfan pun mengarahkan pandangannya mengikuti telunjukku.
"Waktu sawahnya kering, ikan-ikan itu pergi kemana ya?" pancingku. "Kan kalau tidak ada air, ikan tidak bisa hidup. Nah, sekarang saat musim hujan seperti sekarang ini, tiba-tiba sudah banyak ikan di sawah. Kira-kira dari mana ya datangnya ikan-ikan itu?"
"Dari langit, Bi," jawab Irfan tegas. Dari intonasinya, dia sangat yakin jika jawabannya tepat.
"O ya? Bagaimana caranya?"
"Kan, Allah menurunkan telurnya lewat hujan,"
Hm... jawabannya masuk akal juga ya?

02 Februari 2012

Insiden Siang

"Ustadz, kepalanya Fahmi bocor, Tadz!!" teriak salah seorang anak sambil lari tergopoh-gopoh menemui ustadznya.
Teman-teman lainnya serempak mengikuti. Jadilah suasana siang itu rame dengan 'lomba pemberitahuan' anak-anak
"Ustadz, kepalanya bocor!"
"Ustadz, bolong Tadz!"
"Ustadz, darahnya banyak sekali!"

Padahal, kenyataannya tak sedramatis itu. Memang, kepalanya terluka dan berdarah, bahkan lumayan banyak. Dasar anak-anak, kalau tidak heboh, bukan anak-anak namanya. Cuma jika tidak tenang menyikapinya, malah ikut panik, ya sudah, tambah sukses deh horornya, hehe...

Tak menunggu waktu, sang ustadz pun segera menuju ke arah Fahmi, sang korban dimaksud. Di seberang lapangan sekolah, di samping tempat bermain TK, 'sang korban' menahan luka di dahinya. Darah segar terus mengalir dari sela jarinya, menodai seragam batiknya.

"Ayo bawa ke UKS!" perintah sang ustadz sambil memapah Fahmi.

Ternyata setelah luka dibersihkan, petugas UKS tidak bisa menangani karena terlalu lebar. Luka Fahmi harus dijahit. Bergegas sang ustadz membawa ke rumah sakit. Untungnya, jarak dari sekolah ke rumah sakit hanya 500 meter. Di UGD, dua orang suster sigap melayani. Luka itu pun dirapatkan dengan 2 jahitan. Alhamdulillah

"Bagaimana bisa begitu?" tanya karyawan lainnya.
"Mungkin jatuh dari mainan TK itu" jawab seorang anak mencoba menganalisa.
"Tadi kak Fahmi mainan di atas itu, Tadz. Terus dia loncat ke bawah dan kepleset. Kepalanya membentur batu ini," teman yang lain tak kalah seru menjelaskan. Padahal ia sendiri bukan saksi mata.

Hehe... dasar anak-anak

01 Januari 2012

Pemburu Gratisan

Dasar! Hobinya yang gratis-gratis saja. Begitu "fasilitas" dicabut, kelabakan deh jadinya. Begitulah, pembaca. Diri ini memasang fasilitas gratis untuk 'tinggalkan jejak' dari ShoutMix / ShoutBox yang mulai 1 Januari 2012 lalu ternyata dihentikan.  Mereka mulai berani unjuk gigi untuk hanya melayani fasilitas berbayar. Sejujurnya murah sih, cuma 50 ribuan per bulan. Cuma karena teknis pembayarannya harus memakai kartu kredit atau paypal, susah juga buatku.

Singkat cerita langsung berburu lagi nih. Pasti ada yang sejenis, pikirku. Dan... Alhamdulillah dapat di CBox. Tuh, sudah terpasang di kolom kanan... Tampilannya mirip banget bukan?

Nah, bagi Anda yang pemburu gratisan seperti saya, langsung saja klik link kecil di sudut bawah kanan kotak CBox saya... Selamat menikmati!

22 Desember 2011

Mukhoyam, Suka dan Dukanya

Persiapan untuk keberangkan Mukhoyam Pandu Keadilan Menengah 1 (MPKM1) nih. Di penghujung 2011 ini, DPD PKS Kota Pekalongan memberangkatkan 18 kadernya dalam "mukhoyam pungkasan" ini.
Mukhoyam (kemah) diselenggarakan di desa Getasan, Kabupaten Semarang, sejak tanggal 23 hingga 25 Desember 2011

20 Desember 2011

Rihlah Keluarga

Alhamdulillaah... Senangnya bisa kumpul semuanya. Mumpung anggota keluarga komplit, rihlah aah... Sejak Senin kemarin sebetulnya anak-anak sudah berada di rumah, namun karena kami -saya dan istri- ada tugas yang belum selesai akhirnya baru hari ini terlaksana. Itu pun tidak bisa berangkat pagi sesuai harapan, karena  istri musti melatih pidato bahasa Jawa anak didiknya dulu. Baru menjelang zhuhur kami bisa pergi rihlah ke kolam renang Karanganyar.

Acaranya? Pesta air! Kejar-kejaran di kolam, gelut-gelutan sama anak lanang, ngusilin anak wadon -satu-satunya- yang tidak mau dipotret dan balapan renang (hos..hos... nafasku habis, padahal baru separo jalan). Pokoknya asyik deh... Sementara itu uminya anak-anak yang mengabadikan momen ini... (satu-satunya personel yang tidak mau basah kuyup, jadi dapat tugas motret, hehe...)

Ini dia keceriaan itu...

Ayoo... lihat ke ummi semuanya! Cheese...


Aksi kelima anakku
Umar ngusilin mbak Dija

dik Irfan takut air, sini mas Umar gendong!
4 cowok jagoan itu (Zaid, Jundi, Umar, Irfan)

Lompatan tunggal (Umar)
Lompatan Ganda (Umar & Zaid )

Byuurrr...!!!
Umar & Jundi naik "kura-kura"

#2: Zaid

#3: Umar
#4: Jundi
#5: Irfan