Tampilkan postingan dengan label Dunia Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Pendidikan. Tampilkan semua postingan

04 September 2014

"Sesruput" Bimbingan dan Konseling

Namanya juga sesruput, jadi ya hanya sedikit saja. Ini tentang Bimbingan dan Konseling atau yang biasa disingkat BK. Sebuah ilmu yang baru saja saya ketahui dalam workshop sehari tadi. Workshop diadakan oleh Lembaga Bimbingan dan Konseling STAIN Pekalongan

Awalnya tak sengaja ikut. Pagi tadi mampir ke STAIN hendak menemui Pak Agus Farkhina, untuk urusan order cetak buku pedoman. Saya menyerahkan berkas kelengkapan CV untuk keperluan administratif tender, sembari mengambil gambar tampak depan rektorat untuk kebutuhan ilustrasi sampulnya nanti. Apalagi tahun ini kampus STAIN catnya berganti hijau, jadi fotonya harus ganti. Usai dari kantor pak Agus, mampir ke fotokopi di depan kampus. Di sana bertemu dengan ayahnya Daffa, santri saya.

"Lho, kok di sini Pak?" tanya saya.
"Iya tadz, ini habis sarapan, menunggu jam 8 nanti mau ikut workshop BK" jawabnya.
"Oh, jenengan mengampu BK to?"
"Iya... Lha SMPIT siapa yang datang?" tanya beliau
"Wah, saya malah belum tahu, coba nanti saya tanya kepala sekolah,"
"Ikut saja Tadz, karena Workshopnya untuk guru BK se-kota dan kabupaten Pelongan lho," ajak beliau.

Begitulah, akhirnya saya pun ikut. Di samping karena amanah dari kepala sekolah, juga didorong rasa ingin tahu seperti apakah rupa "makhluk" berjuluk BK ini.

Ternyata saya adalah peserta "liar", karena tidak membawa undangan maupun formulir pendaftaran. Untung saja panitia sepertinya masih butuh peserta sehingga saya diperkenankan masuk. Konon panitia hanya memilih seratusan undangan saja dari jumlah 500-an orang guru BK SMP, SMA, SMK se-kota dan kabupaten Pekalongan.

Seperti lazimnya, pembukaan telah lewat setengah jam-an dari jadual jam 8. Panitia menampilkan 3 orang panelis: Dr. Ninik Suharini, S.Pd.,M.Si, Dr. Hj. Fitri Sukmawati, M.Psi., Dr. Siti Khorriyatul Khotimah, M.Psi.

Panelis pertama, bu Rini yang seorang pengawas sekolah di Banjar Baru, Kalimantan Selatan, menyampaikan makalah tentang seluk beluk "Bimbingan dan Konseling", yang meliputi:
- Pengertian Bimbingan
- Pengertian Konseling
- Pengertian Bimbingan dan Konseling
- Tugas-tugas Perkembangan Remaja
- Bimbingan dan Konseling di Sekolah
- Pola Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
- Tugas Bimbingan dan Konseling
- Latar Belakang Psikologis dalam Proses Pendidikan di Sekolah
- Pendekatan Bimbingan dan Konseling

Panelis kedua, bu Fitri (dosen IAIN Pontianak) memaparkan makalah yang berjudul: "Problema Remaja dalam Pembelajaran dan Hubungan Interpersonal", yang meliputi:
- Pendahuluan
- Fase Pertumbuhan Manusia
- Dampak Negatif
- Masalah yang Muncul
- Jenis Penanganan
- Definisi Kecerdasan Interpersonal
- Dimensi Kecerdasan Interpersonal

Panelis terakhir, bu Khotim yang seorang dosen UIN Surabaya, menyampaikan makalah "Aplikasi Biblioterapi dalam Pembelajaran sebagai Salah Satu Teknik Konseling di Sekolah". Terdiri atas:
- Definisi Biblioterapi
- Tujuan Menerapkan Biblioterapi
- Tahapan Menyajikan Biblioterapi
- Bagaimana Siswa Berubah (Proses Biblioterapi)
- Aplikasi Biblioterapi dalam Pembelajaran

Sesi kedua setelah istirahat sholat dan makan siang, adalah diskusi kelompok. Saya masuk dalam kelompok 4 yang karena anggotanya hanya 2 orang, maka merger dengan kelompok 3 yang juga cuma hadir 2 orang. Rupanya setelah break tadi banyak yang tidak kembali ke workshop. Kelompok 3+4 ini diketuai oleh mas Imam dari MA Hasballah Karanganyar, sekretaris saya, anggota mas Muhaimin dari MASS Proto dan pak Khusaini dari MA Hifal Buaran, mendapat tugas mendiskusikan "Problematika Guru BK"

Dari hasil diskusi disimpulkan bahwa problematika guru BK (yang kemudian diralat oleh pak Abdullah, mengacu peraturan mendiknas istilah yang benar adalah guru pembimbing) sebagai berikut:
- Selama ini fungsi guru BK di sekolah hanyalah sebagai "polisi" yang berwajah seram.
- Banyak juga yang hanya sebagai petugas administratif, merekap skor pelanggaran siswa oleh guru piket.
- Kurang pahamnya personel guru BK sendiri dan rekan sejawatnya terhadap tupoksi guru BK.
- Latar belakang pendidikan guru BK banyak yang tidak berasal dari disiplin ilmu ke-BK-an.
- Guru BK adalah "superman" yang kudu siap ditumpahi berbagai problema siswa di sekolah.
- Guru BK seringkali hanya menjalankan fungsi kuratifnya, belum maksimal pada fungsi prefentif dalam menjalankan tugasnya di sekolah.

Kelompok juga mendiskusikan alternatif solusinya:
- Guru BK harus mengubah citra seram, dengan "masuk" kepada dunia remaja.
- Merekomendasikan stakeholder pendidikan untuk membuat tupoksi semua pemangku jabatan dan mensosialisasikannya.
- Guru BK harus senantiasa meningkatkan kapasitas diri, antara lain dengan cara:
   * Kuliah lagi mengambil jurusan BK
   * Sharing dengan sesama guru BK
   * Memperbanyak membaca artikel-artikel ke-BK-an dan studi kasus, baik melalui internet maupun media lainnya.
- Memanfaatkan 2 jam tatap muka untuk menjalankan fungsi prefentif
- Merekomendasikan sekolah yang belum mengalokasikan waktu untuk BK masuk dalam jadual tatap muka (KBM)
- Merekomendasikan STAIN Pekalongan untuk membuka Program Ekstensi pada Prodi BK Islam nya.

Demikian, sekilas tentang BK dan pengalaman saya hari ini. Semoga bermanfaat...

15 Januari 2014

Jadi Remaja yang Lebih Bermakna Bersama SEFT



Nurhadi SHT, trainer dari Komunitas SEFTer Assalaam sedang memberikan materi Deep SEFT
kepada para santri SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan

Press Release yang dibuat oleh ustadzah Azmi:

Shalawat Nabi SAW begitu ramai terdengar mennjelang hari Maulid Nabi SAW 12 Robiul Awal 1435H yang bertepatan pada hari Selasa, 14 Januari 2014. Shalawat bersama, jalan sehat, pengajian dan masih banyak sekali alternatif acara yang diadakan oleh masjid atau lembaga-lembaga tertentu. Pastinya SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan yang tahun ini sudah dua angkatan juga tak ingin tertinggal untuk membuat momen spesial di hari Maulid Nabi SAW. Meskipun sebenarnya tidak terlalu mengkhususkan hari Maulid Nabi SAW karena setiap hari ummat Islam sudah seharusnya mengamalkan sunnah Rosul SAW. Tidak pada hari tertentu saja.

Hari libur kali ini diisi dengan kegiatan bermakna agar santri-santri SMPIT Assalaam—yang kerap disebut ABSP (Assalaam Boarding School Pekalongan)—ini senantiasa membuat perubahan baik di setiap harinya. Diawali dengan mengenal diri sendiri, memanfaatkan potensi diri disertai dengan usaha dan doa kepada Allah SWT. Acara difasilitasi oleh Komunitas SEFTer Assalaam, Nurhadi SHT selaku koordinator sekaligus menjadi pembicara inti bersama dua trainer lainnya yang juga sebagai pengajar di SMPIT ABSP, Didik Teguh Yuwono SPd dan Fadli Darojatun SPd.

“Kegiatan pelatihan SEFT (Spiritual Emotional Freedom Technique) untuk Sukses Belajar ini ditujukan untuk semua santri dengan harapan dapat membantu mengatasi masalah emosi mereka serta membantu mereka mengenali diri agar mampu meraih impiannya di masa depan. Dengan demikian mereka juga akan berusaha selalu memperbaiki diri setiap hari," papar Nurhadi SHT. Kegiatan yang bertempat di kantor Radar Pekalongan ini terdiri dari dua sesi.  Sesi pertama berlangsung dari jam 08.30 hingga 12.00 WIB untuk kelas putri dan 13.00 hingga 17.00 WIB untuk kelas putra.

Tentu saja santri senang mengikuti kegiatan demikian. Tidak monoton dan penuh manfaat. Tak hanya menghabiskan waktu libur yang bertepatan dengan Maulid Nabi SAW ini dengan kegiatan yang biasa saja. Apalagi mereka sudah tergolong remaja yang membutuhkan banyak asupan dan bimbingan dari berbagai pihak agar menjadi pribadi yang lebih terarah serta tak menjadi ‘followers’ budaya lain yang justru makin menjerumuskan dalam kegiatan yang kurang bermanfaat.
Dengan adanya serangkaian kegiatan untuk mengisi hari Maulid Nabi Muhammad SAW ini semoga tujuan awal membentuk diri santri menjadi lebih baik pun tercapai walaupun semua itu tetap butuh waktu untuk berproses. Namun, pihak sekolah pun yakin setiap usaha yang baik akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa pula. Semoga ABSP makin berjaya.

01 Desember 2013

Hah?? PKN!

Hari ini, seantero jagad memperingati Hari AIDS. Sebetulnya saya tidak begitu peduli. Namun ketika negara kita, khususnya melalui kementerian kesehatannya merestui Pekan Kondom Nasional (PKN), jadi muak saya dibuatnya.

Di bawah ini komentar seorang teman di Purwodadi, menurut saya bagus untuk direngungkan:

Ketika saya ditanya tentang bagaimana sikap terhadap Pekan KONDOM yang digalakkan MENKES dalam menyambut hari AIDS sedunia.

Saya hanya bilang, ketika keluarga harmonis, mampu berbagi kasih dan cinta dengan bijak bersama pasangan. Ketika orangtua mampu mengajarkan akhlaq yang baik bagi anak-anaknya. Maka jangankan 1 bus KONDOM dengan gambar JUPE. 1 armada dan beribu kontiner KONDOM dengan gambar yang lebih menantang pun. Kita semua tak akan terpengaruh.

Memang kita saat ini harus protes, karena melihat fenomena yang mengerikan. Mohon Maaf, karena pemerintah sedang main "kelamin" untuk menyelamatkan anak bangsa dr AIDS dr pada dengan mempergunakan benteng akhlaq.

Pemerintah lebih memilih memproteksi "kelamin" dari pada akhlaq para remaja.
Jadi kalau boleh saya bilang bahwa logika pemerintah adalah logika "kelamin", akal mereka ada dikelamin mereka karena mereka lebih peka pada kelamin dengan memproteksi dengan kondom dari pada memproteksi remaja dengan ahlaqul karimah!

Kalau akal pemerintah sudah ada di kelamin! Lantas bagaimana dengan kehidupan mereka!?
Ayo mulai dari diri kita dan keluarga kita! Itu lebih baik!

01 Juli 2013

Kembali Ke "Barak"

Istriku dan anak keempat, Jundi


Wuih, seperti slogannya militer saja! Ini nih pemirsa, ceritanya istri saya sedang berbungah karena per tahun ajaran 2013/2014 ini dipindahtugaskan ke RAIT Ulul Albab Kota Pekalongan. Karena dia kan sudah menjadi abdi negara (dalam hal ini PNS di lingkungan Kemenag Kota Pekalongan), jadi musti siap di tempatkan di mana pun. Sebelumnya dia bertugas di MSI 15 Medono.

Tidak hanya istri yang berbahagia, yayasan juga. Karena "jerih payah"nya selama ini untuk "mengembalikan" 6 orang "assabiqunal awwalun" guru-guru perintis di RAIT Ulul Albab telah berhasil. Yah, tentu saja tidak keenam-enamnya dikabulkan pihak Kemenag. Hanya dua orang dari enam yang dikabulkan (isteri saya dan bu Nur Hidayah yang sudah lebih dulu).

14 Februari 2013

Santri Ikhwan Ngiri

Jika kemarin yang serakah pahala santri akhwat, hari ini adalah edisi ikhwan. Ya, si Fahmi, Huda, Rama, Farhan dan Daffa pun ingin menorehkan sejarah, bahwa keringat mereka turut menjadi saksi pembangunan Masjid Al-Anshor di kawasan pondok pesantren kami, SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan.

Lho, kok cuma lima orang? Bukankah santriwannya ada 21 orang? Benar. Sebagian yang lain sedang istirahat siang. Maklum, jika melaksanakan "kemisan" begini, mereka rata-rata giat memanfaatkan waktu istirahat siangnya. Namun jika tidak sedang puasa sunnah, pasti jam-jam segini sedang asyik-asyiknya main futsal di halaman.

Nah, supaya yang tidak melaksanakan shoum sunnah juga dapat pahalah, maka saya ajak kerja bakti memindahkan tanah urugan ke bakal masjid kami.

Padahal pinggang saya masih terasa mlanjer nih, gara-gara kemarin mencangkul sesorean. Maklum, biasa pegang mouse disuruh pegang cangkul. Begini jadinya. Namun kucoba teori: jika sakit berlanjut, maka kerja bakti juga harus lanjut. He...

13 Februari 2013

Sesekali, Kita Perlu Memberikan Atmosfer "Pemberontakan" Kepada Anak Anak Kita

Ya. Sesekali. Saya kira tidak mengapa.
Seperti yang saya lakukan hari ini, mengajak para santri "memberontak" dari kebiasaan. Mumpung hujan sore-sore, usai sholat ashar berjamaah dan murojaah, mereka kutawari "Ayoo, siapa mau hujan-hujanan berpahala?"
Sontak beberapa jemari mengacung diiringi teriakan heboh, "Saya Tadz, saya Tadz!!"

"Oke, siapkan plastik!" perintahku.
"Untuk apa Tadz?" tanya seorang santri.
"Melindungi kepala kalian, biar tidak flu."
"Idih, ya malu Tadz, kalau dilihat orang," alasan mereka.
"Aku nggak mau pake ah!" timpal yang lain.
"Aku juga!"
"Aku juga!"
Jadi deh, semua tidak mau melindungi kepalanya dari tetesan "rahmat Allah".  Semoga saja habis ini tidak pada meriang. Ya Robbi, kami berlindung dari penyakit karena bermain-main dengan hujanMu ini...

"Eh, sebentar! Bukankah kalian ada ekskul jurnalistik?" saya menghentikan langkah.
"Alaaah... Bosen ah Tadz!" seru salah satu.
"Iya Tadz, sekali-kali refreshing gitu dong," timpal yang lain.
"Oke, konsekuensi dimarahi ustadzah Azmi tanggung sendiri ya!"
"Oke Tadz, nggak pa pa!" jawab mereka kompak.
"Dan.... resiko kena poin tanggung sendiri ya?!" godaku.
"Yaa... masak mau bantu membangun masjid kok kena poin. Tidak adil dong!" mereka masih protes.
"Gini aja wis, kami kena poin nggak apa-apa. Tapi kerja bakti ini juga dikasih poin plus dua kali lipatnya ya Tadz?" rayu salah satu.
"Yee... maunya. Biar nggak tekor ya? Haha... Ada-ada saja ide kalian ini! Sudah ah, let's go girls!" perintahku memotong protes mereka yang bertubi-tubi.

Berbaris otomatis membuntutiku, Salma, Hana, Muna, Nadia, Dita dan Salsa. Lho, kok cuma enam ekor? He... yang lain males karena sudah mandi sore katanya. Oke, tak mengapa. Enam orang cukup lah.
Kami bertujuh beriringan menuju "tempat permainan" itu: onggokan tanah urugan di sebelah utara bakal masjid kami. Seperti satu regu tentara siap tempur, masing-masing membawa senjata: ember dan cetok.
Sayangnya, di tengah keasyikan kami, hujan berangsur reda. Wah, nanggung nih.
"Yaah... Hujannya berhenti.." Hana kecewa
"Ustadz, kurang asyik nih!" protes Salma
"Iya Tadz, nggak asyik," Muna tak mau kalah
Lho..lho..lho... kok protesnya ke ustadz? Protes sama Allah sana, kalau berani. He...
"Sudahlah, nanti usai kerja bakti ini, ustadz siram pakai selang," bujukku
"Bener ya Tadz? Asyiiikk....," Dita, Nadia dan Salsa langsung bersemangat kembali.

Sang "Pemberontak": Salsa, Muna, Hana, Salma, Nadia, Dita

***
Eeh... di tengah asyik-asyiknya kami memindahkan tanah urugan itu ke dalam bakal masjid kami, pak Kyai berteriak, "Sudah jam lima seperempat!"
Tak terasa time is over saudara-saudara... Jadi terpaksa kami menyudahi keasyikan ini deh.
"Come on ladies, saatnya bebersih diri!"
"Yeee.... Asyiiiikk....!!!"
Dan mereka pun asyik bebersih di bawah "hujan buatan" yang tercurah dari ujung selang hijau di tanganku...

21 Januari 2012

Pelatihan Multiple Intelligence

Tim GLC, Bambang, penulis, Bp Mardjuki (Next Surabaya), Ceria, Novi
Sabtu, 21 Januari 2012 diajak pak Bambang (calon Kasek SMPIT Assalaam BSP) ikut pelatihan guru multiple intelligence level intermediate di SDIT Buahati Jakarta Timur. Lah, padahal saya belum pernah ikut yang level basic. Untungnya saya sudah mengkhatamkan dua dari trilogi bukunya pak Munif Chatib: Sekolahnya Manusia dan Gurunya Manusia. Sehingga bisa asyik mengikuti pelatihan yang super dahsyat ini sampai tuntas tas tas taaass...

[Coba Anda perhatikan, ID-Card saya dan pak Bambang beda dengan punya bu Ceria dan bu Novi. Ternyata itu ID untuk panitia... Bukan salah kami lho, itu bagian resepsionis salah comot. Kami juga baru 'ngeh' saat break, ada seorang peserta dari Bekasi yang berujar, "Oh, panitia, saya kira sesama peserta." Hehe... padahal kita juga peserta Mas...]

18 Januari 2012

Akhirnya Logo ABSP pun Ditetapkan

Rabu dinihari, tepat pukul 01.17 wib, logo ABSP pun ditetapkan setelah melalui rangkaian diskusi yang seru. Terima kasih atas masukan, saran dan kritik Anda semua...

11 Januari 2012

Selamat Hari Mendongeng Nasional!

Kak Bimo in action
Dongeng, ia mampu melekatkan tali kasih yang telah lekang antara orang tua dengan anak, menjadi obat kerinduan. Bahkan dongeng pun bisa menjadi satu lapisan batin yang kuat pada jiwa anak, sehingga mereka mencintai kebaikan dan kebenaran, serta menjauh dari kebatilan-keburukan. Kita terus membutuhkan cerita atau dongeng yang apik dan menggerakkan anak-anak negeri kita untuk mencapai martabat yang luhur, disegani kawan ataupun lawan, siap tanding maupun sanding.
(Kak Bimo; Pekerja Dongeng Indonesia)


Baru tahu kalau hari ini, 11 Januari, dinobatkan sebagai Hari Mendongeng Nasional. Kutipan Kak Bimo di atas sangat menggugah. Saya jadi teringat nasihat beliau tahun silam; bahwa jika ingin membentuk karakter generasi penerus negeri ini menjadi hebat, maka cekoki mereka dengan dongeng-dongeng bermutu. Karena, 20 tahun kemudian, ruh dongeng itu akan menjelma menjadi akhlaq mereka kelak.

Kak Bimo pernah memaparkan, ada sebuah penelitian terhadap dongeng (cerita rakyat) yang beredar 20 tahun lalu di dua negara (saya lupa namanya). Sebut saja Negara A yang saat itu dalam kondisi tertindas, dan dongeng-dongeng yang dituturkan kepada anak-anak negeri itu seputar kisah kepahlawanan, heroisme, optimisme untuk bangkit dan cerita sejenis yang bervisi. Ternyata 20 tahun kemudian negara itu bisa merdeka dari penindasan, bahkan mengalami kemajuan dan kemakmuran yang luar biasa.

Sementara di negara B yang tingkat kesejahteraan rakyatnya relatif lebih makmur saat itu, sehingga dongeng-dongeng yang beredar lebih meninabobokan rakyatnya. Apa yang terjadi 20 tahun kemudian? Ternyata tingkat kemakmuran negeri itu malah merosot tajam dan dapat disaingi oleh negara A tadi.

Saya jadi terperangah. Jangan-jangan amburadulnya negeri kita tercinta ini gara-gara dongeng yang beredar puluhan tahun lalu menanamkan kebobrokan moral? Simak saja dongeng paling masyhur di tanah Jawa: "Kancil Nyolong Timun". Kenapa musti harus nyolong jika bisa bicara baik-baik dengan Pak Tani untuk memintanya? Atau, mengapa tidak kita buat skenario: Sang Kancil minta diajari Pak Tani bercocok tanam timun yang baik dan benar. Sehingga nantinya bisa menghasilkan timun yang berkualitas super dan Kancil tak perlu nyolong lagi? Hayo, siapa mau mendongeng "Kancil Jadi Exportir Timun?"

Mudah-mudahan ini menginspirasi kita. Saya yakin masih banyak anak negeri yang benar-benar mencintai negeri ini dan berkeinginan kuat mewujudkan cita-cita luhur bangsa. Maka segeralah kita mulai "menularkan virus" dongeng pembangkit semangat ini kepada anak-anak kita. Dengan semua media dan sumber daya yang kita punya, mari bersama menuturkan dongeng motivasi itu, sekarang!

SELAMAT MENDONGENG, INDONESIA!

21 Desember 2011

Kabar Gembira dari SMP IT Darul Fikri Bawen

Selasa, 20 Desember 2012. Pukul 09:14:38

Kring.. kring...

Itu bukan bunyi bel sepeda pak pos jaman dulu, melainkan nada sms ponselku.

"Assalamu'alaikum wr. wb. Akh, insya Allah bisa diterima, bisa segera ditindaklanjuti..." demikian bunyinya. Singkat dan... melegakan. Alhamdulillaah...

Pesan singkat dari Pak Loemiyono, Kepala SMP IT Darul Fikri Bawen itu mengabarkan bahwa Zaid, anakku nomor 2, berhasil lolos seleksi untuk dapat menjadi santri di sana. Ini merupakan seleksi khusus bagi calon santri yang sudah duduk di tingkat VIII. Sebelumnya Zaid bersekolah di sebuah MTs di daerah Gunungpati Kota Semarang.


Mengapa bersikeras pindah? Bukankah sekarang 'nanggung'? Sudah duduk di kelas VIII dan di pertengahan semester pula? Alasan utama kami karena di MTs tersebut, lingkungannya kurang kondusif. Banyak siswa yang hobi membolos dan kongkow-kongkow pada jam pelajaran sembari berpesta rokok. Alasan kedua, Zaid bersekolah di MTs tersebut sebenarnya karena sedang mondok di sebuah pondok tahfidz Qur'an (yang belum memiliki gedung sekolah sendiri, sehingga santrinya di sekolahkan di "luar"). Namun karena sekarang sudah tidak mondok lagi, ya otomatis tidak ada alasan yang pas untuk tetap mempertahankan sekolah di sana.

Semoga kelak di SMP IT Darul Fikri, nilai-nilai fitrah Zaid (dan santri lainnya) bisa terjaga dan terus melejit meraih kecemerlangan prestasi dunia-akhirat... Aamiin....

03 Desember 2011

Finlandia, Potret Pendidikan Terbaik di Dunia

Bro & Sis, banyak yang belum tahu bahwa Finlandia merupakan negara yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia!

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA; mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No.1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa, tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau membombardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam per minggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam per minggu.

Lalu apa dong kuncinya ?. Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingannya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!. Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi, tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.

Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 tahun, siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab, mereka akan bekerja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya : Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah!" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.


[Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich]

25 November 2011

Logo ABSP dan Filosofinya


Alhamdulillaah, akhirnya jadi juga rancangan logo Assalaam Boarding School Pekalongan (ABSP) ini. Logo ini hasil peras otak (dan keringat?) ane setelah melalui berbagai proses perenungan yang mendalam (cieee...) dan corat-coret menghabiskan 1 rim kertas (lebay nih). Maka, dengan bangga kupersembahkan untuk kejayaan Islam. Omong-omong, ini filosofinya:

Shape (Bentuk Dasar)
  • Huruf "A", merupakan nama dari lembaga ini, yaitu "ASSALAAM" atau "Assalaam Boarding School Pekalongan" (disingkat ABSP)
  • Secara keseluruhan membentuk "Pena", melambangkan dunia pendidikan, aktivitas KBM, menuntut ilmu
  • "Segitiga" melambangkan 3 pihak utama dalam suksesnya pendidikan anak: Orangtua, Sekolah dan Lingkungan.
  • Huruf "V" (hayo, siapa bisa melihatnya?), artinya "Victory" atau Kemenangan; yang dimaksudkan di sini adalah Kejayaan Islam (izzul Islam wal muslimin)
  • Huruf V ini sekaligus melambangkan "Mushaf Terbuka", artinya semua pihak yang terlibat dalam lembaga pendidikan ini diharapkan senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai bacaan utamanya.

Color (Warna)
  • Warna dominan kuning dan nuansa cerah dipilih bermakna "FUN" dan CERIA. Hal ini dimaksudkan bahwa proses KBM di lembaga ini diformat dalam nuansa yang fun, sehingga diharapkan para santri akan merasa enjoy belajar di ABSP
  • "Trio Warna" pada bidang segitiga atas (Kuning, Kuning Tua & Oranye) melambangkan "Tiga Landasan Utama" sumber keilmuan: Allah, Rasul, Al-Islam.
  • Bening (warna Mushaf) mencerminkan "Cahaya di atas cahaya" sebagaimana inspirasi Qur'an surat An-Nuur ayat 35. 
  • Warna Emas pada ujung pena (segitiga kecil) mengartikan kejayaan, kegemilangan, prestasi.
  • Coklat Walnut (warna teks) dipilih melambangkan ketegasan, kedisiplinan, keluwesan. Artinya, akhlaq disiplin yang hendak ditegakkan dibiasakan secara luwes, tidak kaku/saklek, sehingga santri, asatidz dan semua pihak yang terlibat merasa ridho menjalaninya.

Font (Jenis Huruf)
  • Constantia untuk tulisan "Assalam Boarding School". Dipilih jenis huruf ini karena ber-style formal namun garis-garisnya tegas sehingga mudah dibaca. Efek tebal-tipisnya lebih menambah kesan elegan font ini, sesuai dengan citra elegan dan profesional yang hendak dibangun pada ponpes ABSP.
  • Segoe UI untuk tulisan "Pekalongan". Alasan dipilihnya jenis huruf ini karena struktur garisnya tegas dan rata. Maknanya, visi-misi ABSP yang dicanangkan jelas tegas untuk disumbangkan secara merata demi kemajuan pembangunan (khususnya bidang pendidikan dan ruhani) Pekalongan, kota di mana ponpes ABSP ini berada.
Oke, itu dulu ah penjabaran filosofi dan contoh aplikasinya untuk berbagai orientasi pencetakan logo. Harapan ane, Bro & Sis bisa memberi masukan konstruktif, baik tentang bentuk logo maupun filosofinya. Ditunggu!


[Update: 29 November 2011]

Setelah di'floor'kan, ternyata logo ABSP di atas telah berhasil membuat 'geger', maka berikut ini ane sodorkan 2 alternatif sesuai masukan yang ada. Silakan dipilih yang pas dengan selera Bro & Sis, kemudian monggo dihujat habis-habisan... Syukron katsiiroo...

O ya, untuk filosofi alternatif #2 dan #3 menyusul yah... [tiwas sudah capek-capek ngarang, nggak kepake 'kan sayang, hehe...]  Untuk jenis huruf yang ini ane pake Century Schoolbook (80% width) dan Callibri. Selamat menikmati.

Alternatif #2:


Desain #2 dibuat atas masukan para "Pecinta Hijau", he.. he...


Alternatif #3:


Menurut ane, WARNA itu kan netral, semua warna adalah milik Allah SWT, bukan milik golongan tertentu. Artinya, semua warna adalah 'milik' umat Islam. Sepakat? Kirim dukungan untuk logo penuh warna ini, caranya: Ketik ABSP#3 kirim ke 08122994564

22 November 2011

Mimpi Besar itu Sudah Mulai Diwujudkan...

 
Ane di ujung jembatan Assalaam.  Inilah mimpi kami...




"Awas ada truk masuk..." Satpam mengomando

Truk pertama hari ini...

Truk kedua...

Truk ketiga...


Truk keempat...

Sudah berapa rit nih?
Menumpahkan muatan
Meratakan tanah
"Minggir, jangan di depan buldozer!" sang driver memperingatkan

"Ayo, kirim tanah lagi, masih kurang nih!" kata pak Mandor


































































































Enam bulan lalu, di lahan ini....


Pengecoran pondasi jembatan baru dimulai

Lahan 1,2 Ha ini masih panen untuk terakhir kalinya

Sang arsitek sedang menjelaskan siteplan-nya kepada pengurus Yayasan




















































VISUALISASI  MIMPI  INI . . .

05 Juni 2011

Selebrasi Kelulusan: yang Benar Bagaimana sih?

Corat-coret baju sampai ke rambut-rambutnya, konvoi motor dengan knalpot yang digeber habis, mengganggu kenyamanan orang lain??
Ya, benar tidaknya tergantung siapa yang melihat lah.
Bagi toko matrial, tindakan selebrasi corat coret baju sragam itu sangat bagus. Betapa tidak, gara gara mereka, omzet cat piloxnya kan naik. Hehe... Juga bagi pemilik bengkel motor, pastinya orderan bikin knalpot yang super geber itu juga lumayan. Belum lagi pasca konvoi, pasti banyak motor yang perlu diservis.
Corat coret baju itu pemubadziran!
Ah, siapa bilang?
Lha iya to, wong bajunya habis selebrasi itu tidak bisa dipakai. Dikasihkan ke panti asuhan juga tidak pantas, lagian mana boleh sekolah pakai seragam coretan?
Ah, masih bisa dimanfaatkan kok. Coba tuh kasihkan anak-anak kreatif. Baju-baju itu bakal didaur ulang. Dipotong kecil-kecil memanjang, terus dipilin-pilin dan dianyam, maka... taraaa.... jadilah keset warna-warni. Manfaat to?
Tapi, ulah mereka itu mengganggu kenyamanan orang lain. Bayangkan, gara-gara konvoi mereka, para bayi tidak bisa tidur dan orang-orang yang sedang istirahat siang jadi terganggu. Belum lagi para pengguna jalan, juga merasa terganggu.
Yah, itu musti maklum Bro & Sis, toh cuma setahun sekali. Para pemilik usaha SPBU juga seneng tuh, juga yang hanya jual bensin eceran, ikut kecipratan rezekinya lho. Berapa liter bensin tuh, yang mereka habiskan untuk muter-muter keliling kota? Lumayan kan, bagi-bagi rezeki...
Itu mungkin kompensasi karena selama masa sekolah, mereka kurang terakomodir ekspresinya. Ekspresi berkesenian, ekspresi menyalurkan hobi corat coret, ekspresi kinestetisnya juga ane rasa terkekang tuh. Jadi, yang seharusnya mereka aktif bergerak, disuruh diam dalam ruang empat persegi, bertahun-tahun lho!
Jadi menurut ane, untuk mencegah selebrasi kelulusan yang begituan, tidak cukup himbauan dari Diknas dan pejabat terkait saja. Paling juga tidak digubris, ya toh? Lihat aja, tiap tahun para pemangku kebijakan selalu bekoar-koar melarang, tapi toh tetep juga masih kita jumpai yang demikian. Lantas langkah konkretnya gimana dong? Ini butuh perombakan kurikulum! Lho? Iya, kurikulumnya diubah: harus bisa mengakomodir semua ekspresi para siswa. Insya Allah, jika semua ekspresi mereka tertampung sejak dini, maka selebrasi yang begituan gak bakalan mereka lakukan lagi... Coba aja kalau berani!

23 Juli 2010

Aset itu Bernama: Anak

Irfan berakting a la pejuang kemerdekaan dengan "tebu runcing"nya. Latar belakang pembakaran limbah panen tebu, lokasi depan rumah.


Bro & Sis, lama nih nggak niliki blog... Mumpung ada momen HAN, pengin berceloteh sedikit tentang Anak.

Bicara tentang anak, angan saya nyangkut pada pepatah jawa kuno: 'banyak anak banyak rejeki.' Saya pikir-pikir, ternyata pepatah itu muncul dari sebuah semangat keislaman yang luar biasa. Betapa tidak, hal itu masuk dalam wilayah aqidah! Dalam aspek aqidah, seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah SWT itu Maha Pencipta, Pemberi sekaligus Pengatur Rezeki. Dan -sesuai hadits nabi yang mengatakan bahwa- setiap anak telah ditulis baginya 4 perkara tatkala dia berumur 120 hari sejak terjadinya pembuahan: ajal, rezeki, jodoh dan nasibnya (lihat hadits arbain tentang penciptaan manusia). Itu artinya, rezeki tiap manusia sudah ada kavlingnya sendiri-sendiri, tidak mungkin saling tukar ataupun saling serobot. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator mengalirnya rezeki itu dari Allah SWT ke anak-anak kita.

Maka tidak mengherankan pada tahun-tahun awal terlibat dalam dunia tarbiyah, saya 'dikompori' untuk segera menikah dan memiliki banyak anak. Mengapa? Karena itu merupakan 'bukti' proses tarbiyah yang telah dijalani telah benar-benar berhasil mencelup aqidah kita. Wajarlah jika era itu menjadi era semangat nikah dini bagi para aktivis dakwah kampus. Bahkan kawan saya, seorang ketua Rohis yang belum usai kuliahnya dan belum memiliki penghasilan tetap pun berani menikah (kini dia telah siap mantu).

Anak adalah aset kita yang tak ternilai harganya. Apalagi bagi para aktivis dakwah, anak berarti mutarobbi (kader binaan) abadi yang jelas-jelas langsung akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Maka sebagai aset, para orang tua berkewajiban membekalinya dengan aqidah yang lurus, pendidikan yang islami, sehingga potensinya akan berkembang dengan baik dan benar secara syar'i.

09 Februari 2010

Menilik Fasilitas Hotspot Pemkot

Bro & Sis,

Melihat itikad baik Pemkot Pekalongan menjadikan Lapangan Mataram sebagai ruang publik yang memiliki fasilitas hotspot memang harus diacungi jempol. Apalagi pihak Telkom selaku penyedia jasa telah meneken kontrak untuk tidak memungut bayaran, alias fasilitas titik panas (baca: hotspot) ini betul-betul free bin gratis tis tis...

Namun ketika itikad baik itu tidak didukung perencanaan yang baik, kadang menimbulkan hal-hal yang menyebabkan itikad baik itu menjadi bias makna kebajikannya. Beberapa warga yang sempat mencoba memanfaatkan fasilitas itu sering mengeluhkan kekurangnyamanannya dalam berinternetria di Lapangan Mataram.

Tidak adanya tempat duduk yang memadai, pelindung di kala hujan dan panas dan akses catu daya PLN yang kurang, semua itu seolah menghapus 'pahala' niat baik pemkot. Maka, banyak yang mengusulkan agar di titik panas itu dibangun semacam gazebo atau peneduh dengan catu daya (lebih khusus, steker/colokan listrik), sehingga warga merasakan nyaman berselancar.

Memang, itu semua membutuhkan dana dan curahan pikiran yang tidak bisa dibilang ringan. Namun jika pemkot sungguh-sungguh ingin agar warganya menjadi melek teknologi, maka saya fikir investasi ini bukanlah sia-sia.

Mudah-mudahan energi positif yang dikeluarkan oleh para pihak yang berkompeten membuahkan kebajikan pula di kemudian hari...

11 Agustus 2009

Harga Selembar Ijazah

Bro & Sis,
Tempo hari ada seorang sohib yang senasih dengan ane, yakni hanya seorang lulusan SMA. Dia mengabarkan ada sebuah lowongan tenaga lepas sebagai seorang surveyor pada sebuah proyek survey koperasi. Tentu saja dalam sikon seperti sekarang ini, tawaran darinya sangat menyejukkan terdengar. Langsung ane sanggupi untuk menjadi tenaga survey.
Esoknya sohib ane tadi nge-sms, bahwa pelatihan untuk para surveyor akan dilaksanakan dua hari lagi di Semarang. Ane disyaratkan harus membawa copy ijazah, copy ktp, pasfoto dan kalkulator! Dan ketika hitungan jam mendekati hari H yang dikabarkan, beliau ngesms lagi. Isinya: kami berdua tidak jadi ke semarang, alias tidak diterima sebagai seorang surveyor, karena ijazah kami cuma SMA, sementara yang dibutuhkan adalah SE, sarjana ekonomi.
Kecewa rasanya hati ini, tentu saja. Namun ada hikmah di balik kisah ini. Yakni bahwa ternyata dunia pendidikan kita sungguh sangat mengenaskan. Betapa tidak, hanya untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai seorang surveyor, yang disyaratkan musti sarjana! Padahal -menurut hemat ane- pekerjaannya sangat mudah: menanyai obyek survey (yang biasanya sudah ada listnya), mengisikannya ke dalam form dan minta tanda tangan atau stempel darinya. Sangat sangat sederhana, yang bahkan anak ane yang masih SMP saja pasti bisa!
Jadi, antum semua para sarjana, maukah jika selama berjibaku di bangku kuliah dengan segala kemahalan ongkos material dan moral, hanya untuk melakukan pekerjaan anak SMP?

11 Februari 2009

Menuju Swasembada Sekolah

Jika pak Anton Apriantono, menteri pertanian kita, bisa mewujudkan negeri tercinta ini berswasembada beras --dalam arti sesungguhnya-- maka mengapa kita tidak bisa mewujudkan swasembada sekolah? Yang ane maksud dengan swasembada sekolah adalah mendorong lembaga-lembaga pendidikan baik negeri apatah lagi swasta --utamanya tingkat dasar-- untuk bisa mandiri, kreatif dan inovatif serta tidak njagakke bantuan/dana dari pemerintah. Singkat kata, mewujudkan sekolah yang tahan banting di segala kondisi.

Untuk itu diperlukan tangan-tangan dingin yang kreatif. Tidak hanya itu, sang arsitek musti memiliki "nyali" untuk mendobrak. Seperti halnya pada game "9 titik" di bawah ini.
Jika diibaratkan bahwa untuk mewujudkan impian di atas adalah seperti 'tantangan' dalam game ini (yaitu Anda diminta menghubungkan kesembilan titik tersebut hanya dengan menggunakan 4 garis lurus yang nyambung terus), maka untuk menyelesaikannya Anda harus berani "keluar dari pakem". Karena jika tidak, Anda hanya akan ublak-ublek pada 9 titik itu tok. Tak akan pernah menyelesaikan masalah!

Bagaimana menyelesaikannya? Lihat ilustrasi di samping. Bahkan bagi orang-orang yang lebih kreatif, tantangan ini bisa diselesaikan dengan lebih sedikit garis (berarti lebih efektif dan efisien). Tiga garis misalnya, atau bahkan cukup sebuah garis saja!

Kembali ke pokok gagasan. Menurut ane, langkah terpentingnya adalah "jangan terpaku pada kurikulum" dari diknas. Maaf saja, konon menurut para ahli pendidikan, kurikulum pendidikan kita ini masih amburadul dan terlalu membebani siswa. Karenanya, jika kita tidak kuasa menggantinya dengan yang lebih bagus, langkah terbaik adalah 'mensiasatinya'. Dalam permisalan tadi, kurikulum kita itu ibarat 9 titik. Makanya kita musti berani melihat "bidang di luar 9 titik" untuk dapat mengurai benang kusutnya.

Langkah berikutnya adalah:

(1) Terapkan Skala Prioritas, yaitu pilah mapel menurut 'tingkat urgensinya'. Contoh: mapel yang 'tidak penting' (misalnya PKPN, IPS dan sejenisnya. Maaf lho bagi guru bidang studi ini) tidak usah diplot dalam distribusi jadual KBM, tetapi cukup diberikan berupa resume untuk siswa baca atau hafalkan sendiri di rumah. Nah, kapling waktunya kita gunakan untuk aktivitas lain yang lebih 'produktif'.

(2) Senantiasa wujudkan suasana KBM yang menyenangkan. Mengapa kita harus terpaku pada ruang kelas dan papan tulis? Sering-seringlah adakan KBM interaktif di taman sekolah misalnya. Manfaatkan lingkungan sekitar sekolah, termasuk hal-hal yang remeh-temeh, untuk mendukung penguasaan konsep siswa. Jangan hanya putus asa karena tidak memiliki ruang lab atau ruang komputer.

(3) Buatlah ekstra kurikuler yang 'produktif', yaitu yang bisa menjadikan peserta didik melejit potensinya dan memiliki kompetensi tertentu. Takut terjebak pada penjurusan? Kenapa tidak, justru sekolah yang memiliki spesialisasi tertentu akan dicari oleh konsumennya yang seide. Semakin fokus sekolah pada "value" tertentu, akan memudahkannya "keluar dari kerumunan."

(4) Tingkatkan "jam terbang" siswa sehingga semakin matang. Jangan ragu untuk mendelegasikan sepenuhnya kepada siswa.

Salah satu contoh aplikasinya adalah seperti yang telah dilaksanakan pada model Sekolah Alam. Di sana orientasinya adalah kompetensi siswa, sehingga segala aktivitas KBM yang ada diarahkan pada penguasaan konsep. Adapun metodologinya bisa 1001 cara. Di sinilah kreativitas dan keistiqomahan guru ditantang. Karena bagaimanapun kencengnya idealisme sang guru, mereka adalah produk lembaga tekstual. Yang kadang, walaupun senantiasa berusaha fokus pada konteks, sering keseleo di sana-sini.

Ane pernah mengusulkan ide pada sebuah SDIT di Pekalongan, yaitu menyelenggarakan ekstra kurikuler yang 'produktif'. Salah satunya adalah: ekskul EO. Ya, event organizer yang termasuk di dalamnya videoshooting, fotografi dan entertainment. Latar belakangnya, karena setiap tahun setidaknya ada 5 even yang pasti diselenggarakan oleh pihak sekolah: penerimaan siswa baru, masa orientasi siswa, peringatan hari-hari besar nasional dan keagamaan, kegiatan tengah semester, wisuda/pelepasan siswa. Nah, dengan dibekali skill mengelola even, maka para guru tidak perlu pusing membentuk kepanitiaan setiap hendak mengadakan acara. Untuk mengeksekusinya, serahkan saja semuanya pada siswa. Ini akan menjadikan mereka memiliki jiwa kemandirian yang luar biasa. Dan energi para guru bisa disimpan untuk hal-hal yang lebih besar lagi.

Sayangnya, pihak sekolah merasa telah kehabisan ploting waktu untuk ide ane tersebut. Sehingga usulan yang menurut mereka cukup bagus ini, ikut tertimbun dalam tumpukan proposal yang lain. Mengapa ini terjadi? Karena pihak sekolah belum memiliki "nyali" untuk keluar dari pakem. Khawatir siswa keponthal-ponthal, tidak bisa mengikuti pelatihannya. Masih gamang, jangan-jangan nanti "diapa-apakan" oleh dinas karena "mengeliminir" mapel tertentu. Takut dikucilkan dari komunitas sekolah swasta, dan sebagainya dan sebagainya.

Ane yakin, insya Allah, anak usia SD bisa menyerap ilmu apa pun yang diberikan. Asalkan dalam prosesnya betul-betul mengedepankan suasana belajar yang menyenangkan. Bukankah rentang usia SD masih dalam masa golden age? Dan tentang 'teror' oleh pihak lain, tak usahlah diacuhkan. Teruslah bekerja dengan profesional, insya Allah mereka akan melihat hasilnya. Setelah itu, ane yakin, dukungan akan terus mengalir.

Jika hal ini terwujud, maka pihak sekolah bisa menjual skill yang dimiliki siswanya, seperti halnya pada Sekolah Kejuruan yang bisa menghasilkan uang dengan mengerjakan proyek tertentu. Tentunya dengan tetap memperhatikan dampaknya terhadap siswa dan sekolah. Atau pun jika tidak, maka pihak sekolah telah melakukan penghematan yang cukup signifikan karena pengelolaan even-evennya tidak diorderkan ke pihak lain.

Lantas, apa yang kita tunggu?

31 Januari 2009

Hayoo... Siapa Yang Bermasalah?

Aquariumnya Jundi. Keren 'kan?

Pagi itu jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Saat seharusnya istriku sudah harus tiba di TKIT Ulul Albab, tempat ngajarnya. Namun karena berangkatnya harus bareng Jundi (anak keempat kami yang masih kelas B), maka terpaksa menunggunya hingga selesai sarapan.
Sementara uminya ngomel-ngomel karena bisa dipastikan terlambat tiba di sekolah, Jundi alih-alih bersegera, ee... malah asik ngopeni piaraan barunya: ikan mungil (semungil yang punya).

Ia dengan penuh kasih memindahkan ikannya ke cangkir. Sejurus kemudian dengan perlahan tangan mungilnya memunguti bebatuan kecil dan 'rumah ikan' yang terbuat dari bekas serutan pensil miliknya. Memindahkan sementara keluar aquarium. Berikutnya membuang air aquarium yang sudah kotor, membersihkannya dan mengisinya kembali dengan air bersih. Lantas ia memindahkan rumah ikan, memunguti kembali bebatuan satu per satu dan menatanya dengan rapi ke dalam aquarium yang terbuat dari bekas toples susu.

Jarum panjang sudah menunjuk ke angka 9. Jundi sambil mengulum nasi sarapannya yang baru separuh habis, asik mengamati ikan kesayangannya. Tentu saja ini membuat uminya semakin uring-uringan. Dan antum bisa menebak, reaksi selanjutnya bukan?

Bro & Sis, itulah salah satu potret kehebohan pagi hari keluarga kami. Pernahkah antum (yang sudah berkeluarga) merasakan hal serupa? Ane yakin paling tidak Antum pernah menyaksikan peristiwa seperti itu.

Menurut ane, Jundi tidak bisa disalahkan. Karena memang seperti itulah dunianya, dunia anak-anak yang penuh dengan keasyikan. Terlambat sekolah? Itu bukan masalahnya bukan? Karena bagi anak, sekolah sama halnya dengan bermain. Ia tidak bisa diikat dengan sebuah peraturan yang mewajibkan harus begini dan begitu.

Jadi, siapa sesungguhnya yang bermasalah?

29 Januari 2009

Pendidikan Anak ala Indonesia vs Jepang

Bro & Sis,

Kemaren ane menegur Bu Lik. Itu tuh, pengasuh anak kelima kami, Irfan (2 th). Habisnya dia salah sih, dalam mendidik Irfan. Ceritanya siang itu seperti biasa, sepulang menjemput istri bekerja, kami mampir ke Bu Lik untuk mengambil Irfan. Nah, begitu melihat kami datang, ia pasti berlari menghambur ke pelukan uminya.

Sayangnya siang itu Irfan terlalu kenceng berlari hingga terjatuh. Mungkin saking kangennya kali ya? Reflek si Bu Lik tadi berlari menghampiri Irfan dan menggendongnya. Lantas untuk menghentikan tangisnya, ia pun memukul-mukul lantai sambil berujar, "Kodoke nakal ya, biar ibu pukul! He kodok, jangan nakal sama Irfan lagi. Rasakan ini!" dan... plak-plok-plak-plok!

Sepintas tindakan Bu Lik itu dibenarkan. Namun sebenarnya itu salah dalam kacamata pendidikan anak. Parahnya lagi, salah kaprah itu sudah turun-temurun tujuhpuluhtujuh generasi. Bisa dibayangkan, seperti apa karakter anak itu kelak?

Pertama, ia dididik untuk mencari kambing hitam (kasihan tuh si kambing, enakan disate ya?) atau kodok hitam atau sebangsanya yang item-item untuk pelampiasan. Jadi si anak diajari bahwa 'kamu tidak salah, yang salah tuh pihak lain', anak tidak diajari tanggung jawab.

Kedua, anak dididik untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Lihat gaya Bu Lik tadi memukul lantai (kalau ini, yang seneng tukang batu, bakal dapat order betulin lantai nih).

Ketiga, 'kasih sayang' yang diberikan ketika anak dalam masalah justru mengakibatkan 'rasa ketergantungan' yang akut, tidak mendidik anak untuk mandiri.

Ane jadi ingat cerita seorang kawan yang pernah hinggap di Jepang. Di sana, penanganan kasus seperti itu sungguh berbeda. Nih, penuturannya:

Suatu sore saat saya duduk ngopi di sebuah taman kota, terdengar tangisan seorang anak balita memecah keheningan. Sang ibu yang telah beberapa langkah di depan anak tersebut segera menghentikan langkahnya, menoleh dan tetap diam (Wah, tega amat nih! Eit, jangan su'uzhon dulu!). Si anak yang tergores lututnya dan sedikit berdarah itu semakin menjadi tangisnya. Namun hal itu tidak menggoyahkan ibunya yang tetap berdiri diam di tempatnya, tak sesenti pun mendekati si anak, apatah lagi menggendongnya. Boro-boro! Pun orang-orang yang ada di taman itu, sepertinya cuek saja. Sampai beberapa lama, akhirnya sang anak berdiri sendiri, tangisnya sudah agak mereda. Kemudian si ibu mengulurkan tangannya. Sang anak pun meraih tangan ibunya dan melanjutkan perjalanannya, sambil sesekali terisak.

Subhanallah! Pantasan karakter orang Jepang itu: pekerja ulet, mandiri, tahan banting dan bertanggung jawab. Sementara kita???