Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Orang Lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman Orang Lain. Tampilkan semua postingan

21 Juni 2015

Mengambil Hikmah dari Musibah Kebakaran

Pagi-pagi sudah dioprak-oprak istri untuk segera mengantarnya ke acara pengajian. Karena istri sudah janjian dengan jamaahnya, sepulang pengajian mau silaturahim ke keluarga korban kebakaran kemaren. Wah, musti bersegera nih.
Biar nggak diomelin ya om?
Yaaah... maklum saja, karena jerih payahnya semalaman mensortir isi lemari memilah pakaian yang masih layak pakai supaya tidak sia-sia. Kita, para suami, musti mengapresiasinya toh? Lagian, nyenengin hati istri kan pahalanya berlipat lipat tuh di bulan puasa ini... :blush:
Adalah Munari Wibowo (50), warga gang Dukuh Gudang jalan Progo RT 01 RW 03 Kota Pekalongan beserta keluarganya, terpaksa merelakan hidup menumpang di rumah pak RW. Karena tiga hari lalu rumah dan seluruh isinya ludes dilalap si jago merah saat mereka hendak sholat tarawih.
Penghidupan Munari hanya sebagai penarik becak. Dibantu istrinya yang seorang ibu rumah tangga sederhana, membuat kehidupan mereka di bawah garis kemiskinan. Alasan itulah yang menyebabkan Munari lebih memilih menggunakan kayu bakar untuk memasak. Padahal jatah kompor gas dan tabung gas 3kg juga dapat.
"Tidak cukup mas, sudah saya coba," jawab ayah 7 anak ini ketika saya tanya alasan tidak menggunakan gas. "Makanya saya rela mengumpulkan kayu bakar selepas narik becak," mantan penjaga malam di sebuah kampus swasta Pekalongan ini menambahkan. Tidak tiap hari Munari mencari kayu bakar. Setelah dirasa cukup stok kayunya, ia pun konsentrasi menarik becak. "Kadang ada yang memberi (kayu-kayu sisa bangunan)," ujarnya menutup pembicaraan.
Munari merasa sudah mematikan api dengan menyiramkan air ketika hendak pergi ke mushola. Bara kecil di bawah wajan luput dari perhatiannya. Rupanya, bara yang tersisa dari aktivitas memasak sebelum berbuka puasa tadi itulah pangkal musababnya...
Malam itu, semua warga Dukuh Gudang sedang bersiap-siap pergi ke mushola. Tak terkecuali keluarga Munari. Apalagi rumah Munari hanya selisih 2 rumah dari mushola, dan dialah yang bertugas menjadi bilal.
Sesaat setelah Munari mengumandangkan iqamat, para jamaah segera merapikan shaf dan sholat isya' pun dimulai oleh sang imam. Tiba-tiba terdengar kegaduhan pada shof paling belakang. Lama-lama kegaduhan itu semakin jelas dan membuat konsentrasi jamaah buyar.
"Kebakaran! Kebakaraann!! Kebakaraaannnn!!!" teriak seseorang. Teriakan itu otomatis membubarkan prosesi sholat isya yang baru saja dimulai. Seisi mushola kontan berhamburan ke arah sumber cahaya yang lama-lama menjulang dan terang benderang.
Ada yang ngomando, yang lain ambil ember dan alat seadanya, ada yang mulai menyiram, bahkan dengan air got sekalipun. Sebagian kaum ibu malah panik dan mondar mandir tidak karuan. Pak Topo, salah satu tokoh masyarakat, langsung insiatif menelpon blangwir alias Dinas Pemadam Kebakaran.
Markas blangwir yang berjarak hanya beberapa ratus meter itu tidak membuatnya cepat datang. Entahlah, mungkin ada banyak faktor teknis ataupun birokrasi yang musti dilalui? Padahal kalau ditempuh dengan jalan kaki saja tidak sampai 10 menit.
Kurang dari setengah jam, sang api sudah melalap habis rumah Munari. Beberapa saat kemudian 4 mobil damkar tiba, namun tidak bisa langsung bekerja. Pak Topo yang tadi menelepon, langsung mendekati salah seorang petugas damkar. Oleh petugas, pak Topo diminta menelepon PLN guna memutus arus di wilayah itu. Karena sangat berbahaya jika semprotan air damkar menyentuh kabel berarus.
Tanpa buang waktu, pak Topo langsung menelepon PLN. Akhirnya setelah arus diputus, petugas damkar mulai bekerja. Karena api sudah padam sejak tadi, semprotan damkar hanya memadamkan bara yang tersisa.
Dari musibah ini, saya mendapatkan hikmah yang luar biasa:
1. Kebijaksanaan pemerintah terkadang tidak efektif dan efisien di tataran grass root.
2. Dalam kondisi force majeur, sholat wajib sekalipun boleh dibatalkan (tapi nanti tetap diulang ya..)
3. Senantiasa membawa hp dan menyimpan nomor-nomor penting, seperti nomor kantor polisi, damkar, PLN dsb, sangat berguna di saat darurat (jangan lupa, isi pulsa terlebih dahulu)
4. Jangan panik ketika terjadi kebakaran. Langkah pertama: hubungi damkar, selanjutnya: PLN. Jangan sampai damkar sudah datang tapi tidak bisa langsung bekerja.
.
Begitulah pemirsa, secuil peristiwa yang sempat saya potret. Semoga kita semua terhindar dari musibah apa pun. Namun jika pun musibah itu menimpa kita, syukur dan sabar adalah langkah terbaik supaya kita bisa langsung *move on*.
Seperti kulihat pagi tadi di raut wajah pak Munari. Beliau telah berhasil mengikhlaskan semua miliknya. Semoga Allah SWT mengganti hartamu pak Munari, dengan ganti yang banyak dan lebih baik...

10 Juni 2015

Kopdar "Roadshow" Komunitas Bukalapak Semarang

Saya dan om Eko Juragan Lampu


Bima dan Dani, putrane om Har Juragan Tas Kamera Semarang
Putrane om Eko Rezastore

10 Februari 2015

Hafidz Telah Menemukan "Mesin Waktu"nya

Hafidz (alm) dan kakak perempuannya
Sepulang menjemput anak keempatku, kami langsung menuju ke rumah Rahma, teman sesama SEFTer, di desa Mayangan, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Sebetulnya keinginan ke sana sejak mendengar kabar adiknya, Hafidz (16) dikabarkan hilang. Hafidz adalah siswa kelas X SMALB Negeri Wiradesa yang terseret arus sungai Pencongan, Selasa (3/2) lalu.

Tim SAR dan kepolisian yang mencoba menyisir DAS Pencongan hingga ke pintu air dekat muara tak kunjung mendapatkan hasil. Akhirnya pada H+3 upaya dihentikan. Tim SAR menyerah, keluarga pun pasrah.

Kabar mengejutkan Ahad (8/2) kemarin. Hafidz ditemukan di pantai Kartini, oleh tim SAR Jepara! Masya Allah, itu sama dengan perjalanan 170 KM!!! Jenazah Hafidz begitu datang, langsung masuk keranda dan disholatkan di masjid. Ia dimakamkan jelang maghrib, hari itu juga.

Hari ini, kutuliskan kisah Hafidz, dari penuturan Rahma, kakak perempuannya...

Sehari sebelum hilang di sungai Pencongan, Hafidz menunjukkan perilaku aneh. Ia silaturahim ke seluruh paman dan bibinya untuk meminta maaf. Ia juga minta potong rambut dan mandi keramas. Beberapa kali diskusi dengan kakaknya, temanya seputar "Mesin Waktu". Rupanya selepas menonton film Kiamat 2012, ia sangat terobsesi dengan sang mesin waktu ini. Ia menghayalkan untuk membeli mesin ini. Ketika diyakinkan bahwa itu cerita fiktif, yang hanya ada di film, ia bersikeras bahwa mesin itu benar-benar ada.

"Adanya di Amerika, Mbak... Memang di sini tidak ada yang jual. Nanti adik mau beli di sana ah..." begitu jawabnya.
Ketika sang kakak bertanya, "Kenapa sih, adik pengin sekali beli mesin waktu?"
"Biar bisa menemui ayah dan ibu, mbak... Adik mau minta maaf sama ayah dan ibu. Adik banyak berbuat dosa pada ayah..." jawabnya lugu.

O ya, sebagai informasi, mereka berdua sudah yatim piatu sejak dua dan satu tahun terakhir. Karenanya, satu-satunya tempat curhat Hafidz adalah Rahma, sang kakak. Mereka berdua tinggal di rumah peninggalan orang tuanya di desa Pencongan Wiradesa.

Rupanya, Selasa pekan lalu itu, ia telah menemukan sang "mesin waktu". Dan hari itu, bagi kakak satu-satunya, menjadi hari kelabu. Selamat jalan Hafidz, engkau sekarang pasti telah bahagia, bisa meminta maaf pada ibu dan ayahmu...

21 Desember 2013

Tak Kusangka SEFT Bisa Bekerja Otodidak

Masih ingat tentang kalender SEFT yang saya disain tempo hari? Monggo, bagi yang belum pernah melihatnya, silakan dilihat kalender. ini...

Kesaksian ini disampaikan oleh temannya Andrew, sebut saja Bunga. Begini ceritanya...

Waktu itu Bunga sedang memprospek seorang temannya yang sedang menderita sakit: tertimpa kursi kayu pada jari kakinya hingga bengkak dan infeksi. Sudah beberapa hari ini teman Bunga tersebut tidak bisa berjalan normal. Bagaimana jalannya? Menurut penuturan Bunga, temannya ini mengesot. Ha? Ya, persis seperti film Suster Ngesot itu. Pernah nonton? Nggak? Sama dong. Hehe...

Nah, karena si Bunga ini yakin akan 'keampuhan' SEFT --walaupun dia sendiri belum pernah ikut Training SEFTnya-- maka dia bersikeras mengajak temannya ini untuk ikut training. Eh, atau jangan-jangan, karena motivasi ekonomi? Entahlah, jangan kita pikirkan itu. Yang jelas, Bunga tidak berhasil membujuk teman ngesotnya ini. Alih-alih berhasil, Bunga justru didebat habis saat promosi ajakannya. Hingga akhirnya Bunga merasa kewalahan dan menyudahi perdebatannya dengan kalimat, "Ya sudah, ini kalendernya, semua ada di sini. Silakan baca sendiri!"

Rupanya teman si Bunga ini tipe jaim. Dibawa kalender itu dan beringsut masuk kamar. Selang beberapa saat, tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam kamar, "Alhamdulillah! Aku bisa berdiri! Lihat, bahkan aku bisa loncat-loncat!!"

Kontan orang-orang bergegas menuju kamar, termasuk Bunga yang belum pulang pamitan. "Ada apa ini?" kata orang-orang penasaran. "Lihat, aku bisa lompat sekarang!" jawab teman Bunga dengan mata berbinar. "Lho kok bisa, Mas?" Bunga dan orang-orang pun semakin penasaran. "Iya... Aku ikuti petunjuk yang ada di kalender ini... Aku tapping-tapping sendiri sesuai urutan di kalender," teman itu pun menjelaskan dengan penuh kesyukuran.

Subhanallah... saya yang mendengar kisah ini pun turut terharu, bangga dan bersyukur. Betapa tidak, kalender yang saya desain itu bisa 'menyembuhkan' penderitaan orang. Alhamdulillaah ya Allah...

10 Februari 2013

Jika Kecewa Mencengkeram Jiwa Anda

Hati-hati dengan orang yang merasa kecewa dengan Anda. Namun Anda tidak perlu terkooptasi dengan segala reaksi yang dia berikan. Anggaplah orang tersebut sedang memberikan "ilmu hikmah" tersendiri buat Anda secara gratis.

Seperti yang dialami seorang sahabat saya hari ini. Beliau adalah seorang Kepala Sekolah di sebuah SMP swasta di kotaku. Sepekan yang lalu beliau baru saja memberhentikan salah seorang karyawannya, atas permintaan sendiri. Konon sang karyawan ini merasa kecewa dengan keputusan yang diambil oleh sahabat saya tadi. Sayangnya, sang karyawan ini mengakhiri hubungan kerjanya dengan tidak happy ending; dalam kondisi marah dan pakai acara merusak properti segala.

Ternyata walau sudah sepekan lewat, rasa kecewa sang karyawan ini belum juga reda. Ia masih menyimpan dan bahkan mengipas-kipas baranya. Puncaknya, hari ini dia melakukan teror kepada karyawan lain, disertai ancaman. Tujuannya agar para koleganya juga mengikuti jejaknya: keluar dari pekerjaannya.

Parahnya, sang karyawan kecewa ini juga meneror beberapa tukang yang kebetulan sedang membangun masjid di sekolah itu. Tak urung teror ini sempat mempengaruhi suasana kerja para tukang tersebut. Maklumlah, mereka -para tukang itu- semuanya pendatang. Mendapat teror dari dari karyawan kecewa yang warga asli di daerah itu, mereka shock juga. Bahkan memohon kepada juragannya untuk ditarik pulang ke daerahnya alias menghentikan tugasnya yang baru saja dimulai.

Sahabat saya tidak membiarkan hal ini berlarut-larut. Pertama menenangkan para tukang agar tetap tenang dan jangan terpengaruh dengan teror yang ada. Sembari meyakinkan bahwa tidak ada yang dapat mencelakai atau menentukan nasib kita kecuali atas kuasa Allah SWT semata. Kedua, mengantisipasi jika mantan karyawannya tadi melakukan aksi susulan.

Di balik langkah taktis tadi, sahabat saya ini sebenarnya sangat yakin, bahwa mantan karyawannya itu hanya besar mulut saja. Sesungguhnya ia tidak sekuat atau seberpengaruh seperti yang dikoar-koarkannya. Andaikan apa yang ia koar-koarkan benar-benar terjadi alias sampai terjadi penganiayaan fisik, maka justru hal ini akan lebih mudah proses hukumnya.

28 Februari 2012

Setting Signature Email di BlackBerry

Mulanya saya penasaran, bagaimana sih, cara mengubah signature email. Biasanya, dari handheld BB, kita akan dapati signature default (nilai dari sono) nya seperti ini (sesuai operatornya masing-masing):

Sent from my BlackBerry® smartphone
from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT



Nggak asyik kan? Akhirnya tanpa kenal malu, saya bertanya ke milis yang saya ikuti. Alhamdulillah ada yang berbaik hati memberi tahu. Hanya sayang, beliau menganggap saya sudah familiar menggunakan gajet BB ini. Weleh, padahal baru kemaren sore nih...

Di tengah rasa penasaran dan pusing mengikuti petunjuk tadi, masuklah email dari orang kedua. Nah, yang ini lebih tepat sasaran. Saya praktekkan dan.... langsung berhasil... Hore... Berhasil... (Husy, saru, kayak Dora the Explorer aja, hehe...). Alhamdulillaah, ding....

Namun, ternyata, cara kedua yang menurut saya cukup gamblang, bagi orang lain masih dirasa membingungkan juga. Terbukti ada yang malu-malu men-japri saya, intinya beliau masih bingung mengikuti petunjuk orang kedua tadi. Akhirnya dengan i'tikad berbagi (kan, semakin diajarkan, ilmunya akan semakin berkah to?), saya buat tutorial sederhana ini. Mudah-mudahan bermanfaat bagi para BB-newer  :-)

Selamat menikmati step by step-nya....

1. Dari tampilan utama (Homescreen) BB Anda, tekan tombol berlogo BB (di samping trackpad atau trackball)
















2. Maka akan muncul tampilan ini:
















3. Pilih folder berlogo GEAR warna hijau (yaitu folder SETUP), maka berikutnya tampil:
















 4. Pilih EMAIL SETTING  (ikon amplop surat ber-gear), akan muncul tampilan berikut:
















5. Tunggu sebentar hingga proses selesai. Jika sudah, tampilannya menjadi:
















6. Tinggal pilih, email mana yang mau di-set signature-nya. Sebagai contoh di atas, saya punya 3 akun email: Gmail, XL dan Ymail. Nah, saya akan menyetting yang Gmail dulu. Sorot emailnya, kemudian tekan trackpad / trackball. (Tombol ADD tidak usah di-utak-atik, karena itu hanya untuk menambah akun email baru). Tampilannya sebagai berikut jadinya:
















7. Pilih menu EDIT, maka akan muncul penampakan....
















8. Arahkan trackpad / trackball Anda ke bawah, maka....
















Nah, itu dia KOTAK SIGNATURE-nya.... Silakan ganti teks yang ada dengan yang Anda kehendaki. Jangan lupa jika sudah selesai, klik SAVE ya...

Selamat! Kini signature Anda telah "Anda Banget"
Hm....

11 Januari 2012

Selamat Hari Mendongeng Nasional!

Kak Bimo in action
Dongeng, ia mampu melekatkan tali kasih yang telah lekang antara orang tua dengan anak, menjadi obat kerinduan. Bahkan dongeng pun bisa menjadi satu lapisan batin yang kuat pada jiwa anak, sehingga mereka mencintai kebaikan dan kebenaran, serta menjauh dari kebatilan-keburukan. Kita terus membutuhkan cerita atau dongeng yang apik dan menggerakkan anak-anak negeri kita untuk mencapai martabat yang luhur, disegani kawan ataupun lawan, siap tanding maupun sanding.
(Kak Bimo; Pekerja Dongeng Indonesia)


Baru tahu kalau hari ini, 11 Januari, dinobatkan sebagai Hari Mendongeng Nasional. Kutipan Kak Bimo di atas sangat menggugah. Saya jadi teringat nasihat beliau tahun silam; bahwa jika ingin membentuk karakter generasi penerus negeri ini menjadi hebat, maka cekoki mereka dengan dongeng-dongeng bermutu. Karena, 20 tahun kemudian, ruh dongeng itu akan menjelma menjadi akhlaq mereka kelak.

Kak Bimo pernah memaparkan, ada sebuah penelitian terhadap dongeng (cerita rakyat) yang beredar 20 tahun lalu di dua negara (saya lupa namanya). Sebut saja Negara A yang saat itu dalam kondisi tertindas, dan dongeng-dongeng yang dituturkan kepada anak-anak negeri itu seputar kisah kepahlawanan, heroisme, optimisme untuk bangkit dan cerita sejenis yang bervisi. Ternyata 20 tahun kemudian negara itu bisa merdeka dari penindasan, bahkan mengalami kemajuan dan kemakmuran yang luar biasa.

Sementara di negara B yang tingkat kesejahteraan rakyatnya relatif lebih makmur saat itu, sehingga dongeng-dongeng yang beredar lebih meninabobokan rakyatnya. Apa yang terjadi 20 tahun kemudian? Ternyata tingkat kemakmuran negeri itu malah merosot tajam dan dapat disaingi oleh negara A tadi.

Saya jadi terperangah. Jangan-jangan amburadulnya negeri kita tercinta ini gara-gara dongeng yang beredar puluhan tahun lalu menanamkan kebobrokan moral? Simak saja dongeng paling masyhur di tanah Jawa: "Kancil Nyolong Timun". Kenapa musti harus nyolong jika bisa bicara baik-baik dengan Pak Tani untuk memintanya? Atau, mengapa tidak kita buat skenario: Sang Kancil minta diajari Pak Tani bercocok tanam timun yang baik dan benar. Sehingga nantinya bisa menghasilkan timun yang berkualitas super dan Kancil tak perlu nyolong lagi? Hayo, siapa mau mendongeng "Kancil Jadi Exportir Timun?"

Mudah-mudahan ini menginspirasi kita. Saya yakin masih banyak anak negeri yang benar-benar mencintai negeri ini dan berkeinginan kuat mewujudkan cita-cita luhur bangsa. Maka segeralah kita mulai "menularkan virus" dongeng pembangkit semangat ini kepada anak-anak kita. Dengan semua media dan sumber daya yang kita punya, mari bersama menuturkan dongeng motivasi itu, sekarang!

SELAMAT MENDONGENG, INDONESIA!

03 Desember 2011

Finlandia, Potret Pendidikan Terbaik di Dunia

Bro & Sis, banyak yang belum tahu bahwa Finlandia merupakan negara yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia!

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA; mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No.1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa, tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau membombardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam per minggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam per minggu.

Lalu apa dong kuncinya ?. Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingannya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!. Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi, tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.

Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 tahun, siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab, mereka akan bekerja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya : Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah!" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.


[Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich]

29 November 2011

Sekali Waktu, Tengoklah Status Facebook Anakmu

Facebook, ibarat mata pisau, ia bisa sangat bermanfaat namun juga bisa sangat berbahaya. Tergantung kepada siapa yang 'memegangnya'. Karenanya bijaksanalah dalam memanfaatkan jejaring sosial ini. Bagaimana dengan putra-putri kita?

Bro & Sis, ane nemu catatan bro Mohammad Fauzil Adhim (pakar parenting) ini, nampaknya sangat bagus untuk kita renungkan, terutama bagi antum yang punya anak usia ABG. Selamat menikmati.
***

Sekali Waktu, Tengoklah Status Facebook Anakmu

Jelajahilah alam pikirannya. Pahamilah apa yang sedang terjadi padanya. Dan bersiap-siaplah untuk terkejut disebabkan apa yang berharga bagi hidupnya, membanggakan dirinya, menyenangkan hatinya dan menjadi keinginannya justru perkara yang kita membencinya. Mereka sangat berhasrat justru terhadap apa-apa yang kita ajarkan kepada mereka untuk menjauhi. Astaghfirullahal ‘adzim.

Sekali saat, periksalah status Facebook anak-anakmu. Ketahuilah apa yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Rasakan apa yang menjadi keinginan kuatnya. Rasakan pula yang membuatnya terkagum-kagum. Dan bersiap-siaplah untuk terperangah jika anak-anak itu lebih fasih mengucapkan kalimat-kalimat yang tak berharga, ucapan yang tak bernilai, pembicaraan yang mendekatkan kepada maksiat, dan bahkan ada yang mendekati kekufuran. Mereka berbicara kepada kita dengan bahasa yang kita inginkan, tetapi mereka membuka dirinya kepada manusia di seluruh dunia dengan perkataan-perkataan ingkar. Mereka menyiarkan keburukan dirinya sendiri, tetapi mereka tidak menyadarinya. Astaghfirullahal ‘adzim.


Kalau suatu saat ada kesempatan, cermatilah apa yang ditulis oleh anakmu, gambar apa yang ditampilkan dan siapa yang dielu-elukan di Facebooknya. Sadari apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada diri mereka. Ketahui perubahan apa yang menerpa jiwa mereka. Dan bersiaplah untuk terkejut bahwa apa yang tampak di depan mata tak selalu sama dengan apa yang terjadi di belakang kita. Mereka bisa bertutur tentang keshalihan karena berharap terhindar dari kedukaan atau bahkan kemurkaan kita. Tetapi diFacebook, mereka merasa merdeka mengungkapkan apa pun yang menjadi kegelisahan, keinginannya dan kebanggaannya yang benar-benar terlahir dari dalam diri mereka.

Beberapa waktu saya memeriksa akun Facebook anak-anak SDIT, alumni SDIT dan mereka yang masih belajar di SMPIT maupun SMAIT. Hasilnya? Sangat mengejutkan. Harapan saya tentang isi pembicaraan anak-anak yang telah memperoleh tempaan bertahun-tahun di sekolah Islam terpadu itu atau yang sejenis dengannya adalah sosok anak-anak yang hidup jiwanya, cerdas akalnya, tajam pikirannya dan jernih hatinya. Tetapi ternyata saya harus terkejut. Sekolah-sekolah Islam itu ternyata hanya mampu menyentuh fisiknya, tetapi bukan jiwanya. Betapa sedih ketika melihat anak-anak yang dulu jilbabnya besar berkibar-kibar, hanya beberapa bulan sesudah lulus dari SDIT atau SMPIT, sudah berganti dengan busana yang menampakkan auratnya dan ia perlihatkan kepada orang lain melalui foto-foto yang mereka pajang di Facebook.

Tentu saja saya tidak dapat mengatakan bahwa pendidikan Islam terpadu, integral atau apa pun istilahnya telah gagal total. Tetapi apa yang dapat dengan mudah kita telusuri dari tulisan mereka di Facebook maupun media sosial lainnya memberi gambaran betapa kita perlu berbenah dengan segera. Selagi aqidah, akhlak dan secara umum agama ini hanya kita sampaikan secara kognitif, maka tak banyak perubahan yang dapat kita harapkan. Jika yang kita berikan adalah pelajaran tentang agama, dan bukan pendidikan beragama yang dikuati oleh budaya karakter yang kuat di sekolah, maka anak-anak itu mampu berbicara agama dengan fasih tapi tidak menjiwai. Tak ada kebanggaan pada diri mereka terhadap apa-apa yang datang dari agama; apa-apa yang menjadi tuntunan Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Astaghfirullahal ‘adzim. Na’udzubillahi min dzaalik.

Lalu apa yang merisaukan dari anak-anak itu? Sekurangnya ada tiga hal. Pertama, cara mereka berbahasa. Ini menggambarkan alam berpikir sekaligus kesehatan mental mereka. Kedua, sosok yang mereka banggakan dan mereka elu-elukan kehadirannya maupun tingkah-lakunya. Sosok yang menjadi panutan (role model). Ketiga, nilai-nilai dan keyakinan yang mereka banggakan sehingga mempengaruhi sikap dan perilaku mereka, meskipun tak tampak di mata orangtua dan guru.

Betapa Mengenaskan Bahasa Mereka

Salah satu kelebihan Bani Sa’diyah adalah kefasihannya berbahasa. Kepada Halimah dari Bani Sa’diyah Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam disusukan, sehingga masa kecilnya memperoleh pengalaman berbahasa yang baik. Tampaknya sepele, tetapi bagaimana kita berbahasa sangat mempengaruhi pertumbuhan mental dan perkembangan cara berpikir.
Adalah Alfred Korzybski, ahli semantik asal Rusia yang menunjukkan bahwa cara berbahasa yang salah berhubungan erat dengan mental yang sakit pada masyarakat. Terlebih jika kesalahan serius dalam berbahasa itu secara intens dilakukan oleh seseorang, utamanya lagi yang masih dalam tahap perkembangan sangat menentukan, yakni anak atau remaja. Dan kondisi mengenaskan inilah yang sedang terjadi pada anak-anak kita; dalam pergaulan dan terutama terlihat dari SMS maupun status facebook mereka.

Mari kita ingat kembali ketika Lev Vygotsky, seorang psikolog yang juga asal Rusia. Ia menunjukkan bahwa apa pun kecerdasan yang ingin kita bangun, kuncinya adalah bahasa. Ia juga menunjukkan betapa erat kaitan antara bahasa dan pemikiran. Penggunaan bahasa mempengaruhi cara berpikir. Siapa diri kita tercermin dari bagaimana kita berbahasa. Sebaliknya, cara kita berbahasa akan berpengaruh besar terhadap diri kita.

Nah, lalu apa yang bisa kita katakan terhadap anak-anak yang berbahasa alay dan berbicara dengan perkataan yang tak berguna penuh sampah? Sungguh, tengoklah status Facebook dan SMS mereka. Dan bersiaplah terkejut dengan apa yang terjadi pada diri mereka. Khawatirilah apa yang akan terjadi pada diri mereka di masa-masa mendatang.

Astaghfirullah. Laa ilaaha illa Anta subhanaKa ini kuntu minazh-zhaalimin.

Bukan Rasulullah Saw. yang Mereka Kagumi

Cara berbahasa mempengaruhi apa yang berharga dan apa yang tidak. Sulit bagi seseorang untuk mengagumi dan menjadikan seseorang yang cara berbahasanya sangat berbeda –apalagi bertolak-belakang– sedang sosok yang ingin mereka tiru, mereka banggakan dan mereka pelajari kehidupannya. Maka jangan heran jika mereka lebih terharu-biru oleh Justin Bieber daripada para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in. Jangan terkejut pula jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam justru sosok yang sangat asing bagi mereka. Ironisnya, anak-anak yang seperti itu justru banyak lahir dari lembaga-lembaga Islam; sejak jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Apa pengaruhnya? Jika Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi sosok panutan (role model) yang mereka banggakan, maka mereka akan berusaha untuk mempelajari jejak-jejaknya, mengingati kata-katanya dan mencoba melaksanakan apa yang mereka mampu dalam hidupnya. Mereka juga bangga terhadap orang yang meniru sosok panutannya. Itu juga berarti, jika sosok panutan mereka adalah Justin Bieber atau Lady Gaga, maka atribut, kata-kata dan segala hal yang berkait dengan mereka akan mereka buru dengan penuh kebanggaan. Mereka juga berusaha mengidentifikasikan diri dengan sosok panutannya.

Na’udzubillahi min dzaalik. Laa haula wa laa quwwata illa biLlah.

Pacaran Online Pun Terjadi

Maka, jangan terkejut jika anak-anak alumni SDIT yang masih belajar di SMPIT atau sekolah Islam sejenis justru amat liar pikirannya. Jangan terkejut juga jika menemukan anak seorang ustadz asyik pacaran online, mengungkapkan perasaan yang tidak sepatutnya ia ungkapkan kepada lawan jenis, apalagi membiarkannya diketahui oleh orang banyak. Sungguh, kemaksiatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi lebih ringan nilainya dibanding kemaksiatan yang ia umumkan sendiri.

Ingin sekali berbincang lebih panjang. Tetapi tak tega rasanya berbicara blak-blakan tentang masalah ini.

Semoga catatan sederhana ini dapat menjadi pengingat untuk kita semua. Semoga Allah mudahkan kita menempuh kebaikan. Semoga pula Allah Ta’ala menjaga iman kita dan anak-anak kita.

Sebelum kita akhiri perbincangan ini, mari sejenak kita ingat firman Allah ‘Azza wa Jalla:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُواْ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافاً خَافُواْ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللّهَ وَلْيَقُولُواْ قَوْلاً سَدِيداً
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa’: 9).

Wallahu a’lam bishawab

28 November 2011

Sekedar Mengingatkan

Bagi Bro & Sis yang masih suka menggunakan kata :

''Ass, Askum'' dalam ucapan salam (lisan maupun sms).
''Mohd'' untuk panggilan nama Nabi Muhammad.
''Mosque'' untuk panggilan sebuah masjid.
''4JJI'' untuk menulis lafadz Allah SWT.
''Mecca'' untuk sebutan Mekah.

Jika kita seorang Muslim atau Muslimah, alangkah baiknya mengindahkan hal yang mungkin kita anggap kecil tapi besar makna dan pengaruhnya. Gunakan sesuai dengan aturannya yuuuk...

  • Janganlah bilang Mosque tapi tetap gunakan kata MASJID, karena sebuah Organisasi Islam menemukan bahwa Mosque berasal dari kata "mosquito" yang berarti "nyamuk".
  • Jangan menulis MECCA tapi MEKAH, karena MECCA adalah "rumah anggur/bir".
  • Jangan menulis MOHD tapi MUHAMMAD, karena Mohd adalah "anjing bermulut besar".
  • Jangan menulis 4JJI tapi ALLAH SWT, karena tulisan "4JJI" artinya "For Judas Jesus Isa al masih".
  • Jangan menulis Ass atau Askum dalam salam tetapi lengkapilah dengan ASSALAAMU'ALAIKUM (karena salam adalah doa, atau jika tidak sempat lebih baik tidak sama sekali), karena "Ass" artinya (maaf) "pantatmu", dan "Askum" artinya "celakalah kamu".

Maka sampaikanlah salam karena itu DOA, minimal Assalamu'alaikum.

O ya, satu hal lagi tentang penulisan dan pelafadzan AMIN:

Dalam Bahasa Arab, ada empat perbedaan kata “AMIN” yaitu :

  1. AMIN (alif dan mim sama-sama pendek), artinya AMAN, TENTRAM
  2. AAMIN (alif panjang & mim pendek), artinya MEMINTA PERLINDUNGAN KEAMANAN
  3. AMIIN (alif pendek & mim panjang), artinya JUJUR TERPERCAYA
  4. AAMIIN (alif & mim sama-sama panjang), artinya YA TUHAN, KABULKANLAN DOA KAMI

Terus, bagaimana dengan pengucapan/penulisan "Amien"?

Sebisa mungkin untuk yang satu ini (Amien) dihindari, karena ucapan “Amien” yang lazim dilafadzkan oleh penyembah berhala (Paganisme) setelah do’a. Ini sesungguhnya berasal dari nama seorang Dewa Matahari Mesir Kuno: Amin-Ra (atau orang Barat menyebutnya Amun-Ra)

Semoga bermanfaat!

[terima kasih sahabat FB-ku yang telah berbagi]

23 November 2011

Kecewa

Bro & Sis, pernahkah antum merasa kecewa? Tentu masing-masing pernah merasakan kekecewaan dengan latar belakang yang beragam. Semisal yang dialami Paul -sebut saja begitu- teman ane. Paul memiliki putra yang mondok di sebuah pondok pesantren tahfidzul qur'an. Usia putranya sekitar 14 tahun, masih duduk di kelas 7 SMP.

Ponpes putranya Paul ini rupanya pondok baru, belum ada 3 tahun berjalan dan belum memiliki aset apa pun, kecuali seorang ustadz dan semangat. Fisik pondoknya sendiri adalah 'belas kasihan' dari sebuah madrasah yang 'kurang diminati'. Kebetulan ada beberapa lokal di bagian belakang yang nganggur. Daripada tidak digunakan, lebih baik di-hibah-pakai-kan ke yayasan pengelola pondok tahfidz tadi. Mungkin begitu yang ada di benak pengelola madrasah tadi.

Singkat cerita putranya Paul baru 2 tahun mondok di sana. Saat ini hafalannya baru: juz 30, 29, 28 dan sebagian juz 1, itu pun tidak sempurna. Padahal waktu awal masuk, diprogramkan pada tahun pertama santri akan digenjot untuk hafal 20 juz! Semangat banget bukan?

Beberapa waktu lalu Paul curhat, bahwa kini putranya telah dikeluarkan dari pondok. "Lho, apa pasal? Sepertinya kemarin waktu dijenguk, baik-baik saja?" tanyaku penasaran. Paul mengisahkan, suatu siang dia ditelepon pengasuh pondok yang menyampaikan bahwa putranya dikeluarkan gara-gara ketahuan merokok. Paul kecewa dengan putranya. Karena sang putra telah menyelewengkan amanahnya untuk belajar sungguh-sungguh di pondok tahfidz. Namun Paul lebih kecewa terhadap pengasuh pondok, karena langsung menjatuhkan "Talak 3" tanpa ada peringatan terlebih dahulu. Dan yang menambahi kekecewaannya, pemberitahuan itu hanya via telepon. Yang ketika hendak dikonfirmasi lebih detil lagi, telepon segera diputus. Kesannya, sang pengasuh takut pulsanya habis. Atau mungkin pengasuh tak mau meladeni pertanyaan Paul yang bertubi-tubi karena rasa penasarannya itu? Wallahu a'lam bish showab.

Di kesempatan lain mungkin Bro & Sis pernah merasa kecewa dengan orang yang  Bro & Sis jadikan panutan, idola atau sejenisnya. Kecewa lantaran orang itu tidak bertingkah laku sebagaimana seharusnya dia berlaku. Apa yang hendak Bro & Sis ambil tindakan? Saran ane, tetap hormati dia sebagai insan yang berhak dinasihati. Berikanlah hak-hak itu dengan tetap mengedepankan kesantunan dan kelapangan dada kita. Perkara dia mau menerima nasihat atau tidak, itu bukan kewenangan kita, itu wilayah Allah SWT Sang Maha Membolak-balikkan hati hamba-Nya.

Maka, tetaplah berdakwah dalam bingkai ukhuwwah Islamiyah...

16 September 2011

Mantenan dan Etos Kerja

Wuih, judulnya muantep tenaan... Padahal isinya gak sesangar itu lho. Ane cuma mau berceloteh yang ringan aja. Gini, di kampung ane, musim syawalan (pasca lebaran) ini 'kan lagi musimnya orang punya gawe. Undangan walimahan (walimatul 'ursy alias walimah nikah) sampe setumpuk tuh.
Nah, yang menarik perhatian ane dari prosesi walimahan ini adalah MC-nya. Ya, si pengatur acara ini biasanya setelah membuka dan membacakan susunan acaranya, maka dia akan bilang "selanjutnya acara akan berjalan secara otomatis."  Ternyata tidak cuma komputer aja ya, yang bisa diotomatisasi, hehe... Jadi begitulah, usai sang MC membuka dan berjalan mata acara pertama (biasanya dengan membaca Surat Al Fatihah), acara akan bergulir otomatis. Bahkan para petugas, baik pembaca (Qori') tilawah Al Qur'an, sang Khotib (biasanya dirangkap) dan petugas pencatat nikah dan yang lain-lain sudah faham urutannya.
Weleh, enak bener tuh MC. Kerjanya di awal doang, padahal "bayarannya" penuh, hehe...Ane kuatirnya, pekerjaan-pekerjaan lain di luar MC nikahan akan ikut-ikutan. Jadi maunya kerjanya sedikit aja, tapi komisinya penuh. Maka Bro & Sis tidak usah heran kalau di negeri ini banyak orang kaya tanpa kerja nyata.
Sekarang tinggal kita mau tidak, negeri ini kembali ke skenario awal, yaitu untuk menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur? Kalau kita sepakat mau, maka para pekerja a la MC Nikahan itu harus kita ingatkan, untuk bekerja secara profesional dan sungguh-sungguh. Bekerja menuntaskan amanah profesinya masing-masing hingga tuntas, baru kemudian menuntut haknya. OK?

09 Juni 2011

Dan Korban Pun Mulai Berjatuhan...

[dari aktivitas perbaikan jalan]

Pagi tadi usai nganter Jundi ke SDIT Ulul Albab kuteruskan dengan mengantar si kecil ke PAUD Al Fikri. Di pertigaan Jl. Slamet - Jl. KHM Mansyur Pekalongan kulihat ramai kerumunan orang. O, nampaknya baru saja terjadi aksiden alias kecelakaan. Masih sempat terlihat olehku genangan darah yang sangat banyak. Aku gak sempat menyaksikan korbannya. Tapi dari jejak tumpahan darahnya bisa kupastikan orang itu meninggal.
Baru siangnya kuketahui, ternyata benar, seorang petugas polisi yang pagi itu sedang mengatur lalu lintas diseruduk truk dari arah selatan. Konon kepalanya pecah. Masya Allah...
Memang sejak Jl. Wilis diperbaiki beberapa waktu lalu, arus kendaraan besar dialihkan melalui Jl. KHM Mansyur. Sehingga ruas jalan yang biasanya normal mendadak padat dengan kendaraan kelas berat. Entah untuk berapa bulan lagi aktivitas perbaikan jalan itu selesai. Yang notabene, potensi jatuhnya korban laka lantas masih mungkin terjadi. Apalagi kalau melihat progressnya, sepertinya lambat banget.
Padahal baru Senin kemarin kudengar seorang siswi sebuah SMA Swasta di Pekalongan terlindas kepalanya oleh sebuah truk di depan Masjid Syuhada atau depan monumen Pekalongan. Penyebabnya sama, karena jalan di depan monumen itu sedang dikeruk, sehingga menyebabkan bergalur-galur dan banyak kerikil. Melintaslah sepasang pelajar mengendarai sepeda motor. Karena hendak menghindari rambu penunjuk arah di tengah jalan, si pengendara membanting stangnya, namun naas, sepeda motornya malah terjatuh. Si pengendara jatuh ke arah kiri dan hanya luka ringan, sementara temannya yang membonceng jatuh ke sisi kanan dan tepat berada di kolong truk yang sedang melintas.
Aku tidak tahu, bagaimana prosedur standar dalam proyek perbaikan jalan. Namun secara mata awam kulihat, potensi musibah akibat proyek ini sangatlah besar. Coba lihat, setelah aspal jalan dikeruk, menyebabkan guratan-guratan di permukaan jalan. Ini berpotensi menggelincirkan roda sepedamotor yang sudah gundul. Belum lagi kerikil-kerikil yang berserakan dan debu yang beterbangan, sangat mengganggu para pengguna jalan. Yang aku tak habis pikir, kenapa mengeruknya tidak bertahap, separuh lebar jalan dahulu baru jika sudah selesai, separuhnya lagi. Ini tidak, selebar permukaan jalan dikeruk semua, sudah gitu, tidak langsung difinishing melapisi ulang dengan aspal hotmix...

29 Mei 2011

Secuil Kisah Akhir Hayat Ustadzah Yoyoh Yusroh

[sumber dari akhi Sahal, staff ust. Anis Matta]

Hari itu, ustadzah Yoyoh Yusroh, suaminya ustadz Budi Darmawan beserta putranya yang lain dan seorang supir menempuh perjalanan pulang ke Depok. Keluarga berbahagia itu baru saja menyempurnakan kebahagiaan dan rasa syukurnya dengan menghadiri wisuda putranya di UGM Yogyakarta. Masih dalam suasana penuh syukur itu, mereka menyempatkan berbagi kebahagiaan dengan mengunjungi besannya di Solo sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
Subhanallah, rupanya Allah SWT sedang mencurahkan rahmatnya yang Maha Banyak pada keluarga pejuang dakwah itu. Karena pada hari itu juga khadimat mereka melangsungkan pernikahan di Tegal. Karenanya dalam perjalanan pulang itu mereka maraton silaturahim ke orang-orang terkasihnya. Usai dari Solo langsung meluncur ke Tegal untuk menghadiri walimah sang khadimat. Rasa lelah dalam perjalanan terhapus oleh curahan kebahagiaan.
Namun karena ada kewajiban mengisi halaqoh di Depok, ustadzah Yoyoh berkeinginan langsung pulang, tidak transit di Tegal. Subhanallah, dalam situasi yang mungkin kebanyakan kita akan dengan enteng beralasan untuk tidak menghadiri majelis liqo, beliau malah masih sempat memikirkannya (bhs Jawa: keron). Sebuah wujud komitmen seorang pejuang dakwah yang musti kita tiru: liqo' must go on, seperti apapun keadaannya!
Karena perjalanan yang melelahkan itu, sopir mengantuk. Sehingga di tengah perjalanan, posisinya digantikan putra beliau. Rupanya di sinilah takdir menjemput. Pada sebuah tikungan tajam di sudut Cirebon, musibah mengenaskan itu pun terjadi. Ketentuan Allah memang haruslah berlaku, walau kita tak menginginkannya.
Ustadzah Yoyoh dan suaminya terluka parah, juga para penumpang yang lain. Dengan tertatih sang suami menghampiri ustadzah Yoyoh. Apa yang dikatakan beliau? Beliau membisikkan sepenggal kalimat, "Bi, umi sudah sakaratul maut..." Dalam kepayahan menahan sakitnya sang suami tetap membesarkan hati istrinya. Sepanjang perjalanan evakuasi ke rumah sakit beliau terus menerus melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, dan di sela itu dengan bacaan syahadat. Berulang-ulang...
Tiga puluh menit usai penggal kalimat terakhir itu, beliau pun menghembuskan nafas terakhir. Rupanya kalimat itu menjadi kalimat perpisahan untuk sang suami tercinta. Beliau pulang ke rahmatullah dengan senyum kemenangan dan kepuasan.
Ikhwah fillah, jama'ah ini bukanlah tempat berkumpulnya malaikat. Ini adalah jama'ah manusia dengan segala sisi kemanusiaannya. Namun, dalam jama'ah inilah sosok wanita sederhana tersebut dapat berubah menjadi sosok wanita sholihah dan pejuang dakwah yang luar biasa. Kita kudu meneladaninya...
Selamat jalan ustadzahku... Allahu yarham wahai guruku yang mulia...

***

Berita terkait beliau, dapat disimak di:

26 Mei 2011

Goyang Bensin

Bro & Sis pernah lihat, di pom bensin orang beli bensin full tank dengan menggoyang-goyangkan sepeda motornya? Maksudnya mungkin agar bensinnya madet sehingga kapasitas tankinya maksimal. Orang itu pasti melupakan pelajaran fisika dasar di SD dulu. Lha wong benda cair kok disamakan dengan benda padat... Hehe.. ada-ada saja tuh orang

07 Mei 2011

Hukum 10.000 Jam

Bro & Sis pernah dengar judul di atas? Yuk kita simak tulisan Dr. Meliala ini.

Apa persamaan yang dimiliki para pemain kelas dunia, baik pemain musik, pencipta lagu, penulis, bahkan pelaku kriminal? Hukum 10.000 Jam!

Angka ajaib 10.000 jam adalah rata-rata waktu yang dihabiskan untuk berlatih dalam pencapaian kelas dunia. Banyak buku yang mempopulerkan Hukum 10.000 jam, namun istilah itu pertama kali dikemukakan oleh Anders Ericsson, seorang psikolog yang meneliti keberhasilan para pemain biola di Berlin Academy of Music. Dia menemukan bahwa para pemain biola yang penampilannya terbaik berlatih paling banyak dibanding kelompok terbaik kedua, dan seterusnya kelompok kedua berlatih lebih banyak daripada
yang terendah.

Mozart, diperkirakan, pada usianya yang ke-6 telah berlatih musik selama 3.500 jam di bawah bimbingan ayah kandungnya. Demikian pula pecatur prodigy Bobby Fischer berlatih keras selama 9 tahun sebelum meraih level grandmaster di usia 17.

10 ribu jam sama dengan berlatih 3 jam sehari selama 10 tahun. Waktu yang nampaknya cukup lama, oleh karena itu langkah pertama sangat penting: temukan apa yang anak/anda sukai.

18 Maret 2011

Sepertinya, Tidak Ada Status Saksi Di Mata Polisi

Ah, masa iya? Bukankah setiap memeriksa seseorang untuk dimintai keterangannya pasti diterapkan status saksi? Trus, adanya apa? Tersangka? Jangan ngawur ente, ah!
Tenang Bro... kalem Sis... Ini kisah nyata, kisah Apuk (panggil saja begitu), sahabat karibku yang apes beberapa waktu lalu.
Begini ceritanya. Malam Jum'at itu, dia menghabiskan waktunya untuk membina para pemuda di Pekalongan Selatan. Karenanya dia izin untuk tidak hadir dalam pertemuan rutin pekanan kami yang juga diadakan malam itu. Menurut ceritanya, sekitar jam 11 malam usai kegiatan pembinaannya, dia hendak pulang ke kosnya yang kebetulan melewati kantor tempat dia mengabdi selama ini.
Dia melihat pintu gerbang kantor masih terbuka dan beberapa koleganya sedang berkumpul di ruang satpam, menantikan acara favorit mereka. Karena disapa, mampirlah ia ke kerumunan itu. Ada kurang lebih 5 sampai 7 orang di sana: satpam, office boy dan beberapa pegawai lain.
"Dari mana, Puk?" sapa pak Satpam
"Ah, biasa Mas... Lagi pada kumpul-kumpul nih?" balas Apuk basa-basi.
"Ayo gabung ke sini... Nanti tidur di kantor saja, ngapain di kos sendirian," timpal yang lain.
"Gitu ya? Kebetulan aku capek banget nih hari ini... Sorry ya, mau langsung tidur saja," Apuk menolak ikut gabung nonton TV. Ia memilih beristirahat, karena badannya terasa lunglai setelah beraktivitas sejak pagi.
"Yo wis, sana ke lantai dua saja. Di sebelah ruang Kasi, enak Puk," pak Satpam menyilakan.
Tanpa malu-malu lagi Apuk langsung ngeloyor ke lantai dua dimaksud. Dan tidak butuh waktu lama untuk langsung bermimpi...
***
Pagi harinya, ia dapati di lantai satu sudah ramai orang. Eh, ada polisi juga.
"Ada apa Mas, rame sekali?" tanya Apuk penasaran pada pak Satpam
"Kantor kita kemalingan! 50 juta raib!"
"Hah???"
"Semalam, di ruang brankas lantai dua!"
Mungkin kalau kisah ini di-manga-kan, lanjutan adegan ini adalah: gambar 2 kaki terangkat ke atas dengan posisi sandal terlepas dan tulisan: GUBRAK..!!!
Akhirnya, Apuk diminta ke Polres untuk dimintai keterangan dengan status sebagai "saksi".
***
Di Polres...
Satu jam berlalu Apuk dibiarkan duduk diam gelisah sendirian di depan meja petugas. Apakah ini merupakan standar operasional prosedur ya? Membiarkan saksi gelisah, menteror mental sebelum diinterogasi.
Kemudian...
"Apa kabar mas Apuk?" seorang petugas yang kebetulan mengenalnya menghampiri.
"Alhamdulillah, baik, Mas" balas Apuk berusaha tetap tenang.
Setelah basa-basi sejenak, petugas itu melanjutkan, "Siap jadi Saksi?"
"Insya Allah siap," jawab Apuk tetap cool
"Kalau begitu, disumpah dulu,"
"Walah, pake disumpah segala to? Hehe..." canda Apuk berusaha mencairkan ketegangan dengan para petugas.
"Semalam, ada kejadian apa di kantor Anda?" petugas memulai interogasinya.
"Saya tidak tahu, Pak. Tapi kalau menurut obrolan Bapak dan teman-teman Bapak tadi, denger-denger ada pencurian ya Pak?" sambil nyengir, Apuk balik bertanya ke petugas, sebagai upayanya tetap cermat sebelum menjawab setiap pertanyaan.
"Oke, ada pencurian," ulang petugas sambil mengetikkannya di BAP. "Apa saja yang dicuri?" cecarnya lagi.
"Tidak tahu, Pak. Tapi dengar dari teman-teman, katanya uang 50 juta hilang Pak," masih berusaha kritis sambil senyam-senyum.
"Waktu kejadian, Anda di mana?" cecar petugas lagi.
"Sebentar pak Polisi," Apuk mengkritisi pertanyaan petugas. "Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Bapak. Tapi kalau pertanyaannya 'Tadi malam Anda di mana?', maka saya bisa jelaskan," berkata demikian, Apuk masih bisa nyengir.
"Oke, Anda berada di mana semalam?"
Seterusnya Apuk menceritakan kronologis kisahnya kepada para petugas itu.
Sekembalinya ke kantor, Apuk disambut guyonan teman-temannya.
"Lha, ini dia tersangkanya ha..ha..ha..."
"Kawan, perlu kami buatkan 'Koin untuk Kos Apuk' tidak?" canda yang lain melengkapi renyahnya suasana penyambutan.

29 Januari 2011

Para Korban Sejatinya Tidak Butuh Relawan

Bro & Sis,
Sungguh, sejatinya para korban bencana alam itu tidak butuh kehadiran relawan dari mana pun. Termasuk Relawan PKS yang biasanya paling awal tanggap terhadap urusan beginian. Seperti terlihat di hari kedua saya ikut rombongan relawan kloter kedua dari Pekalongan yang ditempatkan di dusun Sirahan.
Kami dapati kenyataan bahwa kerja-kerja relawan --apalagi hanya puluhan orang dengan 2 hari kerja-- sungguh tidak signifikan dengan pengurangan derita korban. Yang mereka butuhkan hanyalah empati dari kita. Bahkan hanya dengan kehadiran kita yang --seandainya saja-- tidak melakukan kerja fisik apa pun, sudah cukup jadi faktor pengurang derita itu.
Bahkan di tengah deritanya dan dalam segala keterbatasannya, mereka masih menyempatkan untuk menjamu kami, para relawan dari luar daerah. Subhanallah... sebuah pelajaran ketulusan dan ketabahan yang luar biasa!

30 Oktober 2010

Merapi, mbah Maridjan dan Raja Jogja

Bro & Sis,
Pertama, ane ungkapkan rasa duka yang mendalam atas jatuhnya korban dari bencana-bencana yang beruntun ini... khususnya korban Merapi. Lebih khusus lagi atas terenggutnya sang juru kunci, mbah Maridjan. Postingan ini ditulis bukan bermaksud menuding pihak-pihak yang musti bertanggung jawab, melainkan hanya hikmah yang ingin diambil.
Allah SWT menciptakan alam ini dengan penuh keseimbangan dan dalam takaran yang sangat pas. Artinya, jika Merapi saat ini harus membangun (pinjam istilah mbah Maridjan), maka itu memang sudah protokoler wajibnya, yang tak seorang pun diijinkan menginterupsinya. Walau tidak bisa dipungkiri dampak dari pembangunan yang dilaksanakan sang Merapi, berpotensi menelan korban: harta benda, ternak bahkan nyawa. Namun sadarilah berkah yang menyertainya juga. Di sana ada penjual masker yang panen dan pasca erupsi ini, kelak lingkungan yang luluh lantak itu akan jadi hamparan ladang subur.
Menurut para pakar, bencana letusan gunung berapi bisa diprediksi. Artinya jatuhnya korban bisa diantisipasi sejak dini. Jadi sangat disayangkan jika erupsi Merapi kemarin masih banyak jatuh korban. Terlepas dari masalah takdir, meninggalnya sang juru kunci sejatinya bisa diantisipasi. Kita melihat loyalitas beliau kepada rajanya demikian kuat, mengapa Raja Jogja tidak mau menggunakan otoritasnya memaksa beliau turun? Memang raja merasa tidak berhak memerintah mbah Maridjan turun, karena di sana ada bupati. Tapi tidakkah beliau memahami bahwa dalam pemahaman mbah Maridjan, atasan langsungnya adalah raja, bukan bupati. Jadi sungguh disayangkan sang raja tidak memiliki sense seperti Pinera, presiden Chile itu.
Ane jadi ingat sebuah nasihat bijak Robbani: barangsiapa memelihara kehidupan seorang anak manusia, maka ia ibarat memelihara kehidupan seluruh umat manusia. Sebaliknya, siapa saja yang membunuh (atau membiarkan hilangnya nyawa) seorang manusia, maka ia ibarat membinasakan seluruh manusia.
Padahal jika raja mau meluangkan sedikit waktu, bukan tidak mungkin mbah Maridjan tunduk pada titah raja, walaupun beliau sangat kekeuh pada pendiriannya: Nek aku mudun disoraki cah cilik-cilik!
Kadang ada prasangka buruk ane melihat fenomena ini. Apalagi mengetahui gaji seorang juru kunci Gunung Merapi yang konon hanya Rp 5.600 per bulan! (yang oleh mbah Maridjan disikapi dengan guyon: “lima juta enam ratus ribu rupiah” jika ditanya berapa gajinya). Sebuah angka yang hanya realistis untuk kurun 30 tahun lalu. Itu sebabnya, mbah Maridjan terpaksa harus mengambil gaji setiap tiga bulan sekali, supaya uang gajinya tidak habis untuk ongkos naik bus dari keraton ke dukuh Kinahrejo. Ane khawatir, loyalitas dan sikap narimo seorang Maridjan (dan para abdi dalem lainnya) diexploitasi sedemikan rupa sehingga sang majikan bisa seenaknya memperlakukan hak-hak mereka.
Memang dalam kesehariannya mbah Maridjan hidup dalam kesahajaan dan kesederhanaan. Seperti orang yang tidak membutuhkan uang. Dalam bahasa ane, dialah sosok orang yang benar-benar mencapai puncak kebebasan finansial. Tengok ketika dia menerima honor sebagai bintang iklan Extra Joss sebesar Rp 150 juta. Ia infaqkan uang itu untuk membangun masjid di Kinahrejo dan sisanya ia bagikan kepada para tetangganya! Subhanallah!