Tampilkan postingan dengan label Suasana Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suasana Hati. Tampilkan semua postingan

23 September 2015

Selamat Hari Raya Idul Adha 1436H

Saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Adha 1436H. Selamat menunaikan ibadah Qurban, semoga qurban kita diterima Allah SWT.

Walaupun ada perbedaan dalam pelaksanaan sholat id tahun ini, namun bagi saya tidak masalah. Marilah kita saling jaga ukhuwwah di antara kita. Yang masalah itu, jika ada orang yang sibuk mempermasalahkan perbedaan, namun qurban pun tak kunjung dilaksanakan.

Nah, bagi om dan tante seller BukaLapak yang beragama Islam, sudahkah kita klik beli hewan qurban via BukaLapak? Apa? Masih ragu? Hohoho... Mari kita singkirkan keraguan itu. Tenang saja, qurban Anda bukan BukaLapak yang handel, melainkan hanya memfasilitasi transaksinya saja. Adapun pengelolaan sepenuhnya oleh ACT, sebuah lembaga pengelola zakat, infaq dan sedekah nasional. Jadi insya Allah qurban Anda akan ditangani secara profesional. Pendistribusian dagingnya pun tepat sasaran, ke daerah daerah rawan pangan dan daerah konflik lain. Tidak hanya di nusantara, bahkan penyalurannya bisa sampai manca negara.

Bagi om dan tante yang bosan dengan qurban yang itu itu saja  (maksudnya kalau tidak kambing ya sapi), maka berqurban via ACT yang bekerjasama dengan BukaLapak ini jalan termudah, aman, dan cepat. Anda mungkin bisa sedikit bergaya dengan qurban untuk dibagi di Palestina misalnya. Atau, mungkin Anda pengin berqurban dengan unta? Bisa banget!

Mari, mumpung masih ada sisa beberapa hari tasyrik, buruan klik beli hewan qurban via BukaLapak. Qurban tanpa repot, bisa kirim ke mana saja.

Taqobbalallahu minna wa minkum... Happy Eid Mubarak!

08 April 2015

Desain Logo LAZ Al-Ummah Kota Pekalongan

Ikutan lomba logo untuk Lembaga Amil Zakat Al-Ummah Kota Pekalongan pada detik-detik terakhir...
Mengirimkan satu logo yang niat alias serius. Maksudnya penuh dengan pemikiran dan konsep seperti ini:

Dan empat logo lagi yang saya desain secara iseng alias serampangan. Itu pun pada detik-detik deadline menjelang ditutupnya tenggat waktu lomba...




Akhirnya yang terpilih adalah... yang iseng, sodara-sodara!
Dan panitia pun menyatakan saya berhak menggondol hadiah yang lumayan... bisa untuk nambah kulakan barang dagangan...
Namun saya musti revisi beberapa detilnya, hingga jadilah seperti ini:


Alhamdulillaah....

29 Maret 2015

Wishlist to Bukalapak



Sejak promosi gencar-gencaran di lini media sosialku, banyak teman yang merespon positif dagangan yang saya pampang di bukalapak. Namun rata-rata mereka agak malas ketika proses jual belinya sedikit ribet.

Di sisi konsumen, "birokrasi" yang diterapkan Bukalapak --yang musti transfer via bank ke rekening Bukalapak dan setiap item kena charge ongkos kirim, karena opsi jasa pengiriman memakai pihak ketiga-- sedikit menghambat antusiasme pembeli offline. Khususnya teman-teman dekat yang setiap hari bisa bertatap muka.

Coba bayangkan ini. Anda sangat tertarik salah satu desain kaos Islami dagangan saya dan hendak membelinya. Setelah klik tombol "beli" di situs Bukalapak, kemudian diminta transfer sejumlah harga bandrol ditambah ongkos kirim sesuai alamat dan jasa kurir yang dipilih. Lha, padahal Anda sedang bertatap muka dengan saya. Kan jadinya lucu. Okelah prosedur transfer bisa dilakukan saat itu juga dengan fasilitas M-Banking nya, namun ketika Anda hendak membawa pulang barang itu, Anda musti menunggu setelah saya packing dan kirim via jasa kurir. Baru besoknya nyampai ke tangan Anda... Lucu sekali bukan?

Karena itu saya, selaku pengguna jasa lapak online di Bukalapak, sangat berharap ada opsi "Hand to Hand" di moda pengiriman barang. Sehingga, setelah konfirmasi transfer diklik di Bukalapak, pembeli offline bisa langsung membawa pulang barangnya, tidak perlu menunggu saya packing dan kirim via kurir. (Mana tahaan, sudah keburu mau dipakai nih... he...)

Selanjutnya sebelum pembeli itu beranjak dari hadapan saya, saya bisa sekaligus meminta budi baiknya untuk mengklik konfirmasi barang telah diterima dan mengisi kolom feedback positifnya... Karena inilah keuntungan non finansial yang sangat diharapkan di bisnis online, khususnya Bukalapak.

04 Oktober 2014

Cewek Idaman

Ini dia cewek idamanku

Lamaaa sekali saya mengidamkan punya cewek cantik. Alhamdulillah Idul Adha tahun ini terlaksana juga meminang si putih nan cantik ini. Maharnya cukup 11 juta saja.

Atas bantuan seorang kawan akhirnya saya bisa mempersembahkan ini untuk:

  1. Ibunda tercinta, Sudiyanti binti Raden Siswo Haryono,
  2. Ayahanda, Sijam Sami Adji bin Singa Bangsa,
  3. Nenek Aminah binti Tasli
  4. Nenek Rakmah binti Tasli
  5. Adinda Sinoro Puji bin Sijam Sami Adji
  6. Kakak Sinorowedi bin Sijam Sami Adji
  7. Kakak Sionalis binti Sijam Sami Adji

Nomor 1 sampai 5 sudah meninggal semua, semoga Allah mengasihi mereka. Sementara mas Sinorowedi dan mbak Sionalis masih hidup. Mereka bertujuh adalah orang-orang yang telah berjasa dalam kehidupan saya.

Ya Allah, Rabb yang telah mengilhamkan mimpi kepada nabi mulianya Ibrahim dan anaknya Ismail, tahun ini hamba absen dulu menunaikan syariat qurbanMU. Namun terimalah sekedar tanda cinta hamba untuk orang-orang terkasih hamba. Ampunilah dosa-dosa mereka dan sayangilah mereka lebih daripada mereka menyayangi hamba. Amiin...

11 Desember 2013

Selebrasi Milad ke-43 ku

Hari ini, empat puluh tiga tahun lalu, di sebuah desa kecil Podo, kecamatan Kedungwuni, kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, lahirlah bayi laki-laki. Konon sang orang tua si bayi mendapat nasihat dari guru spiritualnya: jika bayinya nanti lahir perempuan berilah ia nama Nur Hidayah. Namun jika lahir laki-laki, beri ia nama: Nurhadi.

Itulah pemirsa, konon cerita dari orang tua saya. Dan hari ini, tepat di usiaku yang ke-43 tahun, saya ingin memberikan yang terbaik untuk SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan, tempat saya mengekspresikan ide dan karya dalam upaya memcetak generasi Robbani bersama rekan seperjuangan. Hm...

Saya kumpulkan para santriwati kelas 7 dan 8 (memang baru ada dua angkatan sih) di Masjid Al-Anshor yang berada di ujung selatan kawasan pondok kami, usai UAS hari ini. Mereka saya terapi menggunakan SEFT yang ilmunya baru saja saya dapatkan beberapa hari lalu. Terapi ini asas kerjanya adalah mengingat kembali emosi-emosi negatif yang pernah dialami, kemudian mengikhlaskan dan memasrahkan secara total kepada Allah SWT, dan kita memohon padaNYA kesembuhan, kedamaian hati kita. Adapun tapping (mengetuk-ngetuk ringan) di titik-titik meridian tubuh adalah upaya melancarkan peredaran darah sehingga bisa menetralisir racun energi di tubuh kita.

Alhamdulillah, 80% dari mereka mengalami penurunan emosi negatifnya. Walaupun belum maksimal hasilnya, karena memang harus diulang beberapa kali, tidak cukup dalam sekali terapi.

Kemudian malam harinya, giliran santri ikhwan yang diterapi. Sehingga total, 114 orang santri yang menerima terapi SEFT hari ini. Alhamdulillah... senang rasanya bisa meringankan dan membahagiakan mereka. Ya Allah, karuniakanlah kedamaian hati dalam dada mereka dan penuhi dada mereka dengan cintaMu, agar mereka mudah menerima hidayahMu dan memenuhinya dengan kalamMu... Aamiiin...

01 Desember 2013

Hah?? PKN!

Hari ini, seantero jagad memperingati Hari AIDS. Sebetulnya saya tidak begitu peduli. Namun ketika negara kita, khususnya melalui kementerian kesehatannya merestui Pekan Kondom Nasional (PKN), jadi muak saya dibuatnya.

Di bawah ini komentar seorang teman di Purwodadi, menurut saya bagus untuk direngungkan:

Ketika saya ditanya tentang bagaimana sikap terhadap Pekan KONDOM yang digalakkan MENKES dalam menyambut hari AIDS sedunia.

Saya hanya bilang, ketika keluarga harmonis, mampu berbagi kasih dan cinta dengan bijak bersama pasangan. Ketika orangtua mampu mengajarkan akhlaq yang baik bagi anak-anaknya. Maka jangankan 1 bus KONDOM dengan gambar JUPE. 1 armada dan beribu kontiner KONDOM dengan gambar yang lebih menantang pun. Kita semua tak akan terpengaruh.

Memang kita saat ini harus protes, karena melihat fenomena yang mengerikan. Mohon Maaf, karena pemerintah sedang main "kelamin" untuk menyelamatkan anak bangsa dr AIDS dr pada dengan mempergunakan benteng akhlaq.

Pemerintah lebih memilih memproteksi "kelamin" dari pada akhlaq para remaja.
Jadi kalau boleh saya bilang bahwa logika pemerintah adalah logika "kelamin", akal mereka ada dikelamin mereka karena mereka lebih peka pada kelamin dengan memproteksi dengan kondom dari pada memproteksi remaja dengan ahlaqul karimah!

Kalau akal pemerintah sudah ada di kelamin! Lantas bagaimana dengan kehidupan mereka!?
Ayo mulai dari diri kita dan keluarga kita! Itu lebih baik!

30 November 2013

Melepas Istri Wisuda

Sore tadi mengantar istri ke Pusri, tempat pemberhentian bus rombongan wisuda UT UPBJJ Semarang ke kampus UT Pusat, Jakarta. Dari 5 orang angkatan dia yang mendapat undangan wisuda di kampus pusat, hanya tiga orang yang bisa berangkat. Awalnya istri tidak berminat, dikarenakan mendengar kabar kabur tentang biayanya yang mahal. Belum lagi bayangan dia di sananya masih harus mengurus ini itu kelengkapan wisuda, akomodasi dan lain lain, sementara ia buta peta.

Ternyata oh ternyata, wisuda di kampus UT Pusat tidak ada biayanya. Ya, gratis 100%. Biaya yang dikenakan hanya 1 juta oleh travel agen selaku EO-nya. Biaya itu sudah all-in, artinya tinggal berangkat bawa badan saja tidak takut "terbengkalai", hehe... Makanya dua hari lalu minta diantar ke Semarang untuk mendaftar. Jadilah hari ini ia berangkat. Saya lihat ada 4 bus besar... Hm.. banyak juga rupanya mahasiswa UT Jawa Tengah ya...

Menurut rundown acara yang dia terima, wisuda baru dilaksanakan selasanya. Sementara besok Senin ada pra-acara, biasanya berupa seminar (begitu menurut bu Siti, petugas di kantor UPBJJ Semarang).

Sebenarnya dua hari ini dan kemaren saya berencana ikut Training SEFT di Hotel Ibis Semarang. Namun karena beririsan waktunya dengan keberangkatan istri ke Jakarta ini, akhirnya saya batalkan. Kasihan anak-anak, sedang masa UAS di sekolahnya. Insya Allah ikut training pekan depan wis. Resikonya, ikutnya kelas Jakarta nih. Alhamdulillah, malah bisa dilatih langsung sama penggagasnya, Ahmad Faiz Zainuddin.

O ya, pemirsa, ada yang belum tahu apa itu SEFT? Tunggu celoteh saya selanjutnya... Mampir lagi ya...

01 Juli 2013

Kembali Ke "Barak"

Istriku dan anak keempat, Jundi


Wuih, seperti slogannya militer saja! Ini nih pemirsa, ceritanya istri saya sedang berbungah karena per tahun ajaran 2013/2014 ini dipindahtugaskan ke RAIT Ulul Albab Kota Pekalongan. Karena dia kan sudah menjadi abdi negara (dalam hal ini PNS di lingkungan Kemenag Kota Pekalongan), jadi musti siap di tempatkan di mana pun. Sebelumnya dia bertugas di MSI 15 Medono.

Tidak hanya istri yang berbahagia, yayasan juga. Karena "jerih payah"nya selama ini untuk "mengembalikan" 6 orang "assabiqunal awwalun" guru-guru perintis di RAIT Ulul Albab telah berhasil. Yah, tentu saja tidak keenam-enamnya dikabulkan pihak Kemenag. Hanya dua orang dari enam yang dikabulkan (isteri saya dan bu Nur Hidayah yang sudah lebih dulu).

21 Januari 2012

Pelatihan Multiple Intelligence

Tim GLC, Bambang, penulis, Bp Mardjuki (Next Surabaya), Ceria, Novi
Sabtu, 21 Januari 2012 diajak pak Bambang (calon Kasek SMPIT Assalaam BSP) ikut pelatihan guru multiple intelligence level intermediate di SDIT Buahati Jakarta Timur. Lah, padahal saya belum pernah ikut yang level basic. Untungnya saya sudah mengkhatamkan dua dari trilogi bukunya pak Munif Chatib: Sekolahnya Manusia dan Gurunya Manusia. Sehingga bisa asyik mengikuti pelatihan yang super dahsyat ini sampai tuntas tas tas taaass...

[Coba Anda perhatikan, ID-Card saya dan pak Bambang beda dengan punya bu Ceria dan bu Novi. Ternyata itu ID untuk panitia... Bukan salah kami lho, itu bagian resepsionis salah comot. Kami juga baru 'ngeh' saat break, ada seorang peserta dari Bekasi yang berujar, "Oh, panitia, saya kira sesama peserta." Hehe... padahal kita juga peserta Mas...]

13 Januari 2012

Selamat Jalan Muhammad Abu Ramadhan

Kaget tatkala seorang sahabat mengirim sms tentang kepergianmu, kawan. Jam 9 tadi pagi kau menghembuskan nafas terakhirmu, di RSI Pekajangan. Maafkan aku, belum sempat menjengukmu ketika beberapa hari lalu ada yang memberi kabar bahwa engkau menjalani operasi tumor kedua kalinya. Aku sangat menyesal, mengapa kemaren tak segera kuajak teman-teman bezoek, padahal mereka kumpul semua di rumahku.

Innalillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun... KetetapanNya telah mendahului kebiasaan burukku, sering menunda berbuat kebaikan. Astaghfirullah, ampuni kami ya Robb... ampuni pula, dosa-dosa Muhammad Abu Ramadhan ini, jembarkan kuburnya, terangi dan naungilah dengan naunganMu yang Maha Menenteramkan itu, Wahai Dzat yang Maha Belas Kasih.

Dan tiga orang anak yang masih kecil-kecil itu, Engkau lebih Tahu dengan segala KuasaMu. Dengan asma Ar-RoziqMu nan Mulia, kuyakin mereka takkan kelaparan. Ya Rohman, Ya Rohiim, kasihilah mereka, tabahkan hati mereka, janda dan yatim dari sahabatku ini...  Aamiin...

***

Masih lekat dalam mataku, sosok tinggi gagah enam bulan lalu itu, saat mengantar galon Axogy ke rumah. Namun tiga bulan kemudian kala engkau mengantar galon terakhir itu, membuatku terperanjat melihatmu. Lama tak jumpa, tubuh gagah itu telah berubah drastis. Kurus dan pucat sinar matamu.

Rupanya tanggung jawabmu sebagai pilar bagi istri dan ketiga anakmu membuatmu harus sigap menyabet segala peluang. Gajimu sebagai security di sebuah pabrik sarung ternama sepertinya tak cukup menutup semua kebutuhanmu. Sehingga jatah istirahatmu di rumah terpaksa kau gunakan untuk beredar ke seantero pelosok. Tidak hanya air galon yang kau jual, gas, minyak dan berbagai kebutuhan orang pun kau layani. Semoga Allah SWT mencatat keletihan itu sebagai ibadahmu, kawan.... Semoga mereka menemanimu di alam sana, dan kau bahagia telah menyiapkan bekal itu... Aamiin...

01 Januari 2012

Pemburu Gratisan

Dasar! Hobinya yang gratis-gratis saja. Begitu "fasilitas" dicabut, kelabakan deh jadinya. Begitulah, pembaca. Diri ini memasang fasilitas gratis untuk 'tinggalkan jejak' dari ShoutMix / ShoutBox yang mulai 1 Januari 2012 lalu ternyata dihentikan.  Mereka mulai berani unjuk gigi untuk hanya melayani fasilitas berbayar. Sejujurnya murah sih, cuma 50 ribuan per bulan. Cuma karena teknis pembayarannya harus memakai kartu kredit atau paypal, susah juga buatku.

Singkat cerita langsung berburu lagi nih. Pasti ada yang sejenis, pikirku. Dan... Alhamdulillah dapat di CBox. Tuh, sudah terpasang di kolom kanan... Tampilannya mirip banget bukan?

Nah, bagi Anda yang pemburu gratisan seperti saya, langsung saja klik link kecil di sudut bawah kanan kotak CBox saya... Selamat menikmati!

21 Desember 2011

Kabar Gembira dari SMP IT Darul Fikri Bawen

Selasa, 20 Desember 2012. Pukul 09:14:38

Kring.. kring...

Itu bukan bunyi bel sepeda pak pos jaman dulu, melainkan nada sms ponselku.

"Assalamu'alaikum wr. wb. Akh, insya Allah bisa diterima, bisa segera ditindaklanjuti..." demikian bunyinya. Singkat dan... melegakan. Alhamdulillaah...

Pesan singkat dari Pak Loemiyono, Kepala SMP IT Darul Fikri Bawen itu mengabarkan bahwa Zaid, anakku nomor 2, berhasil lolos seleksi untuk dapat menjadi santri di sana. Ini merupakan seleksi khusus bagi calon santri yang sudah duduk di tingkat VIII. Sebelumnya Zaid bersekolah di sebuah MTs di daerah Gunungpati Kota Semarang.


Mengapa bersikeras pindah? Bukankah sekarang 'nanggung'? Sudah duduk di kelas VIII dan di pertengahan semester pula? Alasan utama kami karena di MTs tersebut, lingkungannya kurang kondusif. Banyak siswa yang hobi membolos dan kongkow-kongkow pada jam pelajaran sembari berpesta rokok. Alasan kedua, Zaid bersekolah di MTs tersebut sebenarnya karena sedang mondok di sebuah pondok tahfidz Qur'an (yang belum memiliki gedung sekolah sendiri, sehingga santrinya di sekolahkan di "luar"). Namun karena sekarang sudah tidak mondok lagi, ya otomatis tidak ada alasan yang pas untuk tetap mempertahankan sekolah di sana.

Semoga kelak di SMP IT Darul Fikri, nilai-nilai fitrah Zaid (dan santri lainnya) bisa terjaga dan terus melejit meraih kecemerlangan prestasi dunia-akhirat... Aamiin....

20 Desember 2011

Rihlah Keluarga

Alhamdulillaah... Senangnya bisa kumpul semuanya. Mumpung anggota keluarga komplit, rihlah aah... Sejak Senin kemarin sebetulnya anak-anak sudah berada di rumah, namun karena kami -saya dan istri- ada tugas yang belum selesai akhirnya baru hari ini terlaksana. Itu pun tidak bisa berangkat pagi sesuai harapan, karena  istri musti melatih pidato bahasa Jawa anak didiknya dulu. Baru menjelang zhuhur kami bisa pergi rihlah ke kolam renang Karanganyar.

Acaranya? Pesta air! Kejar-kejaran di kolam, gelut-gelutan sama anak lanang, ngusilin anak wadon -satu-satunya- yang tidak mau dipotret dan balapan renang (hos..hos... nafasku habis, padahal baru separo jalan). Pokoknya asyik deh... Sementara itu uminya anak-anak yang mengabadikan momen ini... (satu-satunya personel yang tidak mau basah kuyup, jadi dapat tugas motret, hehe...)

Ini dia keceriaan itu...

Ayoo... lihat ke ummi semuanya! Cheese...


Aksi kelima anakku
Umar ngusilin mbak Dija

dik Irfan takut air, sini mas Umar gendong!
4 cowok jagoan itu (Zaid, Jundi, Umar, Irfan)

Lompatan tunggal (Umar)
Lompatan Ganda (Umar & Zaid )

Byuurrr...!!!
Umar & Jundi naik "kura-kura"

#2: Zaid

#3: Umar
#4: Jundi
#5: Irfan

14 Desember 2011

Bebaskan Saja!

nyomot dari google
Bagaimana perasaan Anda ketika pergi ke kantor tanpa mandi pagi terlebih dahulu? Risih, malu, jengah, cuek? Atau jangan-jangan Anda tidak pernah mandi pagi? Haha... ma'af, tidak bermaksud menghina. Justru berbahagialah Anda karena termasuk golongan "right brain person" alias orang yang dominan otak kanannya. Konon, orang "golongan kanan" ini usianya lebih panjang, karena lebih tahan terhadap stressor dalam kehidupannya.

Sebaliknya, jika ritual mandi pagi adalah "wajib" bagi Anda, yang jika terpaksa tidak sempat melakukannya serasa kiamat, maka sepertinya Anda adalah tipe "left brain person", orang-orang golongan kiri. Yang konon -maaf saja- sering dilanda stress dan gagal dalam banyak fragmen kehidupannya. Mudah-mudahan Anda tidak demikian. [Aamiin, gitu dong]

Saya sering, ketika mulai aktivitas pagi, tanpa mandi terlebih dahulu. Bahkan untuk mengantar anak ke sekolah dan sekalian pergi bekerja sekali pun. Walah kemproh! Hehe... Sebenarnya bisa saja, bangun malamnya sekalian mandi. Namun seringnya tidak saya lakukan. Saya hanya gosok gigi dan berwudhu saja untuk mengejar waktu fajar. Agar bisa segera sholat malam dan witir, takut keburu adzan shubuh berkumandang.

Saya fikir, untuk menghadap Allah SWT saja kita nyaman tanpa mandi, apalagi untuk bertemu dengan sesama manusia? Jadi, santai sajalah. Bebaskan jiwa Anda ketika diburu waktu harus segera pergi ke kantor, sementara Anda belum sempat mandi pagi. Seperti ketika tadi pagi Anda sholat shubuh. Jika sempat ganti baju, sarung atau mukenanya maka ya seperti itu saja ketika akan berangkat kerja. Cukup ganti bajunya (terutama pakaian dalam), berwudhu dan langsung berangkat. Bisa?

10 November 2011

Selamat Jalan Pak Tujimo

"Innalillahi wa innalillahi rojiun, telah berpulang guru matamatika smp ku, bpk TUJIMO, Semoga Alloh mengampuni segala khilaf dan menerima amal ibadahnya, ditempatkan di sisiNya, amien," tulis Bety, teman SMP-ku di status facebooknya. Kalau bukan karena 'cawelan' Omi, status Bety pasti takkan terbaca olehku karena terkubur di bawah ribuan status yang lain. Thanks, Omi.

Tiba-tiba anganku melayang ke medio 1983, ketika kakiku melangkah ke ruang kelas baruku, Kelas 1D di SMP Negeri Wonopringgo atau SMP Wopi nama gaulnya. Baru saja euforia merasuki jiwaku karena berhasil diterima di sekolah favorit. Maklum, waktu itu SMP Wopi-lah satu-satunya SMP favorit se-kabupaten Pekalongan. Jadi siapa pun yang berhasil lolos seleksinya pasti akan merasa bangga bukan kepalang. Dari SD-ku hanya beberapa orang yang berhasil lolos. Dan kini aku 'terbuang' di kelas paling ujung selatan ini. Karena tidak ada teman dari SD yang sekelas, maka sebagai bekal di 'dunia baru' ini aku hanya menghafalkan nama wali kelasku saja.

Beberapa menit berlalu sejak bel tanda masuk berbunyi. Namun tak kunjung kelasku dihampiri oleh sang wali kelas. Ada apa gerangan? Sementara tiga kelas paralel lainnya telah asyik berkenalan dengan wali kelas barunya. Tapi, tunggu dulu... kelihatannya ada seorang guru laki-laki dengan garis alis tegas menuju ke kelasku. Teman-teman yang sedari tadi gaduh mendadak berlarian ke tempat duduknya dan mengambil sikap 'duduk manis' semanis-manisnya. Hm... orang ini ampuh juga, batinku. Siapa dia?

"Selamat pagi, anak-anak," sapanya membuka kelas.
"Selamat pagi, Pak Guruuu...," serempak kami koor menjawab salamnya.
"Berhubung Ibu Nisfu Laila, wali kelas kalian, saat ini sedang cuti melahirkan, maka untuk sementara saya yang menggantikan. Ada yang sudah tahu nama saya?" tanya beliau sebelum memperkenalkan diri.
Aku dan beberapa temanku diam, karena memang belum kenal nama beliau. Sementara beberapa yang sudah tahu menjawab malu-malu.
"Ya? Ada yang tahu?" ulang beliau memastikan.
"Pak Tujimo," kata sebuah suara dari arah belakang, lirih. Mungkin ragu, mungkin juga takut.

Oh, ini tho orangnya. Pantas saja tadi teman-temanku mendadak anteng. Siapa orangnya di seantero SMP Wopi yang tak kenal 'reputasi' pak Tujimo. Aku juga sebenarnya telah 'mengantongi' data tentang beliau dari kakakku (yang saat itu kelas 3). Apalagi kalau bukan karena kegalakannya.

"Ooh... Pak Telulas..." tanpa sadar mulutku bergumam.
Tidak tahu dari mana idenya, tiba-tiba reflekku menjumlahkan angka-angka yang tersirat dari nama beliau. Dan sialnya, gumamanku tadi terdengar oleh beliau! Bagaimana tidak mendengar, lha wong tempat dudukku persis di depan meja guru, ditambah lagi waktu itu beliau berdiri tepat di depan mejaku.

"Apa kamu bilang?" bentaknya tiba-tiba, hingga membuyarkan otakku
Aku jengkel pada diriku sendiri, hari pertama sudah membuat masalah. Dengan guru tergalak pula. Oh my God! Bencana apa yang akan menimpaku kini?
"Pak Telulas..." terpaksa kujawab, pelan sekali.
"Apa? Coba ulangi!"
"Pak Telulas," dengan segenap perasaan bersalah, sedikit kukeraskan suaraku. Tercekat
"Siapa namamu?" tanya beliau setengah membentak.
"Nurhadi, Pak."

Kemudian meluncurlah wejangan beliau bak senapan mitraliur. Kutekuk mukaku karena malu. Malu sebagai anak baru yang tak tahu sopan santun, mengata-ngatain gurunya dengan label 'sak enak wudele dewe'. Juga malu pada teman-teman sekelas yang kuyakin, semuanya memfokuskan pandang ke arahku. "Kewanen!" mungkin begitu batin mereka. Mbuh lah, pasrah saja.

"Kamu mau, kalau dipanggil Srengenge?" tanya beliau lagi.
"Mau, Pak," terpaksa nih. Tidak mungkin kujawab 'tidak mau' kan?
"Oo, lha wong edan!" beliau mengakhiri dialognya dengan mangkel.

Tapi untungnya tidak ada adegan kekerasan dalam kelas waktu itu. Alhamdulillah, hanya kata-kata. Karena -mungkin- status kami masih murid baru, belum siap menerima 'hukuman' lebih lanjut. Nggak tahu jika yang keceplosan ini anak kelas 3, habis cok-e, hehe.... Tak urung keringat membasahi seragam biru-putihku yang masih 'bau Cina' itu.

***

Pak Tujimo, kesan pertamaku terhadap dirimu begitu menggoda. Selanjutnya tingkah polah kami semakin menggila. Dalilnya, apalagi kalau bukan karena sikap galakmu. Ini yang membuat kami berontak. Mungkin Pak Tujimo masih ingat, peristiwa "kabur berjama'ah" di suatu siang? Waktu itu kami sudah duduk di kelas 3B, kebetulan jam matematika di posisi 7-8. Entah siapa provokatornya, tiba-tiba sekelas kompak untuk bikin acara "Mathematic Runaway" alias kabur pada jam Bapak. Kecuali dua orang, anak cowok "I" dan cewek "J". Bapak tahu tidak, apa yang kami lakukan? Woi, kami nyuci tenda rame-rame, Pak. Bendungan kali Kletak menjadi saksi kebinalan kami. Sepertinya asyik sekali siang itu. Kami gotong royong membersihkan tenda yang beberapa hari lalu habis dipakai kemah. Dan, satu perasaan yang paling melegakan adalah: lepas dari muka seram Bapak! Gila nggak tuh?

Akhirnya Bapak lampiaskan 'rasa cinta' Bapak pada kami, Senin berikutnya. Para pembolos itu dijemur rame-rame, sembari membersihkan lapangan sekolah. Terima kasih, Pak Jimo, hukuman ini sebenarnya pantas kami terima. Maafkan kelakuan kami ya Pak...

Kini, kau telah kembali menghadap Ilahi Robbi. Sekali lagi, maafkan kesalahan kami Pak Jimo. Selamat jalan, semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosamu dan membalas amal sholihmu. Semoga keluargamu tabah menghadapi mushibah ini dan Allah SWT berkenan menggantikan dengan yang lebih baik. Amin...

----------------
Update [12/11]
Ada ralat oleh Siti Hanah: personel yang tidak kompak "kabur berjama'ah" ternyata 3: cowok 'S', dan dua cewek 'J' dan 'N' [iya benar, maksudku 'S', bukan 'I' tapi... siapa 'N' ini ya? aku lupa]

09 November 2011

Road to Pondok

Mumpung istri, Jundi dan Irfan libur lumayan panjang dan bersamaan, kami manfaatkan untuk 'Road to Pondok' (Semarang-Bawen-Magelang) menengok kakak-kakak.

Bertolak dari rumah pada Sabtu (5/11) pukul 7 pagi. Sampai Gunungpati jelang zhuhur. Berarti hampir 5 jam! Wow! Padahal dulu jarak ini hanya kutempuh maksimal 3 jam. Sudah semakin tua nih body, sehingga dengan jarak yang sama, butuh 3 kali rehat. Dulu nggak tuh... Bablas terus non stop! Padahal waktu itu sambil bawa si kecil (anak mbarep).

Rute pertama menjenguk Zaid (anak kedua yang mondok di Gunungpati Semarang), kemudian dilanjutkan ke Bawen (Kabupaten Semarang) untuk menjenguk Umar, anak ketiga di SMPIT Darul Fikri. Sesampai di pondoknya Umar, tak ane dapati Umar di sana. Ternyata dia telah pergi main ke rumah temannya di Salatiga. Karena memang jadual kepulangan siang, sementara ane baru sampai di sana jelang maghrib. Akhirnya kuputuskan untuk pulang ke Gunungpati.

Esok paginya, kami menjenguk anak pertama yang sedang mondok di SMAIT Ihsanul Fikri Magelang. Namun terlebih dahulu menempuh jalur Salatiga guna menjemput Umar untuk diajak serta. Meminjam kakak dengan mobilnya, kami berenam diantar road to pondok. Terima kasih pak dhe...

Alhamdulillah liburan tiga hari ini bisa maksimal bertemu dengan anak-anak tercinta. Semoga kalian menjadi hafidz-hafidzhoh yang sholih dan mensholihkan, mampu menjelaskan perkara-perkara agama ini kepada ummat. Amin yaa Robb...

03 November 2011

Qurban Pertamaku

Bismillah, mengawali langkah menuju ke rumahMu, ya Allah, izinkan hamba mengorbankan honor desain selama dua edisi ini... Terimalah ya Robb ini qurban pertama hamba. Padahal hamba telah Engkau beri kesempatan hidup empat dasawarsa. Ampuni hamba wahai Dzat Yang Maha Pengampun....


#LangkahNyataPertama...

21 Juni 2011

Jamkesmas... Ooh... Jamkesmas...!!!

Mendengar kabar bahwa para koruptor yang sakit di tahanan mendapat perawatan dari pemerintah yang biaya pengobatannya menggunakan dana Jamkesmas, sungguh tersayat-sayat nuraniku. Betapa tidak, orang yang jelas-jelas merugikan negara miliaran rupiah, ketika sakit kok masih diberi santunan??? Sementara jutaan rakyat miskin lain hingga sakaratul mautnya tak serupiah pun dana untuk mereka!
Jadi teringat almarhum adik (Sinoro Puji, 37th), yang sampai ajalnya tak sempat menikmati dana Jamkesmas, padahal dia sangat membutuhkan. Karena vonis dokter, jalan satu-satunya untuk kesembuhannya adalah operasi penggantian klep jantungnya. Karena 2 dari 4 klep jantungnya bocor. Konon biayanya kurang lebih 150 juta. Sementara dia adalah seorang karyawan perusahaan swasta dengan gaji 1,7 juta dan Jamsosteknya hanya mengcover 10 juta saja. Dari mana kami menutup yang 140 juta sisanya? Memang, keseharian kami tidak termasuk keluarga miskin (alhamdulillah), namun untuk kasus ini kami jadi miskin. Usaha untuk memperoleh Jamkesmas sudah kami tempuh. Namun apa jawab Dinkes Kab. Pekalongan? "Sudah tutup Mas, tidak bisa pengajuan lagi." Dan kalau pun masih ada jatah, kami harus merekayasa agar kami termasuk keluarga penerima BLT yang nyata-nyata ini tidak bisa kami lakukan.
Kadang terpikir untuk membuat surat terbuka kepada Menkes. Tentang pengalokasian dana Jamkesmas agar lebih adil dan merata serta bisa mengcover kasus-kasus khusus seperti adik saya itu. Mungkin mekanisme pengajuannya perlu diubah, atau persyaratannya. Jadi jangan di-gebyah-uyah (dipukul rata) harus keluarga dengan ciri-ciri penerima BLT saja yang boleh menerima. Harapan kami, ke depannya alokasi dana Jamkesmas bisa lebih kasuistik, yang penting faktanya pada saat pengajuan, yang bersangkutan tidak bisa membiayai pengobatannya. Ini hal yang mudah bukan? Buktinya para koruptor saja bisa diberi...