Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekitar Kita. Tampilkan semua postingan

10 Februari 2013

Jika Kecewa Mencengkeram Jiwa Anda

Hati-hati dengan orang yang merasa kecewa dengan Anda. Namun Anda tidak perlu terkooptasi dengan segala reaksi yang dia berikan. Anggaplah orang tersebut sedang memberikan "ilmu hikmah" tersendiri buat Anda secara gratis.

Seperti yang dialami seorang sahabat saya hari ini. Beliau adalah seorang Kepala Sekolah di sebuah SMP swasta di kotaku. Sepekan yang lalu beliau baru saja memberhentikan salah seorang karyawannya, atas permintaan sendiri. Konon sang karyawan ini merasa kecewa dengan keputusan yang diambil oleh sahabat saya tadi. Sayangnya, sang karyawan ini mengakhiri hubungan kerjanya dengan tidak happy ending; dalam kondisi marah dan pakai acara merusak properti segala.

Ternyata walau sudah sepekan lewat, rasa kecewa sang karyawan ini belum juga reda. Ia masih menyimpan dan bahkan mengipas-kipas baranya. Puncaknya, hari ini dia melakukan teror kepada karyawan lain, disertai ancaman. Tujuannya agar para koleganya juga mengikuti jejaknya: keluar dari pekerjaannya.

Parahnya, sang karyawan kecewa ini juga meneror beberapa tukang yang kebetulan sedang membangun masjid di sekolah itu. Tak urung teror ini sempat mempengaruhi suasana kerja para tukang tersebut. Maklumlah, mereka -para tukang itu- semuanya pendatang. Mendapat teror dari dari karyawan kecewa yang warga asli di daerah itu, mereka shock juga. Bahkan memohon kepada juragannya untuk ditarik pulang ke daerahnya alias menghentikan tugasnya yang baru saja dimulai.

Sahabat saya tidak membiarkan hal ini berlarut-larut. Pertama menenangkan para tukang agar tetap tenang dan jangan terpengaruh dengan teror yang ada. Sembari meyakinkan bahwa tidak ada yang dapat mencelakai atau menentukan nasib kita kecuali atas kuasa Allah SWT semata. Kedua, mengantisipasi jika mantan karyawannya tadi melakukan aksi susulan.

Di balik langkah taktis tadi, sahabat saya ini sebenarnya sangat yakin, bahwa mantan karyawannya itu hanya besar mulut saja. Sesungguhnya ia tidak sekuat atau seberpengaruh seperti yang dikoar-koarkannya. Andaikan apa yang ia koar-koarkan benar-benar terjadi alias sampai terjadi penganiayaan fisik, maka justru hal ini akan lebih mudah proses hukumnya.

15 Desember 2011

Mari Berhemat Bandwith

Pernah bergabung dalam suatu milis, Pembaca? Saya yakin, sebagian besar Anda pasti pernah atau sedang mengikuti sebuah (atau bahkan beberapa) milis. Entah itu milis umum, milis yang membahas bidang ilmu tertentu, milis agama, hobi, organinsasi, ataupun yang lainnya.

Menurut situs Wikipedia, milis (bahasa Inggris: mailing list) adalah grup diskusi di Internet di mana setiap orang bisa berlangganan dan berikutserta di dalamnya. Anggota milis dapat membaca surat dari orang lain dan kemudian mengirimkan balasannya. Secara sederhana, milis adalah sebuah daftar alamat surat elektronik yang mempunyai kesukaan/kepentingan yang sama.

Saat seseorang mengirimkan surat yang kemudian dikirimkan ke semua orang yang terdapat di dalam daftar, penerima pesan memiliki kebebasan untuk membalas topik diskusi tersebut atau tidak. Setiap kali ada orang membalas sebuah surat, surat tersebut disalurkan ke setiap kotak surat masing-masing orang yang terdapat di dalam daftar. Semua proses ini diatur oleh sebuah program yang dinamakan Mailing List Manager (MLM's) atau Mail Servers.

Ada interest tertentu yang melatari kita mengikuti sebuah milis. Saat ini saya tak hendak membincangkan mengenai milis apa kesukaan Anda itu. Saya hanya ingin menyampaikan hal ringan yang kadang luput dari perhatian kita.

Mungkin Anda pernah merasa terganggu pada email balasan atas sebuah topik di milis? Apalagi jika komentarnya OOT alias out of topic, melenceng jauh di luar topik pembicaraan. Yang menyebalkan, komentarnya hanya sedikit, namun 'ekor'nya panjang minta ampun. Maksudnya, ia hanya mengomentari bagian tertentu dari topik itu, dengan menyertakan semua batang tubuh email aslinya. Lebih parahnya lagi, kemudian komentar balasan bersahut-sahutan dengan tidak menghapus email sebelumnya. Akibatnya, replay atas replay bertumpuk hingga panjang.

Ketahuilah, dengan tidak menghapus bagian email yang tidak ada urgensinya dikomentari, sesungguhnya kita telah melakukan pemborosan. Terlebih ketika kita membalas dari balasannya balasan anggota milis yang lain, yang semuanya menyertakan batang tubuh email awal beserta balasan sebelumnya, maka semakin besar pemakaian bandwith kita, yang sejatinya itu tidak diperlukan.

"Bandwidth dalam ilmu komputer adalah suatu penghitungan konsumsi data yang tersedia pada suatu telekomunikasi. Dihitung dalam satuan bits per seconds (bit per detik)." (Wikipedia).

Ini bisa saya analogikan dengan pembuluh darah kita. Bandwith adalah 'pembuluh darah'-nya sedangkan lalu lintas data kita adalah 'darah'nya. Jika semua anggota milis berperilaku boros seperti itu, maka 'pembuluh darah' yang seharusnya cukup lancar dilewati 'darah' kita, menjadi 'sesak' oleh 'kolesterol-kolesterol' yang tidak bermanfaat itu. Akibatnya, jelas sangat menyiksa bagi anggota milis yang 'pembuluh darah'-nya sempit. Mungkin Anda yang dianugerahi 'pembuluh darah' berkapasitas besar tidak merasakan hal ini.

Mari kita berhitung, jika satu ketukan papan ketik kita alias satu karakter sama dengan satu bit data, maka rata-rata email yang memuat 500 karakter itu identik dengan 500 bit (anggap saja 0,5 Kb data). Jika ada 10 orang saja me-replay-nya, maka jumlah arus datanya menjadi 5000 bit atau setara dengan 5 Kb. Bayangkan, jika ada jutaan miliser pemboros, maka berapa Tera bit data yang mubadzir?

Padahal agar suatu komputer dapat bekerja, pastinya membutuhkan energi. Demikian juga aktivitas berinternet kita, pasti membutuhkan energi. Saya belum tahu, berapa angka pasti kebutuhan energi ini. Yang jelas, jika ilustrasi di atas kita gandakan dengan faktor pengali yang berupa: jumlah miliser yang online dan jumlah postingan perdetik, di seluruh dunia, maka kita akan tercengang dibuatnya.

Gamblangnya, jika kita ingin mengomentari bagian A pada email teman kita, maka hapuslah bagian B, C, D dan seterusnya yang tidak perlu. Atau bila boleh saya menyarankan, sebaiknya ketika hendak me-replay sebuah topik, hapuslah semua teks yang muncul pada jendela replay Anda. Sehingga hal ini akan menghemat pemakaian bandwith kita.

Atau bisa saya sodori tips ini: klik [reply], tekan [Ctrl+A], tekan [del], lantas tulislah balasan itu...
Selamat bermilisria, dan mari berhemat!

[dipublikasikan juga di: Kompasiana]

03 Desember 2011

Finlandia, Potret Pendidikan Terbaik di Dunia

Bro & Sis, banyak yang belum tahu bahwa Finlandia merupakan negara yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia!

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA; mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No.1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa, tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau membombardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam per minggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam per minggu.

Lalu apa dong kuncinya ?. Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingannya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!. Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi, tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.

Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian. Pada usia 18 tahun, siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab, mereka akan bekerja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya : Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan "Kamu salah!" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya! Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.


[Diambil dari Top of the Class - Fergus Bordewich]

30 November 2011

AIDS Saja Punya Hari Khusus

Besok, 1 Desember, orang sedunia ramai memperingati Hari HIV/AIDS. Ane tidak tahu, sejak kapan hari ini diperingati. Juga mengapa tanggal 1 Desember yang dipilih. Cuma yang menjadi ganjalan di otak ane, setelah sekian kali diperingati, apakah ada penurunan signifikan angka korban HIV/AIDS ini? Lantas sejauh mana upaya mengurangi angka itu?

Banyak slogan tercecer di sekitar kita. Mulai dari stiker kecil di angkot, spanduk di tempat strategis sampai baliho besar di sudut jalan. Isinya himbauan untuk 'tidak mengucilkan' korban penderita penyakit mengerikan ini. Jauhi penyakitnya, bukan orangnya. Begitu kurang lebih bunyi kampanyenya.

Menurut ane, selama Bro & Sis memegang prinsip-prinsip syariat Islam, tak perlu mengkhawatirkan penyakit ini. Bagi penderita yang merupakan korban dari perilaku menyimpangnya, ane sarankan untuk 'menikmati' saja 'hadiah' dari Allah SWT berupa penyakit ini. Anggap saja sebagai 'uang muka' atas dosa-dosa yang telah diperbuat. Mudah-mudahan kelak di akhirat tidak 'ditagih' lagi karena telah 'terbayar lunas' di dunia. Sedangkan bagi penderita yang merupakan korban tidak langsung (bukan pelaku menyimpang), bersabar sambil terus berikhtiar adalah jalan terbaik. Insya Allah banyak hikmah bisa dipetik dari musibah ini.

24 November 2011

Terima Kasih Mas Slamet

Slamet, itulah namanya. Sederhana sekali ya? Begitulah. Orangnya juga sesederhana namanya, namun hatinya sangat baik. Dia hanya dua orang bersaudara, adiknya perempuan. Karena orang tuanya tidak mampu menyekolahkan anaknya hingga pendidikan tinggi, maka ia mengalah untuk tidak menamatkan SDnya. Ia membantu orang tuanya mencari nafkah, apa saja asal halal katanya. Dan dari penghasilannya yang kecil itu, ia rela menyokong adik perempuan satu-satunya untuk terus bersekolah, bahkan hingga lulus di perguruan tinggi terkenal di Semarang. Subhanallah, pengorbananmu sangat inspiratif Mas Slamet.

Membicarakan jiwa berkorbannya Mas Slamet ini, tak akan ada habisnya. Lihat saja malam ini, ketika DPD PKS Kota Pekalongan mengadakan tasyakuran pindahan kantor. Acara intinya adalah mabit (bermalam) semua kader dan simpatisan (laki-laki) di kantor baru, sekaligus diisi khataman Qur'an dan taujih dari ketua. Nah, saat kami hendak sholat berjama'ah di masjid terdekat, Mas Slamet rela tidak ikut meraup pahala berjama'ah. Dia rela sholat munfarid setelah kami semua pulang dari masjid. Mengapa? Ternyata Mas Slamet khawatir terhadap keselamatan motor, sepeda dan helm milik kami yang terparkir di halaman kantor baru.

Terima kasih Mas Slamet... Atas pengorbananmu, kami semua bisa sholat berjama'ah dengan tenang di masjid. Subhanallah, berilah pahala berjamaah pada sholatnya mas Slamet ini Yaa Robb...

22 November 2011

Mimpi Besar itu Sudah Mulai Diwujudkan...

 
Ane di ujung jembatan Assalaam.  Inilah mimpi kami...




"Awas ada truk masuk..." Satpam mengomando

Truk pertama hari ini...

Truk kedua...

Truk ketiga...


Truk keempat...

Sudah berapa rit nih?
Menumpahkan muatan
Meratakan tanah
"Minggir, jangan di depan buldozer!" sang driver memperingatkan

"Ayo, kirim tanah lagi, masih kurang nih!" kata pak Mandor


































































































Enam bulan lalu, di lahan ini....


Pengecoran pondasi jembatan baru dimulai

Lahan 1,2 Ha ini masih panen untuk terakhir kalinya

Sang arsitek sedang menjelaskan siteplan-nya kepada pengurus Yayasan




















































VISUALISASI  MIMPI  INI . . .

21 November 2011

Sepak Bola itu Tak Terkalahkan!

Istilah jawanya: menang-menangke dhewe!  Buktinya malem ini, gara-gara semua orang nonton final Indonesia vs Malaysia, semua kegiatan dipending. Dari mulai kegiatan remeh-temeh (apalagi) sampai kegiatan penting, kudu off dulu. Walah...

Ada teman ane yang istrinya anggota dewan. Baru saja beliau mengantar istrinya ke Gedung DPRD setempat. Begitu kembali ke rumah, belum ada lima menit, sang istri menelpon, "Mas, tolong aku dijemput."
"Lho, katanya ada pleno?", teman ane heran.
"Iya mas, tapi ini ditunda besok pagi. Kata ketuanya, daripada rapat tidak konsentrasi, mending ditunda besok," sang istri menjelaskan.

Oalah, jadi para wakil rakyat itu lebih memilih nonton bola daripada rapat untuk mengurusi rakyat to? Hehe... Yo, biarlah, tidak setiap pleno ditunda toh? Ini kan juga demi rakyat juga... nasionalisme katanya.

Yang lebih asyik lagi nih, Bro & Sis. Ada liqo' (ngaji rutin) diundur gara-gara nobar. Haha... Biasanya habis isya' forum sudah dimulai, ini mulainya setelah puas menyaksikan kekalahan tim Garuda Muda kita... Kata sang pembina, "Sebentar ya, lagi tanggung nih..."

Yo wis lah, belum tentu setahun sekali ini... Hihi...

15 November 2011

Tentang Mimpi

Inilah mimpi yang hendak kami wujudkan:
Ponpes Tahfidzul Qur'an dan SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan

Seorang rekan datang membawa brosur dari sebuah yayasan yang hendak membebaskan lahan guna mendirikan TPQ dan pesantren tahfidz. Di sana tertera lahan yang hendak dibebaskan seluas1.000-an meter persegi.

"Ini mimpinya masih kecil," komentar rekan ane terhadap yayasan tadi. Memang jika dibanding mimpi yayasan kami, mereka hanya sepersepuluhnya. Ane tak hendak menyombongkan diri lho. Postingan ini hanya ingin menuturkan, betapa pentingnya memiliki sebuah mimpi. Dan lebih penting lagi mimpi yang besar, jangan yang remeh temeh.

Sebagaimana Rasul panutan kita mencontohkan, milikilah mimpi besar agar kita senantiasa memiliki energi besar guna mewujudkannya. Tentunya tak lepas dari kesadaran sepenuhnya atas pertolongan Allah SWT.

Bro & Sis, mari kita berlatih memiliki keberanian untuk punya mimpi besar. Jangan batasi mimpi kita pada segala keterbatasan yang saat ini sedang melingkupi kita. Bebaskan sebebas-bebasnya. Sepanjang mimpi besar itu akan membawa perubahan positif, bermanfaat bagi sesama dan melibatkan banyak pihak, maka imajinasikanlah. Kemudian ikuti dengan langkah-langkah nyata, sekecil apa pun ia.

Misal Bro & Sis ingin bisa pergi ke Baitullah untuk menunaikan rukun kelima, maka bermimpilah bisa pergi haji sekarang juga. Tidak usah melihat habisnya gaji sebulan sebelum datang gajian selanjutnya. Pun hutang-hutang yang belum terbayar. Segera saja membuka rekening haji. Terlalu besar? Ya sudah, menabung koin seratus rupiah dengan kaleng bekas roti di rumah, mudah kan? Atau sekedar silaturahim ke orang-orang yang hendak maupun baru kembali dari pergi haji, rasakan emosinya. Lengkapi juga langkahmu dengan mengilmui seluk beluk ibadah haji ini: membaca buku-buku haji, googling di internet, tanya ke ustadz, dll.

Atau Bro & Sis ingin membangun sebuah pesantren tahfidz qur'an dan lembaga pendidikan komprehensif mulai dari PAUD hingga Universitas? Maka mimpikanlah sekarang! Dan segera ikuti dengan menjalin silaturahim dengan orang-orang berpikiran positif yang sevisi. Atau melihat-lihat profil sekolah/pesantren unggulan di internet atau datang mengunjunginya. Namun intinya, tidak penting apakah langkah yang kita ambil itu kecil atau besar, karena Dia hanya melihat kesungguhan kita melangkah. Kemudian biarkan Dia yang akan memberikan kepada kita jalan-jalan kemudahan untuk mewujudkannya.

Ikhtiar adalah kewajiban kita, sementara anugerah adalah milik-Nya...

13 Oktober 2011

Awas Keplarak...!!!

Foto ini diambil oleh Jundi, anakku (kelas 2 SD) waktu mau periksa ke RSUD Bendan Pekalongan. Dan peringatan lantai basah seperti ini sering kita dapati di tempat-tempat layanan publik lainnya. Padahal di sana sebagian besar masyarakatnya tidak paham bahasa Inggris. Alangkah baiknya pabrik pembuat instrumen seperti ini menyesuaikan diri dengan pangsa pasarnya. Atau paling tidak melengkapinya dengan terjemahan Bahasa Indonesia. Mau jualan di Indonesia toh?

03 Oktober 2011

Hari Batik Nasional

Selamat ber-Hari Batik Nasional!

Bro & Sis, konon hari ini dinisbahkan sebagai Hartiknas. Makanya hari ini ane pakai baju batik, hehe... Ya, bukan latah lah. Kan ada instruksi walikotanya. Tahu 'kan, kalau pak dokter Basyir sang Walikota Pekalongan itu paling ngotot soal batik. Bahkan mengklaimkan bahwa Pekalongan itu sebagai pusat batik dunia. Wow!
Tapi jujur saja, ane paling tidak suka lho, pakai baju batik. Nggak tahu lah kenapa. Kalau dulu sih alasannya 'terlihat tua'. Tapi sekarang alasan itu tidak relevan lagi, kan faktanya sudah tua, hehe...
Namun ada secuil ganjalan di nurani ini jika pas pakai baju batik. Ane jadi teringat para kuli keceh (itu lho, para buruh batik yang saban hari harus berbasah-ria dalam memproses kain batik). Ya, ingat upahnya yang di bawah UMR, ya ingat segala deritanya dah.
Jadi, pada selembar kain batik, hanya para juraganlah yang benar-benar bisa menikmati hasilnya. Sementara para kuli keceh itu... yah, tetap saja belum sejahtera.

19 September 2011

Pelajaran dari Kematian

 Pak Kyai memimpin do'a dalam sebuah prosesi pemakaman

Mengawali pagi dengan takziah ibunda dari ustadzah anakku yang masih TK. Alhamdulillah, banyak hikmah bisa kupetik, antara lain secuil berikut yang hendak kubagi untuk Bro & Sis semua...
Bekal apa yang sudah kita siapkan untuk kematian kita kelak? Astaghfirullah... ternyata ane belum satu pun mempersiapkan bekal. Iman dan amal sholeh? Mungkin kita bisa mengklaim diri beriman dan telah melakukan amal sholeh. Namun apakah jaminan bahwa itu semua bakal diterima Allah SWT? Taqwa! Kata Allah, bahwa sebaik-baik bekal adalah taqwa. Ya, tentunya sebenar-benarnya taqwa. Wah, kalau ane mawas diri, rasa-rasanya ane bukan orang yang bertaqwa deh. Betapa tidak, masih banyak warning-warning dari Allah yang tidak kita patuhi sepenuhnya. Astaghfirullah...
Kalau ane lihat pada takziah pagi ini, seonggok jenazah hanya akan dibekali (yah, dibekali, bukan membekali diri), selembar kain putih dan doa dari sanak kerabat. Handai taulan dan sahabat? Mungkin yang banyak kolega, akan banyak yang ikut mengantarkan ke makam. Bagaimana dengan diri ini? Berapa kira-kira sahabat, tetangga dan kenalan yang akan ikut mengantarkan jasad ini ke liang lahat? Kata orang, semakin banyak yang ikut mengantarkan merupakan indikator kesholehan jenazah tersebut. Maka berapa orang pentakziah yang kita damba: puluhan, ratusan atau sampai ribuan kah? Astaghfirullah...
Perhatikanlah Bro & Sis, bahwa di setiap kesempatan ketika kita ikut menyaksikan prosesi penguburan jenazah, orang-orang ramai akan memasukkan benda-benda apa saja ke liang lahat itu. Mulai dari galah pengukur panjang dan lebar lubang, daun pisang, cuilan-cuilan kayu sisa potongan lempeng atau bambu penahan tanah, bahkan tali rafia dan kertas pembungkus batu nisan pun ikut dilemparkan. Karena orang-orang itu meyakini, bahwa tak boleh satu pun ubo rampe penguburan jenazah tertinggal, semua harus ikut dicemplungkan.
Ane jadi merenung, kok sama seperti sampah ya? Jadi beginilah diri ini jika mati kelak, akan ditimbun bareng sampah-sampah itu. Maka, pantaskah kita menyombongkan diri?

09 Juni 2011

Dan Korban Pun Mulai Berjatuhan...

[dari aktivitas perbaikan jalan]

Pagi tadi usai nganter Jundi ke SDIT Ulul Albab kuteruskan dengan mengantar si kecil ke PAUD Al Fikri. Di pertigaan Jl. Slamet - Jl. KHM Mansyur Pekalongan kulihat ramai kerumunan orang. O, nampaknya baru saja terjadi aksiden alias kecelakaan. Masih sempat terlihat olehku genangan darah yang sangat banyak. Aku gak sempat menyaksikan korbannya. Tapi dari jejak tumpahan darahnya bisa kupastikan orang itu meninggal.
Baru siangnya kuketahui, ternyata benar, seorang petugas polisi yang pagi itu sedang mengatur lalu lintas diseruduk truk dari arah selatan. Konon kepalanya pecah. Masya Allah...
Memang sejak Jl. Wilis diperbaiki beberapa waktu lalu, arus kendaraan besar dialihkan melalui Jl. KHM Mansyur. Sehingga ruas jalan yang biasanya normal mendadak padat dengan kendaraan kelas berat. Entah untuk berapa bulan lagi aktivitas perbaikan jalan itu selesai. Yang notabene, potensi jatuhnya korban laka lantas masih mungkin terjadi. Apalagi kalau melihat progressnya, sepertinya lambat banget.
Padahal baru Senin kemarin kudengar seorang siswi sebuah SMA Swasta di Pekalongan terlindas kepalanya oleh sebuah truk di depan Masjid Syuhada atau depan monumen Pekalongan. Penyebabnya sama, karena jalan di depan monumen itu sedang dikeruk, sehingga menyebabkan bergalur-galur dan banyak kerikil. Melintaslah sepasang pelajar mengendarai sepeda motor. Karena hendak menghindari rambu penunjuk arah di tengah jalan, si pengendara membanting stangnya, namun naas, sepeda motornya malah terjatuh. Si pengendara jatuh ke arah kiri dan hanya luka ringan, sementara temannya yang membonceng jatuh ke sisi kanan dan tepat berada di kolong truk yang sedang melintas.
Aku tidak tahu, bagaimana prosedur standar dalam proyek perbaikan jalan. Namun secara mata awam kulihat, potensi musibah akibat proyek ini sangatlah besar. Coba lihat, setelah aspal jalan dikeruk, menyebabkan guratan-guratan di permukaan jalan. Ini berpotensi menggelincirkan roda sepedamotor yang sudah gundul. Belum lagi kerikil-kerikil yang berserakan dan debu yang beterbangan, sangat mengganggu para pengguna jalan. Yang aku tak habis pikir, kenapa mengeruknya tidak bertahap, separuh lebar jalan dahulu baru jika sudah selesai, separuhnya lagi. Ini tidak, selebar permukaan jalan dikeruk semua, sudah gitu, tidak langsung difinishing melapisi ulang dengan aspal hotmix...