Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Anak. Tampilkan semua postingan

15 Februari 2013

Hari Ketiga Edisi Mengurug Masjid

Subhanallah, rupanya sejak dua hari kemarin bermain-main tanah dengan para santri, sampai hari ini pun masih berlanjut. Bahkan kali ini hampir semua santri ikhwan terlibat. Sehingga estafeta ember untuk mengangkut tanah lebih dekat jaraknya. Jadi jika dua hari kemarin yang berjalan orangnya, hari ini embernya.

Cukup meriah juga nih... Para santri ikhwan juga sangat bersemangat. Alhamdulillah hasilnya cukup memuaskan. Walaupun jika dibanding dengan banyaknya tanah, pekerjaan gabungan tiga hari ini masihlah sekitar sepuluh persenan kurang. He...

Mudah-mudahan mereka masih enjoy untuk diajak kerja bakti beberapa hari ke depan. O ya, di hari ketiga ini, pegel-pegel di pinggangku sudah sembuh. Alhamdulillah. Semakin yakin dengan teori: jika pegel berlanjut, mencangkul juga berlanjut!

Lihatlah, tanah urugan ini masih butuh sentuhan Anda...

14 Februari 2013

Santri Ikhwan Ngiri

Jika kemarin yang serakah pahala santri akhwat, hari ini adalah edisi ikhwan. Ya, si Fahmi, Huda, Rama, Farhan dan Daffa pun ingin menorehkan sejarah, bahwa keringat mereka turut menjadi saksi pembangunan Masjid Al-Anshor di kawasan pondok pesantren kami, SMPIT Assalaam Boarding School Pekalongan.

Lho, kok cuma lima orang? Bukankah santriwannya ada 21 orang? Benar. Sebagian yang lain sedang istirahat siang. Maklum, jika melaksanakan "kemisan" begini, mereka rata-rata giat memanfaatkan waktu istirahat siangnya. Namun jika tidak sedang puasa sunnah, pasti jam-jam segini sedang asyik-asyiknya main futsal di halaman.

Nah, supaya yang tidak melaksanakan shoum sunnah juga dapat pahalah, maka saya ajak kerja bakti memindahkan tanah urugan ke bakal masjid kami.

Padahal pinggang saya masih terasa mlanjer nih, gara-gara kemarin mencangkul sesorean. Maklum, biasa pegang mouse disuruh pegang cangkul. Begini jadinya. Namun kucoba teori: jika sakit berlanjut, maka kerja bakti juga harus lanjut. He...

13 Februari 2013

Sesekali, Kita Perlu Memberikan Atmosfer "Pemberontakan" Kepada Anak Anak Kita

Ya. Sesekali. Saya kira tidak mengapa.
Seperti yang saya lakukan hari ini, mengajak para santri "memberontak" dari kebiasaan. Mumpung hujan sore-sore, usai sholat ashar berjamaah dan murojaah, mereka kutawari "Ayoo, siapa mau hujan-hujanan berpahala?"
Sontak beberapa jemari mengacung diiringi teriakan heboh, "Saya Tadz, saya Tadz!!"

"Oke, siapkan plastik!" perintahku.
"Untuk apa Tadz?" tanya seorang santri.
"Melindungi kepala kalian, biar tidak flu."
"Idih, ya malu Tadz, kalau dilihat orang," alasan mereka.
"Aku nggak mau pake ah!" timpal yang lain.
"Aku juga!"
"Aku juga!"
Jadi deh, semua tidak mau melindungi kepalanya dari tetesan "rahmat Allah".  Semoga saja habis ini tidak pada meriang. Ya Robbi, kami berlindung dari penyakit karena bermain-main dengan hujanMu ini...

"Eh, sebentar! Bukankah kalian ada ekskul jurnalistik?" saya menghentikan langkah.
"Alaaah... Bosen ah Tadz!" seru salah satu.
"Iya Tadz, sekali-kali refreshing gitu dong," timpal yang lain.
"Oke, konsekuensi dimarahi ustadzah Azmi tanggung sendiri ya!"
"Oke Tadz, nggak pa pa!" jawab mereka kompak.
"Dan.... resiko kena poin tanggung sendiri ya?!" godaku.
"Yaa... masak mau bantu membangun masjid kok kena poin. Tidak adil dong!" mereka masih protes.
"Gini aja wis, kami kena poin nggak apa-apa. Tapi kerja bakti ini juga dikasih poin plus dua kali lipatnya ya Tadz?" rayu salah satu.
"Yee... maunya. Biar nggak tekor ya? Haha... Ada-ada saja ide kalian ini! Sudah ah, let's go girls!" perintahku memotong protes mereka yang bertubi-tubi.

Berbaris otomatis membuntutiku, Salma, Hana, Muna, Nadia, Dita dan Salsa. Lho, kok cuma enam ekor? He... yang lain males karena sudah mandi sore katanya. Oke, tak mengapa. Enam orang cukup lah.
Kami bertujuh beriringan menuju "tempat permainan" itu: onggokan tanah urugan di sebelah utara bakal masjid kami. Seperti satu regu tentara siap tempur, masing-masing membawa senjata: ember dan cetok.
Sayangnya, di tengah keasyikan kami, hujan berangsur reda. Wah, nanggung nih.
"Yaah... Hujannya berhenti.." Hana kecewa
"Ustadz, kurang asyik nih!" protes Salma
"Iya Tadz, nggak asyik," Muna tak mau kalah
Lho..lho..lho... kok protesnya ke ustadz? Protes sama Allah sana, kalau berani. He...
"Sudahlah, nanti usai kerja bakti ini, ustadz siram pakai selang," bujukku
"Bener ya Tadz? Asyiiikk....," Dita, Nadia dan Salsa langsung bersemangat kembali.

Sang "Pemberontak": Salsa, Muna, Hana, Salma, Nadia, Dita

***
Eeh... di tengah asyik-asyiknya kami memindahkan tanah urugan itu ke dalam bakal masjid kami, pak Kyai berteriak, "Sudah jam lima seperempat!"
Tak terasa time is over saudara-saudara... Jadi terpaksa kami menyudahi keasyikan ini deh.
"Come on ladies, saatnya bebersih diri!"
"Yeee.... Asyiiiikk....!!!"
Dan mereka pun asyik bebersih di bawah "hujan buatan" yang tercurah dari ujung selang hijau di tanganku...

04 Februari 2013

Dari Langit

"Dari langit," jawab Irfan (5 th) anak kelimaku antusias.

Irfan (5 th)
Memperhatikan hamparan sawah di belakang "apartemen" lantai duaku serasa luruh sudah semua rasa lelah. Ya, lelah jiwa ini mendengar, membaca dan melihat reaksi orang-orang yang mengolok-olok PKS. Biarlah, kelak mereka akan tahu.
Oke, mari kita kembali ke pengalaman siang tadi. Irfan dan saya menikmati hamparan sawah nan menghijau di belakang "apartemen". Sebagian besar telah rapat dengan tumbuhan dari keluarga rerumputan itu. Sebagian kecil lain, yang lebih dekat ke kaki apartemen ini, masih renggang-renggang. Di sela-selanya dapat kami lihat dengan jelas air beningnya dengan endapan lumpur di dasarnya.
"Bi, aku pernah main-main di situ sih," tunjuk Irfan ke arah sawah tepat di bawah kami.
"Pas waktu kering ya?" tanyaku
"Nggak, pas sudah basah gitu," sergahnya
"Sama siapa saja mainnya?"
"Sama Azmi."
Ketika kulihat beberapa ikan kecil berenang, kucoba memancing nalar anakku yang masih duduk di bangku TKIT Ulul Albab 2 itu.
"Eh, ada ikannya tuh... Irfan lihat tidak?" kataku. Irfan pun mengarahkan pandangannya mengikuti telunjukku.
"Waktu sawahnya kering, ikan-ikan itu pergi kemana ya?" pancingku. "Kan kalau tidak ada air, ikan tidak bisa hidup. Nah, sekarang saat musim hujan seperti sekarang ini, tiba-tiba sudah banyak ikan di sawah. Kira-kira dari mana ya datangnya ikan-ikan itu?"
"Dari langit, Bi," jawab Irfan tegas. Dari intonasinya, dia sangat yakin jika jawabannya tepat.
"O ya? Bagaimana caranya?"
"Kan, Allah menurunkan telurnya lewat hujan,"
Hm... jawabannya masuk akal juga ya?

02 Februari 2012

Insiden Siang

"Ustadz, kepalanya Fahmi bocor, Tadz!!" teriak salah seorang anak sambil lari tergopoh-gopoh menemui ustadznya.
Teman-teman lainnya serempak mengikuti. Jadilah suasana siang itu rame dengan 'lomba pemberitahuan' anak-anak
"Ustadz, kepalanya bocor!"
"Ustadz, bolong Tadz!"
"Ustadz, darahnya banyak sekali!"

Padahal, kenyataannya tak sedramatis itu. Memang, kepalanya terluka dan berdarah, bahkan lumayan banyak. Dasar anak-anak, kalau tidak heboh, bukan anak-anak namanya. Cuma jika tidak tenang menyikapinya, malah ikut panik, ya sudah, tambah sukses deh horornya, hehe...

Tak menunggu waktu, sang ustadz pun segera menuju ke arah Fahmi, sang korban dimaksud. Di seberang lapangan sekolah, di samping tempat bermain TK, 'sang korban' menahan luka di dahinya. Darah segar terus mengalir dari sela jarinya, menodai seragam batiknya.

"Ayo bawa ke UKS!" perintah sang ustadz sambil memapah Fahmi.

Ternyata setelah luka dibersihkan, petugas UKS tidak bisa menangani karena terlalu lebar. Luka Fahmi harus dijahit. Bergegas sang ustadz membawa ke rumah sakit. Untungnya, jarak dari sekolah ke rumah sakit hanya 500 meter. Di UGD, dua orang suster sigap melayani. Luka itu pun dirapatkan dengan 2 jahitan. Alhamdulillah

"Bagaimana bisa begitu?" tanya karyawan lainnya.
"Mungkin jatuh dari mainan TK itu" jawab seorang anak mencoba menganalisa.
"Tadi kak Fahmi mainan di atas itu, Tadz. Terus dia loncat ke bawah dan kepleset. Kepalanya membentur batu ini," teman yang lain tak kalah seru menjelaskan. Padahal ia sendiri bukan saksi mata.

Hehe... dasar anak-anak

21 Desember 2011

Kabar Gembira dari SMP IT Darul Fikri Bawen

Selasa, 20 Desember 2012. Pukul 09:14:38

Kring.. kring...

Itu bukan bunyi bel sepeda pak pos jaman dulu, melainkan nada sms ponselku.

"Assalamu'alaikum wr. wb. Akh, insya Allah bisa diterima, bisa segera ditindaklanjuti..." demikian bunyinya. Singkat dan... melegakan. Alhamdulillaah...

Pesan singkat dari Pak Loemiyono, Kepala SMP IT Darul Fikri Bawen itu mengabarkan bahwa Zaid, anakku nomor 2, berhasil lolos seleksi untuk dapat menjadi santri di sana. Ini merupakan seleksi khusus bagi calon santri yang sudah duduk di tingkat VIII. Sebelumnya Zaid bersekolah di sebuah MTs di daerah Gunungpati Kota Semarang.


Mengapa bersikeras pindah? Bukankah sekarang 'nanggung'? Sudah duduk di kelas VIII dan di pertengahan semester pula? Alasan utama kami karena di MTs tersebut, lingkungannya kurang kondusif. Banyak siswa yang hobi membolos dan kongkow-kongkow pada jam pelajaran sembari berpesta rokok. Alasan kedua, Zaid bersekolah di MTs tersebut sebenarnya karena sedang mondok di sebuah pondok tahfidz Qur'an (yang belum memiliki gedung sekolah sendiri, sehingga santrinya di sekolahkan di "luar"). Namun karena sekarang sudah tidak mondok lagi, ya otomatis tidak ada alasan yang pas untuk tetap mempertahankan sekolah di sana.

Semoga kelak di SMP IT Darul Fikri, nilai-nilai fitrah Zaid (dan santri lainnya) bisa terjaga dan terus melejit meraih kecemerlangan prestasi dunia-akhirat... Aamiin....

18 Juni 2011

Usia Baligh Politik

Tadi pagi habis subuh, ikut melepas anak nomor dua yang mondok di Rumah Penghafal Al-Qur'an "Rijalul Qur'an" Gunungpati Semarang. Ustadz Zulfa (pengasuh pondok) yang biasa disapa Abi oleh para santri melepas kontingen Rijalul Quran pada Mukhoyam Pandu Keadilan Dasar I (MPKD-1) yang dilaksanakan sejak hari ini sampai besok di Bumi Perkemahan Nglimut Gonoharjo Kendal. Hah, masih usia SMP sudah diikutkan Mukhoyam? Bukankah MPKD ini salah satu kegiatan PKS?
Mungkin banyak di antara Bro & Sis yang bertanya-tanya semacam itu ya? Kok anak-anak belum usia memilih sudah diikutkan kegiatan partai, kan melanggar UU? Kalau menurut ane sih, UU-nya yang musti direvisi tuh. Hah? Justru sejak dinilah anak-anak kudu dikenalkan dengan aktivitas politik. Agar kelak ketika mereka sudah masuk pada usia baligh politik, dapat berpolitik secara benar. Tidak seperti kiprah para politikus yang banyak kita dengar selama ini.

24 Juli 2010

Setiap Kita Adalah Pemberani

Jundi asyik bermain api, tidak takut potensi bahayanya sedikit pun


Bro & Sis,
Ternyata, setiap kita adalah pemberani, lho! Tidak percaya? Lihatlah ketika kita masih kecil. Kita bebas bermain apa saja tanpa memikirkan potensi bahaya di baliknya. Setiap ekspresinya adalah natural bukan artifisial. Itulah fitrah!
Namun setelah beranjak dewasa, kebanyakan informasi yang menjejali otak kita adalah hal-hal yang menciutkan nyali kita. Jadilah kini, kita menjelma menjadi penakut dan pengecut. Kita melupakan fitrah kita.
Maka, jika kita ingin keluar dari krisis yang membebat kehidupan kita, mari bergegas kembali pada nilai-nilai fitrah. Insya Allah, badai 'kan segera berlalu...

23 Juli 2010

Aset itu Bernama: Anak

Irfan berakting a la pejuang kemerdekaan dengan "tebu runcing"nya. Latar belakang pembakaran limbah panen tebu, lokasi depan rumah.


Bro & Sis, lama nih nggak niliki blog... Mumpung ada momen HAN, pengin berceloteh sedikit tentang Anak.

Bicara tentang anak, angan saya nyangkut pada pepatah jawa kuno: 'banyak anak banyak rejeki.' Saya pikir-pikir, ternyata pepatah itu muncul dari sebuah semangat keislaman yang luar biasa. Betapa tidak, hal itu masuk dalam wilayah aqidah! Dalam aspek aqidah, seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah SWT itu Maha Pencipta, Pemberi sekaligus Pengatur Rezeki. Dan -sesuai hadits nabi yang mengatakan bahwa- setiap anak telah ditulis baginya 4 perkara tatkala dia berumur 120 hari sejak terjadinya pembuahan: ajal, rezeki, jodoh dan nasibnya (lihat hadits arbain tentang penciptaan manusia). Itu artinya, rezeki tiap manusia sudah ada kavlingnya sendiri-sendiri, tidak mungkin saling tukar ataupun saling serobot. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator mengalirnya rezeki itu dari Allah SWT ke anak-anak kita.

Maka tidak mengherankan pada tahun-tahun awal terlibat dalam dunia tarbiyah, saya 'dikompori' untuk segera menikah dan memiliki banyak anak. Mengapa? Karena itu merupakan 'bukti' proses tarbiyah yang telah dijalani telah benar-benar berhasil mencelup aqidah kita. Wajarlah jika era itu menjadi era semangat nikah dini bagi para aktivis dakwah kampus. Bahkan kawan saya, seorang ketua Rohis yang belum usai kuliahnya dan belum memiliki penghasilan tetap pun berani menikah (kini dia telah siap mantu).

Anak adalah aset kita yang tak ternilai harganya. Apalagi bagi para aktivis dakwah, anak berarti mutarobbi (kader binaan) abadi yang jelas-jelas langsung akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Maka sebagai aset, para orang tua berkewajiban membekalinya dengan aqidah yang lurus, pendidikan yang islami, sehingga potensinya akan berkembang dengan baik dan benar secara syar'i.

17 Februari 2010

Selamat Ulang Tahun Irfan



Bro & Sis,
Hari ini, putra kelimaku, Irfan, genap berusia 3 tahun...
mohon do'anya, agar si gendut sholih ini kelak menjadi imam bagi ummat, yang senantiasa menegakkan kalimat Allah, dan menebar kebajikan dalam setiap desah nafasnya...

11 Februari 2010

Gara-Gara Semut!

Ini kisah petang tadi.
Irfan, anak kelimaku yang baru berusia 3 tahun, bermaksud menghabiskan jus jambu kemasan dus milik kakaknya. Tanpa pikir panjang, dia menghisap sedotan yang masih menghunjam dalam dus jus itu. Baru seteguk dia menyedot, tiba-tiba, "hoek... hoek..." Apa gerangan yang terjadi?
Ternyata di dalam sedotan itu telah menyusup seekor semut gula yang panjangnya kira-kira 4mm. Kontan dia menangis sejadi-jadinya dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Padahal kondisi dia sedang demam, dan baru saja tadi saya berhasil menyuapi habis makan malamnya.
Namun kehebohan tidak berhenti sampai di situ. Ternyata sang semut masih menempel di larinxnya. Seperti spiderman menempel di karung tinju! Sementara Irfan tidak mau membuka mulutnya untuk kami "operasi" guna mengeluarkan sang teroris. Pun dia tidak mau minum air putih banyak-banyak seperti yang kami sarankan. Dia hanya mau menangis, hingga akhirnya tertidur kelelahan...
Oalah... gara-gara semut seekor, makan malamnya keluar semua. Saluran drainase kamar mandi mampet terkena muntahan dan kini dia tidur tanpa bekal makan yang cukup. Ya Allah... sembuhkanlah putraku... kembalikan predikat "gendut sholih"nya kepada kami... Amin...

13 Maret 2009

Antara Pelecehan Seksual dan Poligami

Tempo hari nggak sengaja sempat ngintip acara infotainment yang menyorot 'perang' antara Kiki Fatmala dan Saipul Jamil. Masing-masing pihak bersikeras merasa dirinya paling benar. Sebelumnya diberitakan lakon Syeh Puji sang Milyarder dari kabupaten Semarang, rupanya kisah perkawinannya yang menggegerkan itu masih akan terus menuai kontroversi.

Tentang Perang Kiki-Saipul, menurut ane sih naif banget. Gimana tidak, lha wong sikonnya aja mendukung, dan kedua pihak adalah artis! Coba bro & sis lihat, (kata entertainment sih) dalam suasana sehabis shooting film (yg menurut ane adegane vulgar banget, gak pantas jadi tontonan), si Saipul nambah bonus nyentuh bokongnya Kiki, trus Kikinya naik pitam, anggap Saipul kurang ajar! Weleh... weleh... lha wong habis adegan begituan di depan kamera gak apa2 kok disentuh2 protes. Harusnya kan malah bersyukur di'bonus'i Saipul. Kalo gak mau disentuh ya jangan maen film yang gituan tho nduk... nduk...! Jadi menurutku 'insiden' itu 'wajar' terjadi.

Lha kalau tentang si Bos dari Kab. Semarang ini laen lagi critanya. Dia nikahi Ulfa secara sah, bahkan sudah memplotnya sebagai Direktur salah satu perusahaannya. Artinya, secara agama dia tidak salah, lha wong Ulfa sudah baligh kok... lagian ulfanya mau, gak nangis kayak Siti Nurbaya yg dipaksa kawin ama Datuk Maringgih. Dari sisi penghidupan, Syeh nyentrik ini juga sangat-sangat bertanggungjawab, dia sudah menyiapkan sumber penghasilan untuk Ulfa sendiri. Heran juga ane, merka itu alih-alih menegakkan UU Perlindungan Anak dan UU Ketenagakerjaan, jadinya justru cari muka doang di TV! Lha mbok, urusi tuh anak-anak korban penculikan, korban jajanan sekolah yang tidak menyehatkan, de el el. Urusi juga pengangguran yang makin lama makin tambah banyak... Gimana solusinya?
Jadi menurutku, sudahlah rumah tangga mereka gak usah diutak-utik. Itung-itung mengentaskan jumlah perawan di negeri ini (yg katanya rasio laki:perempuan gak imbang) plus pengentasan pengangguran. Yo pora?

31 Januari 2009

Hayoo... Siapa Yang Bermasalah?

Aquariumnya Jundi. Keren 'kan?

Pagi itu jam menunjukkan pukul 07.30 WIB. Saat seharusnya istriku sudah harus tiba di TKIT Ulul Albab, tempat ngajarnya. Namun karena berangkatnya harus bareng Jundi (anak keempat kami yang masih kelas B), maka terpaksa menunggunya hingga selesai sarapan.
Sementara uminya ngomel-ngomel karena bisa dipastikan terlambat tiba di sekolah, Jundi alih-alih bersegera, ee... malah asik ngopeni piaraan barunya: ikan mungil (semungil yang punya).

Ia dengan penuh kasih memindahkan ikannya ke cangkir. Sejurus kemudian dengan perlahan tangan mungilnya memunguti bebatuan kecil dan 'rumah ikan' yang terbuat dari bekas serutan pensil miliknya. Memindahkan sementara keluar aquarium. Berikutnya membuang air aquarium yang sudah kotor, membersihkannya dan mengisinya kembali dengan air bersih. Lantas ia memindahkan rumah ikan, memunguti kembali bebatuan satu per satu dan menatanya dengan rapi ke dalam aquarium yang terbuat dari bekas toples susu.

Jarum panjang sudah menunjuk ke angka 9. Jundi sambil mengulum nasi sarapannya yang baru separuh habis, asik mengamati ikan kesayangannya. Tentu saja ini membuat uminya semakin uring-uringan. Dan antum bisa menebak, reaksi selanjutnya bukan?

Bro & Sis, itulah salah satu potret kehebohan pagi hari keluarga kami. Pernahkah antum (yang sudah berkeluarga) merasakan hal serupa? Ane yakin paling tidak Antum pernah menyaksikan peristiwa seperti itu.

Menurut ane, Jundi tidak bisa disalahkan. Karena memang seperti itulah dunianya, dunia anak-anak yang penuh dengan keasyikan. Terlambat sekolah? Itu bukan masalahnya bukan? Karena bagi anak, sekolah sama halnya dengan bermain. Ia tidak bisa diikat dengan sebuah peraturan yang mewajibkan harus begini dan begitu.

Jadi, siapa sesungguhnya yang bermasalah?

29 Januari 2009

Pendidikan Anak ala Indonesia vs Jepang

Bro & Sis,

Kemaren ane menegur Bu Lik. Itu tuh, pengasuh anak kelima kami, Irfan (2 th). Habisnya dia salah sih, dalam mendidik Irfan. Ceritanya siang itu seperti biasa, sepulang menjemput istri bekerja, kami mampir ke Bu Lik untuk mengambil Irfan. Nah, begitu melihat kami datang, ia pasti berlari menghambur ke pelukan uminya.

Sayangnya siang itu Irfan terlalu kenceng berlari hingga terjatuh. Mungkin saking kangennya kali ya? Reflek si Bu Lik tadi berlari menghampiri Irfan dan menggendongnya. Lantas untuk menghentikan tangisnya, ia pun memukul-mukul lantai sambil berujar, "Kodoke nakal ya, biar ibu pukul! He kodok, jangan nakal sama Irfan lagi. Rasakan ini!" dan... plak-plok-plak-plok!

Sepintas tindakan Bu Lik itu dibenarkan. Namun sebenarnya itu salah dalam kacamata pendidikan anak. Parahnya lagi, salah kaprah itu sudah turun-temurun tujuhpuluhtujuh generasi. Bisa dibayangkan, seperti apa karakter anak itu kelak?

Pertama, ia dididik untuk mencari kambing hitam (kasihan tuh si kambing, enakan disate ya?) atau kodok hitam atau sebangsanya yang item-item untuk pelampiasan. Jadi si anak diajari bahwa 'kamu tidak salah, yang salah tuh pihak lain', anak tidak diajari tanggung jawab.

Kedua, anak dididik untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan. Lihat gaya Bu Lik tadi memukul lantai (kalau ini, yang seneng tukang batu, bakal dapat order betulin lantai nih).

Ketiga, 'kasih sayang' yang diberikan ketika anak dalam masalah justru mengakibatkan 'rasa ketergantungan' yang akut, tidak mendidik anak untuk mandiri.

Ane jadi ingat cerita seorang kawan yang pernah hinggap di Jepang. Di sana, penanganan kasus seperti itu sungguh berbeda. Nih, penuturannya:

Suatu sore saat saya duduk ngopi di sebuah taman kota, terdengar tangisan seorang anak balita memecah keheningan. Sang ibu yang telah beberapa langkah di depan anak tersebut segera menghentikan langkahnya, menoleh dan tetap diam (Wah, tega amat nih! Eit, jangan su'uzhon dulu!). Si anak yang tergores lututnya dan sedikit berdarah itu semakin menjadi tangisnya. Namun hal itu tidak menggoyahkan ibunya yang tetap berdiri diam di tempatnya, tak sesenti pun mendekati si anak, apatah lagi menggendongnya. Boro-boro! Pun orang-orang yang ada di taman itu, sepertinya cuek saja. Sampai beberapa lama, akhirnya sang anak berdiri sendiri, tangisnya sudah agak mereda. Kemudian si ibu mengulurkan tangannya. Sang anak pun meraih tangan ibunya dan melanjutkan perjalanannya, sambil sesekali terisak.

Subhanallah! Pantasan karakter orang Jepang itu: pekerja ulet, mandiri, tahan banting dan bertanggung jawab. Sementara kita???

14 Januari 2009

Nganter Umar Back to School


Senin [12/1] kemaren nganter Umar, anak ketigaku, by Fit [maksudnya naik suprafit kesayangan] ke Sekolah Alam Ungaran. Masya Allah, sepanjang jalan sejak keluar kota Pekalongan hingga nyampe di rumah eyangnya Umar di Sumurejo, Gunungpati, kami diguyur hujan.
Bersyukur kami di sini diguyur hujan. Yah, hujan air walaupun berpotensi mendatangkan bencana banjir dan longsor, tapi juga membawa manfaat yang banyak. Bagaimana rasanya ya, sepanjang hari diguyur hujan bom seperti yang dialami saudara-saudara kita di Palestina?
Mari Bro & Sis, kita doakan mereka agar tabah menghadapi musibah perang ini. Dan doakan pula bangsa Yahudi dan Israel agar segera menghentikan kejahatannya, jika tidak ingin diadzab oleh Allah SWT.

09 Januari 2009

Hujan Sore-Sore, Enaknya Ngapain Ya?

← Zaid & Jundi sedang asyik melanglang buana dengan Google Earth (ketimbang main hujan-hujanan, bisa mriang nanti). Foto terpaksa direkayasa, karena backgroundnya gak layak tampil di sini. Berantakan abis, karena bocor dimana-mana :-(

Bro & Sis,
Sore ini hujan di langit kotaku. Brrr.... dingin udara menusuk sumsum. Apalagi bocoran yang mengucur di sana-sini, jadi tambah malas untuk beraktivitas apa pun.
Ada tips uhuy buat Antum nih. Tapi maaf, hanya untuk yang sudah punya istri atau suami saja. Jadi, yang bujangan dilarang baca posting ini! Oke, aktivitas kala hujan seperti ini, yang paling asyik adalah rekreasi berdua. Lho? Hujan-hujan kok malah disuruh rekreasi? Benar, tapi maksud ane rekreasi di rumah aja. Itu lho, 'rekreasi' yang fungsi lainnya adalah prokreasi, berdua saja (ehm... tahu kan, maksudku?). Tanpa gangguan anak-anak, mana bisa? Bisa. Alihkan saja perhatian mereka ke permainan yang mengasyikkan.
Sebagai contoh, lihat tuh Zaid dan Jundi. Mereka asyik bergoogle-earth-ria setelah ane kasih tahu cara-caranya. Zaid sibuk meng-add-placemark di tempat-tempat yang ia kenal. Mulai dari sekolahnya, rumah eyangnya, kantor DPD yang biasa kami mampir, dan lain-lain. Antum bisa lebih kreatif lagi mengalihkan perhatian anak. Hm... Jadi, jika mereka tersibukkan dengan sesuatu yang mengasyikkan, pasti takkan bergeming ke mana pun. Pastikan pintu terkunci dan... sssst... jangan brisik!
Tapi sayang, hujan gini ane gak bisa 'rekreasi' bareng istri (hiks...). Karena istri ada liqo' (pengajian) rutin di sekolahnya. Duh kaciaaan... (Nggak juga sih. Ane kan asyik main-main sama anak-anak di rumah. Sekalian memberikan pengetahuan dan eksplorasi pengalaman mereka di dunia maya. Weee....)

07 Januari 2009

Homeschooling

Bro & Sis
Beberapa hari terakhir ini ane sedang asyik mengikuti salah satu milis tentang homeschooling (HS) alias Sekolah Rumah. Sebenarnya ketertarikan ane sudah lama, hanya tempo hari sempat nyasar ke milis ini jadi sekalian aja subscribe mumpung sempat.
Pengin sekali rasanya meng-HS-kan anak-anak sejak putri pertamaku (kini kelas 7) mau masuk TK dulu. Namun keinginan menggebu itu terpaksa ku"mendarat-darurat-kan" karena istri nggak sepakat. Alasannya "masa depan" anak bakal suram, karena di Pekalongan, belum ada komunitas HS-er dan Diknas belum mensupport. (Weleh, emangnya kalau sekolah formal dijamin "masa depan cerah" apa?)
Memang kuakui, latar belakang munculnya keinginan meng-HS-kan anak-anak adalah tidak sregnya hati ini dengan kurikulum dan metode pembelajaran di sekolah formal. Sementara ada yang agak sreg (yakni di TKIT dan SDIT) namun terbentur biaya (yang menurut ukuran kocek kami termasuk mahal. Ehm, ralat, sebetulnya nggak mahal sih, hanya kami-nya aja yang belum kaya, hehe...)
Ane yakin, bahwa dengan memberi ruang yang luas kepada anak untuk mengembangkan kreativitasnya, niscaya mereka akan menemukan jatidirinya. Sayangnya kurikulum pendidikan di negara kita belum mengarah ke sana. Dan sekolah-sekolah swasta yang mulai menerapkan kurikulum yang bagus, berkecenderungan mahal di ongkos. Wah, dilematis jadinya.
Kapan ya, mutu pendidikan negeri ini bagus dengan biaya murah? (Syukur-syukur gratis.. tis.. tis...)

20 Desember 2008

Keceriaan Dibalik Musibah

Bro & Sis,
Sore ini hujan deras mengguyur di langit Pekalongan. Seperti air seember besar ditumpahkan pada segayung wadah. Akibatnya dalam beberapa menit saja seantero Pekalongan sudah tergenang. Beberapa tempat yang agak cekung, lumayan kedalaman banjirnya, hingga setengah meter.
Sedianya ane mau keluar rumah mengantarkan barang cetakan (brosur caleg PKS Kec. Pekalongan Timur), tapi akhirnya ane batalkan melihat derasnya hujan sore ini. Sementara itu istri (dan teman-teman gurunya) sedari pagi lembur di TKIT Ulul Albab mengisi rapor. Kami bertiga (ane, Zaid [anak kedua, kls.6] dan Jundi [anak keempat, TK B]) menikmati hujan ini di rumah.
Lama-lama miris juga melihat hujannya semakin menjadi-jadi. Betapa tidak, ternyata "hujan"nya juga pindah ke dalam rumah kontrakan ane! Dari 6 ruang (2 kamar tidur, ruang tamu, ruang keluarga, km/wc, dapur) cuma kamar tidur yang aman, itu pun terdapat beberapa tetes kebocoran. Selainnya, kami harus berpayung jika tidak ingin basah kuyup.
Pontang-panting diri ini mengantisipasi kebocoran, sendirian. Masya Allah... air dengan cepatnya menelusup dari segala arah. Walaupun banjir ini cuma sebatas kaki (kodok), membuat ane sumpek juga. Akhirnya ane menyerah... Tentunya setelah berusaha maksimal dan mengerahkan segenap sumber daya (ember, panci, baskom, rantang, karpet, kain-kain bekas). Itu pun ternyata masih ada bocoran yang tidak tercover dan luberan air dari depan dan belakang rumah, tak terbendung!
Sementara anak-anak malah asyik bermain bola di tengah musibah. Tidak berempati atas kesusahan orang tua membendung banjir lokal ini. Dasar anak-anak, mana ada rasa sedih. Namun sebagai orang tua yang bijak (cieee...) ane tidak boleh memarahi mereka. Bagaimana menyikapinya nih?
Aha, dapat ide! Ane instruksikan saja mereka untuk melucuti pakaian, kecuali celana pendek. Terus ane kasih kain pel dan.... "Oke anak-anak, sekarang permainan kita ganti dengan Banjir Skate!" Eh, apaan tuh? "Kalian boleh seluncuran di lantai dari ruang tengah ke depan, sambil menyapukan kain pel". O ya satu lagi, mas Zaid (yang hobi jadi keeper di ekskul sepak bola-nya) bertugas jaga gawang! Itu tuh, ember penampung bocor, yang jika sudah penuh harus segera dibuang. Wow, mereka menyambut antusias, berhasil!
Nah, sistem "antisipasi banjir" sudah berjalan "otomatis". Kini saatnya istirahat, untuk hemat energi sih. Karena nanti jika sudah reda, ane toh harus bersih-bersih seluruh lantai rumah ini, tanpa bantuan mereka. Dan ini akan menyita banyak energi bukan? Hehe... licik ya?

19 Desember 2008

Yuk... Ikutan Al-Zaidi, Nglempari Wajah Bush!

Tak sengaja ngeklik link punya teman. Eh, ternyata yang nongol situs yang nampilin game [ini nih] melempari wajah Bush dengan sepatu. Hehehe... ada-ada saja nih programmernya. Anyway, menyenangkan juga untuk obat stress... Bahkan anak-anakku juga suka nih...
Tapi kalo Bro & Sis pengin lebih asyik lagi dan cepet kaya, ikutin aja jejak wartawan TV Al-Baghdadiyah itu. Temui tokoh terkenal dan bluk.. bluk... lemparkan sepatu atau bakiak antum ke wajahnya! Maka serta merta antum akan jadi terkenal dan kaya!
Lha iya to, nanti sepatu atau bakiak antum ada yang nawar sampai 50 Milyar. Atau antum akan direkrut oleh sebuah perusahaan yang bonafid dan akan membayar sejak bakiak pertama antum lemparkan. Tapi antum kudu siap-siap juga, menderita patah tulang, luka sayatan dan tubuh yang "dipresto" alias remuk redam, seperti yang dialami Muntadar Al-Zaidi di penjara!