Keterangan Resmi Presiden PKS, Luthfi Hasan Ishaaq Terkait Isu Penyuapan.
Assalamu'alaykum warohmatulloh wabarokaatuh,
Pertama kami mengapresiasi kinerja KPK dalam melakukan pemberantasan korupsi. Kita berharap pemberantasan korupsi di Indonesia terus berjalan dengan baik sesuai dengan aturan undang-undang yang sudah ada.
Yang kedua, saya agak terkejut tadi mendapatkan berita dari kawan-kawan bahwa di KPK, ada pernyataan resmi tentang nama LHI sebagai salah satu yang diindikasikan terlibat kasus penyuapan.
Saya tidak tahu yang dimaksudkan siapa, tetapi memang nama saya adalah Luthfi Hasan Ishaaq yang biasa orang menyebutnya LHI.
Seandainya yang dimaksudkan adalah saya, maka saya sebagai warga negara Indonesia sudah tentu akan taat kepada proses hukum yang ada.
Tetapi, andai isu penyuapan itu benar, sudah barang tentu, saya tidak akan menerimanya. Tidak saya, tidak partai saya, tidak juga kader-kader Partai Keadilan Sejahtera.
Untuk itu, kepada seluruh jajaran, kader dan seluruh pengurus partai, Saya berharap para kader tetap menahan diri, terus berdoa, dan menyerahkan semua urusan pada Allah SWT, dan terus berjuang agar negeri kita ini bebas dari korupsi. Karena tindakan itu merugikan negara dan menyengsarakan rakyat, dan pemberantasan korupsi itu sudah menjadi komitmen PKS.
Biasanya menjelang pemilu, kita rajin mengucapkan kalimat "hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wa niman nashir".
Demikian saya sampaikan keterangan ini, terima kasih. Wassalamu'alaykum warohmatulloh wabarokaatuh.
Salam @FPKSJakarta
Tampilkan postingan dengan label Oh Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oh Indonesiaku. Tampilkan semua postingan
31 Januari 2013
21 Maret 2012
Cermin Bening itu...
Masyarakat boleh berkata apa saja tentang proses Pilkada DKI Jakarta. Media sudah banyak memberitakannya. Kader sudah melek dan senang membaca berita. Ada cermin bening, sangat bening, dalam proses yang menyertainya. Sangat banyak mutiara hikmah yang harus kita ambil darinya.
Adalah Triwisaksana, kader dakwah yang mendapatkan amanah untuk dimajukan dalam Pilkada. Kerja keras sudah dilakukannya, pagi, siang, sore hingga malam tiba. Keringat mengucur dengan deras, membasahi sekujur tubuhnya. Mencoba merangkai harapan masa depan, merenda cita-cita kemenangan, membayangkan Jakarta diliputi pribadi mulia.
Namun apa hendak dikata. Realitas politik sangat sulit diduga. Bang Sani menerima keputusan pimpinan, ia tidak jadi dimajukan dalam proses Pilkada. Pilihan yang sulit bagi para pimpinan partainya, karena sangat banyak kendala untuk tetap memajukan Triwisaksana. Pilihan telah ditetapkan, keputusan telah dikeluarkan, Hidayat Nurwahid tidak pernah menyangka. Ya, ustadz Hidayat mendapatkan amanah maju dalam Pilkada DKI Jakarta.
Subhanallah, lihatlah kedua kader terbaik kita. Demikian tinggi etika mereka jaga. Mereka saling melempar pujian kepada lainnya. Hidayat mengatakan siap mendukung Sani jika partai memilih Sani untuk maju dalam Pilkada. Hidayat menganggap Sani cocok dan memiliki kapasitas untuk memimpin Jakarta. Sebaliknya Sani menyatakan Hidayat lebih baik darinya. Subhanallah, betapa mulia mereka berdua.
Keduanya menyatakan siap menjadi Tim Sukses bagi yang lainnya, apabila dirinya tidak jadi dimajukan dalam Pilkada. Subhanallah, betapa mulia hati mereka. Presiden Partai menyatakan, Bang Sani telah melakukan pemanasan, bagi jalan yang akan dilalui oleh Hidayat Nurwahid untuk memimpin Jakarta.
Cermin bening itu, menjadi isyarat kebersihan niat dalam mengikuti proses Pilkada. Kebesaran jiwa Bang Sani, kebersahajaan ustadz Hidayat, menjadi modal utama memenangkan kontestasi politik menuju pemimpin DKI Jakarta.
Dari Sani ke Wahid, keduanya kader dakwah yang setia. Dari Sani ke Wahid, keduanya simbol perjuangan yang menggelora. Dari Sani ke Wahid, lihatlah tidak ada yang perlu terluka dan kecewa. Dari Sani ke Wahid, keduanya memang istimewa.
11 Januari 2012
Selamat Hari Mendongeng Nasional!
Dongeng, ia mampu melekatkan tali kasih yang telah lekang antara orang tua dengan anak, menjadi obat kerinduan. Bahkan dongeng pun bisa menjadi satu lapisan batin yang kuat pada jiwa anak, sehingga mereka mencintai kebaikan dan kebenaran, serta menjauh dari kebatilan-keburukan. Kita terus membutuhkan cerita atau dongeng yang apik dan menggerakkan anak-anak negeri kita untuk mencapai martabat yang luhur, disegani kawan ataupun lawan, siap tanding maupun sanding.
Kak Bimo in action
(Kak Bimo; Pekerja Dongeng Indonesia)
Baru tahu kalau hari ini, 11 Januari, dinobatkan sebagai Hari Mendongeng Nasional. Kutipan Kak Bimo di atas sangat menggugah. Saya jadi teringat nasihat beliau tahun silam; bahwa jika ingin membentuk karakter generasi penerus negeri ini menjadi hebat, maka cekoki mereka dengan dongeng-dongeng bermutu. Karena, 20 tahun kemudian, ruh dongeng itu akan menjelma menjadi akhlaq mereka kelak.
Kak Bimo pernah memaparkan, ada sebuah penelitian terhadap dongeng (cerita rakyat) yang beredar 20 tahun lalu di dua negara (saya lupa namanya). Sebut saja Negara A yang saat itu dalam kondisi tertindas, dan dongeng-dongeng yang dituturkan kepada anak-anak negeri itu seputar kisah kepahlawanan, heroisme, optimisme untuk bangkit dan cerita sejenis yang bervisi. Ternyata 20 tahun kemudian negara itu bisa merdeka dari penindasan, bahkan mengalami kemajuan dan kemakmuran yang luar biasa.
Sementara di negara B yang tingkat kesejahteraan rakyatnya relatif lebih makmur saat itu, sehingga dongeng-dongeng yang beredar lebih meninabobokan rakyatnya. Apa yang terjadi 20 tahun kemudian? Ternyata tingkat kemakmuran negeri itu malah merosot tajam dan dapat disaingi oleh negara A tadi.
Saya jadi terperangah. Jangan-jangan amburadulnya negeri kita tercinta ini gara-gara dongeng yang beredar puluhan tahun lalu menanamkan kebobrokan moral? Simak saja dongeng paling masyhur di tanah Jawa: "Kancil Nyolong Timun". Kenapa musti harus nyolong jika bisa bicara baik-baik dengan Pak Tani untuk memintanya? Atau, mengapa tidak kita buat skenario: Sang Kancil minta diajari Pak Tani bercocok tanam timun yang baik dan benar. Sehingga nantinya bisa menghasilkan timun yang berkualitas super dan Kancil tak perlu nyolong lagi? Hayo, siapa mau mendongeng "Kancil Jadi Exportir Timun?"
Mudah-mudahan ini menginspirasi kita. Saya yakin masih banyak anak negeri yang benar-benar mencintai negeri ini dan berkeinginan kuat mewujudkan cita-cita luhur bangsa. Maka segeralah kita mulai "menularkan virus" dongeng pembangkit semangat ini kepada anak-anak kita. Dengan semua media dan sumber daya yang kita punya, mari bersama menuturkan dongeng motivasi itu, sekarang!
SELAMAT MENDONGENG, INDONESIA!
10 November 2011
Apa itu Pahlawan?
Cuplikan Pidato BUNG TOMO, di Surabaya
Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!
............................................
Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!
Bismillahirrohmanirrohim..
MERDEKA!!!
............................................
Dan untuk kita saudara-saudara
lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka
semboyan kita tetap: merdeka atau mati!
Dan kita yakin saudara-saudara
pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita
sebab Allah selalu berada di pihak yang benar
percayalah saudara-saudara
Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
MERDEKA!!!
28 Oktober 2011
Sumpah, [aku ini masih] Pemuda!
Buka kantor, buka akun. Eh, baru tersadar kalau sekarang tanggal 28 Oktober. Di dunia maya sudah pada 'gegeran' membicarakan hari bersejarah ini; Sumpah Pemuda. Ada yang menyimpan asa untuk perbaikan kualitas para pemuda negeri ini. Ada pula yang pesimistis melihat 'prestasi' pemuda Indonesia di berbagai ranah kehidupan. Ane pribadi, adalah pendukung golongan yang optimistis! Kudu dong...Asa itu masih harus ada, Bro & Sis...
Karena tanpa asa yang membuncah, sampeyan semua akan menatap 'madesu', masa depan yang suram! Seperti apa pun kondisi kininya (apalagi kondisi eksistingnya adalah amburadul seperti sekarang ini). Padahal kalau kita semua mau bersatu padu menyamakan visi untuk Indonesia jaya (wow!), insya Allah pasti bisa.
Dan, perubahan itu terletak di pundak para pemudanya. Masih terngiang pidato Soekarno dulu, "Beri aku 10 pemuda, maka akan kuubah dunia!" Dahsyat 'kan? Rasulullah saw sendiri mengawali dakwahnya di kalangan pemuda. Hingga terbilang puluhan pemuda bergabung di bilik Arqam bin Abil Arqam, kemudian menyeruak ke seantero jazirah Arab. Waktunya relatif singkat, sekitar 20 tahunan. Dari kondisi minus (jahiliyah), terbelakang, terpuruk, tanpa izzah (harga diri) berubah total menjadi generasi yang disegani lawan. Bahkan 2 negara adi daya waktu itu (Roma & Persia) berhasil ditaklukan di bawah naungan Islam.
Tidakkah kita semua merindukan hal itu, saudaraku? Enam puluh enam tahun sudah kita menyia-nyiakan rahmat Allah ini. Harusnya, kita bisa tiga kali lebih jaya dibanding apa yang telah Rasulullah saw lakukan. Maka hanya Islam-lah satu-satunya solusi untuk kejayaan negeri ini. Itu semua kembali kepadamu, para pemuda Indonesia. Siapa pemuda itu? Mereka bukan hanya yang usia (biologis)-nya muda saja, melainkan siapa saja yang memiliki semangat, energi & visi para pemuda.
Maka, lebih baik telat tinimbang tidak mulai dari sekarang... Sumpah, [ane juga termasuk] pemuda!
12 Oktober 2011
Samsat Drive Thru
Adalah layanan Pengesahan STNK, Pembayaran PKB dan SWDKLLJ yang tempat pelaksanaannya di luar Gedung Kantor Bersama SAMSAT dan memungkinkan Wajib Pajak melakukan transaksi tanpa harus turun dari kendaraan bermotor yang dikendarainya.
Bro & Sis, itu teorinya. Praktiknya sangat sulit menerapkan 'drive thru' ini. Bagaimana mungkin "tanpa harus turun dari kendaraan" kalau peminatnya seperti ini? Hehe...

Lepas dari itu, paling tidak layanan di sini memang relatif cepat. Biasanya kalau di Kantor Samsat, waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan ini kurang lebih 1 jam-an (mulai dari memasukkan berkas hingga selesai penyerahan berkas kembali). Nah, di Samsat Cepat ini kita ngirit waktu 50%. Kemaren ane coba, hanya butuh waktu sekitar setengah jam-an. Juga ngirit duit ding, selisih biaya fotokopi dan map (sekitar dua ribuan, lumayan). Karenya di sini syaratnya cuma bawa berkas asli: KTP, STNK & bukti pajaknya sama BPKB. Sudah itu tok, tidak usah difotokopi.
Sistem dan Prosedur Layanan
1. Layanan Drive Thru terdiri dari 2 (dua) loket yaitu :
a. Loket 1 pendaftaran dan pengesahan
b. Loket 2 pembayaran dan penyerahan;
2. Pendaftaran Pengesahan pada ayat 1 (satu) huruf a ditandai dengan stempel dan paraf petugas pendaftaran;
3. Layanan Drive Thru melayani kendaraan bermotor dengan identifikasi sesuai dengan STNK yang digunakan pada saat pendaftaran;
4. Layanan Drive Thru tidak melayani kendaraan blokir dan kendaraan bermotor angkutan penumpang umum;
5. Petugas loket pendaftaran menerima dokumen dari wajib pajak berupa BPKB Asli, STNKB Asli, KTP Asli, selanjutnya melakukan penelitian terhadap kebenaran dokumen dan melakukan validasi dokumen dengan scanner;
6. Petugas loket Pembayaran dan Penyerahan memberitahukan jumlah pembayaran yang seharusnya dan selanjutnya menerima pembayaran serta menyerahkan bukti pembayaran kepada Wajib Pajak;
7. Pemanfaatan layanan drive thru disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah.
03 Oktober 2011
Ibu Negara, Lihatlah Kami...
Wahai Bu Ani SBY,
Selamat datang di Pekalongan...
Senang sih, dikunjungi...
Tapi lihatlah
Orang-orang jadi pada repot
Mau lewat di jalur yang biasa kami lewati tidak boleh
Harus muter-muter dulu di "jalur alternatif"
(jadinya ngabisin bensin & waktu)
Dan...
Para siswa yang dijejer di pinggir jalan itu
Butiran peluh deras membasahi seragam batiknya
Hanya untuk melambaikan merah-putih kecil di tangannya
Sementara Ibu dan rombongan asyik pilah-pilih batik
Adakah yang memikirkan makan siang mereka?
Sudah hampir ashar lho...
kapan rombonganmu akan pulang?
Capek nih...
Bu Ani SBY....
Terima kasih telah merepotkan kami...
Selamat datang di Pekalongan...
Senang sih, dikunjungi...
Tapi lihatlah
Orang-orang jadi pada repot
Mau lewat di jalur yang biasa kami lewati tidak boleh
Harus muter-muter dulu di "jalur alternatif"
(jadinya ngabisin bensin & waktu)
Dan...
Para siswa yang dijejer di pinggir jalan itu
Butiran peluh deras membasahi seragam batiknya
Hanya untuk melambaikan merah-putih kecil di tangannya
Sementara Ibu dan rombongan asyik pilah-pilih batik
Adakah yang memikirkan makan siang mereka?
Sudah hampir ashar lho...
kapan rombonganmu akan pulang?
Capek nih...
Bu Ani SBY....
Terima kasih telah merepotkan kami...
01 Oktober 2011
Pembesar itu Menyengsarakan...
Apa? Hari Kesaktian Pancasila?? Ah, hari kesaktian para pembesar kalee... Lihat saja, menjelang kunjungan ibu negara ke Kampung Batik Pesindon (Pekalongan), semua orang pada sibuk. Ada juga sih yang sok sibuk dan sok cari muka.
Tanggal 3 Oktober nanti kan ada perhelatan Pekan Batik Nasional di Pekalongan. Semua orang, dari mulai Walikota sampai Kapolda, merasa bertanggung jawab atas suksesnya acara ini. Yah, apalagi kalau bukan karena para pembesar mau hadir. Padahal yang hadir cuma istri presiden dan rombongannya saja. Itu pun hebohnya nggak ketulungan.
Bahkan mulai kemaren, sebuah TK dan SD yang kebetulan di jalur yang hendak dilewati rombongan, sudah diliburkan hingga acara selesai. Walah, ternyata pendidikan dikalahkan sama kepentingan remeh seperti itu.
Ada lagi kesaksian teman ane yang kebetulan pengusaha batik di Pesindon (lokasi yang nanti dituju), konon jelang hari H nggak boleh kemana-mana, karena area radius sekian kilometer harus steril! Walah...
Belum lagi pemilik rumah jelek yang juga berada di "lintasan" juga harus minggir dulu sementara. Karena seluruh muka rumahnya akan ditutup triplek berhias batik. Oh, jadi begini ya, kalau pembesar (ibu negara) mau lewat, beliau tidak boleh melihat wajah asli rakyatnya?
Oalah... ternyata para pembesar itu menyengsarakan ya...?
,
Tanggal 3 Oktober nanti kan ada perhelatan Pekan Batik Nasional di Pekalongan. Semua orang, dari mulai Walikota sampai Kapolda, merasa bertanggung jawab atas suksesnya acara ini. Yah, apalagi kalau bukan karena para pembesar mau hadir. Padahal yang hadir cuma istri presiden dan rombongannya saja. Itu pun hebohnya nggak ketulungan.
Bahkan mulai kemaren, sebuah TK dan SD yang kebetulan di jalur yang hendak dilewati rombongan, sudah diliburkan hingga acara selesai. Walah, ternyata pendidikan dikalahkan sama kepentingan remeh seperti itu.
Ada lagi kesaksian teman ane yang kebetulan pengusaha batik di Pesindon (lokasi yang nanti dituju), konon jelang hari H nggak boleh kemana-mana, karena area radius sekian kilometer harus steril! Walah...
Belum lagi pemilik rumah jelek yang juga berada di "lintasan" juga harus minggir dulu sementara. Karena seluruh muka rumahnya akan ditutup triplek berhias batik. Oh, jadi begini ya, kalau pembesar (ibu negara) mau lewat, beliau tidak boleh melihat wajah asli rakyatnya?
Oalah... ternyata para pembesar itu menyengsarakan ya...?
,
22 September 2011
'Ak, Aem, Nyam-nyam...
"Aak...ak...," kataku sambil menyorongkan sesendok nasi plus irisan telur ke mulut anakku, Irfan (4th). Kedua bibirnya terkatup rapat. Masih kurang cukup, ia menggeleng-gelengkan kepalanya ketika tanganku terus berusaha mengarah ke mulutnya. Hanya sendok pertama yang mulus tanpa perlawanan, sendok-sendok berikutnya dibutuhkan 'pergulatan' yang cukup seru.
Beginilah ane mengawali pagi ini dengan anak kelimaku yang masih duduk di bangku TK. Bro & Sis tentu maklum 'kan, jika kami rada memaksa anak-anak untuk menghabiskan sarapannya. Karena manfaat sarapan yang sangat besar bagi kesiapan anak beraktifitas seharian di sekolah. Bagaimana jadinya seorang bocah yang berangkat sekolah dengan perut kosong? Apalagi untuk anak usia balita. Jadi, satu sisi tindakan 'kekerasan' dalam penyuapan ini harap dimaklumi. Maksudnya keras alias bersikukuh harus menghabiskan sarapannya, hehe...
Jujur saja, yang bermasalah dalam kasus ini ya kami ini, selaku orang tuanya. Karena sebelum jam 7 pagi sang kakak sudah harus tiba di sekolah, jika tak ingin kena 'semprit' dari pihak sekolah. Belum lagi, persiapan kami sendiri untuk beraktifitas seharian ini. Dan waktu take off dari rumah tinggal 2 menit lagi, sementara Irfan belum merampungkan sarapannya. Penginnya kami, 'ak' terus 'aem' dan 'nyam-nyam' dengan lancar, seperti hari-hari sebelumnya (huu... maunya!).
Eh, bicara soal suap-menyuap ane jadi ingat berita di TV pagi ini. Konon KPK berhasil menetapkan tersangka dalam kasus suap pembangunan wisma atlet tuh. Weleh... ane jadi kepikiran, kok mesti dalam kasus suap-menyuap ini, yang diuber-uber hanya penyuapnya saja to? Lha mbok yang disuap itu juga dikosek gitu lho, biar adil. Bukankah proses suap itu mesti ada dua pihak di dalamnya: pelaku suap dan yang menerima suap? Jadi menurut hemat ane, kalau pengin membersihkan perilaku menyimpang ini harus dua-duanya diuber. Ya penyuapnya, ya yang menerima suap juga kudu dihukum. Coba pikirkan, andai semua pejabat negeri ini berani dan keukeuh menolak suap, pasti orang-orang yang doyan menyuap itu akan kebingungan dengan sendirinya. Lha mau nyuap siapa coba, wong semua pejabatnya anti suap? Betul tidak?
Eh, Irfan! Mau kemana kau? Jangan lari, Nak! Sini, sarapannya dihabiskan... Irfaaan...(aarrgh... sudah hampir jam 7)
Beginilah ane mengawali pagi ini dengan anak kelimaku yang masih duduk di bangku TK. Bro & Sis tentu maklum 'kan, jika kami rada memaksa anak-anak untuk menghabiskan sarapannya. Karena manfaat sarapan yang sangat besar bagi kesiapan anak beraktifitas seharian di sekolah. Bagaimana jadinya seorang bocah yang berangkat sekolah dengan perut kosong? Apalagi untuk anak usia balita. Jadi, satu sisi tindakan 'kekerasan' dalam penyuapan ini harap dimaklumi. Maksudnya keras alias bersikukuh harus menghabiskan sarapannya, hehe...
Jujur saja, yang bermasalah dalam kasus ini ya kami ini, selaku orang tuanya. Karena sebelum jam 7 pagi sang kakak sudah harus tiba di sekolah, jika tak ingin kena 'semprit' dari pihak sekolah. Belum lagi, persiapan kami sendiri untuk beraktifitas seharian ini. Dan waktu take off dari rumah tinggal 2 menit lagi, sementara Irfan belum merampungkan sarapannya. Penginnya kami, 'ak' terus 'aem' dan 'nyam-nyam' dengan lancar, seperti hari-hari sebelumnya (huu... maunya!).
Eh, bicara soal suap-menyuap ane jadi ingat berita di TV pagi ini. Konon KPK berhasil menetapkan tersangka dalam kasus suap pembangunan wisma atlet tuh. Weleh... ane jadi kepikiran, kok mesti dalam kasus suap-menyuap ini, yang diuber-uber hanya penyuapnya saja to? Lha mbok yang disuap itu juga dikosek gitu lho, biar adil. Bukankah proses suap itu mesti ada dua pihak di dalamnya: pelaku suap dan yang menerima suap? Jadi menurut hemat ane, kalau pengin membersihkan perilaku menyimpang ini harus dua-duanya diuber. Ya penyuapnya, ya yang menerima suap juga kudu dihukum. Coba pikirkan, andai semua pejabat negeri ini berani dan keukeuh menolak suap, pasti orang-orang yang doyan menyuap itu akan kebingungan dengan sendirinya. Lha mau nyuap siapa coba, wong semua pejabatnya anti suap? Betul tidak?
Eh, Irfan! Mau kemana kau? Jangan lari, Nak! Sini, sarapannya dihabiskan... Irfaaan...(aarrgh... sudah hampir jam 7)
21 Juni 2011
Jamkesmas... Ooh... Jamkesmas...!!!
Mendengar kabar bahwa para koruptor yang sakit di tahanan mendapat perawatan dari pemerintah yang biaya pengobatannya menggunakan dana Jamkesmas, sungguh tersayat-sayat nuraniku. Betapa tidak, orang yang jelas-jelas merugikan negara miliaran rupiah, ketika sakit kok masih diberi santunan??? Sementara jutaan rakyat miskin lain hingga sakaratul mautnya tak serupiah pun dana untuk mereka!
Jadi teringat almarhum adik (Sinoro Puji, 37th), yang sampai ajalnya tak sempat menikmati dana Jamkesmas, padahal dia sangat membutuhkan. Karena vonis dokter, jalan satu-satunya untuk kesembuhannya adalah operasi penggantian klep jantungnya. Karena 2 dari 4 klep jantungnya bocor. Konon biayanya kurang lebih 150 juta. Sementara dia adalah seorang karyawan perusahaan swasta dengan gaji 1,7 juta dan Jamsosteknya hanya mengcover 10 juta saja. Dari mana kami menutup yang 140 juta sisanya? Memang, keseharian kami tidak termasuk keluarga miskin (alhamdulillah), namun untuk kasus ini kami jadi miskin. Usaha untuk memperoleh Jamkesmas sudah kami tempuh. Namun apa jawab Dinkes Kab. Pekalongan? "Sudah tutup Mas, tidak bisa pengajuan lagi." Dan kalau pun masih ada jatah, kami harus merekayasa agar kami termasuk keluarga penerima BLT yang nyata-nyata ini tidak bisa kami lakukan.
Kadang terpikir untuk membuat surat terbuka kepada Menkes. Tentang pengalokasian dana Jamkesmas agar lebih adil dan merata serta bisa mengcover kasus-kasus khusus seperti adik saya itu. Mungkin mekanisme pengajuannya perlu diubah, atau persyaratannya. Jadi jangan di-gebyah-uyah (dipukul rata) harus keluarga dengan ciri-ciri penerima BLT saja yang boleh menerima. Harapan kami, ke depannya alokasi dana Jamkesmas bisa lebih kasuistik, yang penting faktanya pada saat pengajuan, yang bersangkutan tidak bisa membiayai pengobatannya. Ini hal yang mudah bukan? Buktinya para koruptor saja bisa diberi...
Jadi teringat almarhum adik (Sinoro Puji, 37th), yang sampai ajalnya tak sempat menikmati dana Jamkesmas, padahal dia sangat membutuhkan. Karena vonis dokter, jalan satu-satunya untuk kesembuhannya adalah operasi penggantian klep jantungnya. Karena 2 dari 4 klep jantungnya bocor. Konon biayanya kurang lebih 150 juta. Sementara dia adalah seorang karyawan perusahaan swasta dengan gaji 1,7 juta dan Jamsosteknya hanya mengcover 10 juta saja. Dari mana kami menutup yang 140 juta sisanya? Memang, keseharian kami tidak termasuk keluarga miskin (alhamdulillah), namun untuk kasus ini kami jadi miskin. Usaha untuk memperoleh Jamkesmas sudah kami tempuh. Namun apa jawab Dinkes Kab. Pekalongan? "Sudah tutup Mas, tidak bisa pengajuan lagi." Dan kalau pun masih ada jatah, kami harus merekayasa agar kami termasuk keluarga penerima BLT yang nyata-nyata ini tidak bisa kami lakukan.
Kadang terpikir untuk membuat surat terbuka kepada Menkes. Tentang pengalokasian dana Jamkesmas agar lebih adil dan merata serta bisa mengcover kasus-kasus khusus seperti adik saya itu. Mungkin mekanisme pengajuannya perlu diubah, atau persyaratannya. Jadi jangan di-gebyah-uyah (dipukul rata) harus keluarga dengan ciri-ciri penerima BLT saja yang boleh menerima. Harapan kami, ke depannya alokasi dana Jamkesmas bisa lebih kasuistik, yang penting faktanya pada saat pengajuan, yang bersangkutan tidak bisa membiayai pengobatannya. Ini hal yang mudah bukan? Buktinya para koruptor saja bisa diberi...
Langganan:
Postingan (Atom)

