Ramadhan telah tiba!
Ane ucapkan selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1431 Hijriyah. Semoga Allah SWT menerima semua amal kita...
12 Agustus 2010
09 Agustus 2010
HARTEKNAS
Bro and sis.
Sudah pada tahu belum, kalau hari ini adalah HARTEKNAS? Ya, Hari Teknologi Nasional. Eh, ngomong soal teknologi, kemaren ane lihat pemandangan yang "mengenaskan" lho.
Ketika mau menemui seorang kawan di kantor Pengadilan Agama Pekalongan, mata ane kepentok pada sebuah papan kecil bertuliskan himbauan untuk mengunci motor dan helm, dan kehilangan barang-barang bukan tanggung jawab mereka.
Sebenarnya bukan kata-kata itu yang membuat ane terhenyak, melainkan bagaimana tulisan itu dibuat. Selembar kertas seukuran A3, sepertinya bekas kalender dari jenis artpaper, dengan tulisan tangan memakai spidol permanen di sebaliknya. Weleh... pemandangan yang cukup kontras dengan performa kantor PA yang masih bau guntingan pita itu (maksudnya belum genap setahun diresmikan). Padahal di jeroan kantor itu terdapat banyak unit komputer baru (sepertinya hampir di tiap ruangan) lengkap dengan printer warnanya.
Oalah... harteknas gini masih manual? Apa kata dunia???
Sudah pada tahu belum, kalau hari ini adalah HARTEKNAS? Ya, Hari Teknologi Nasional. Eh, ngomong soal teknologi, kemaren ane lihat pemandangan yang "mengenaskan" lho.
Ketika mau menemui seorang kawan di kantor Pengadilan Agama Pekalongan, mata ane kepentok pada sebuah papan kecil bertuliskan himbauan untuk mengunci motor dan helm, dan kehilangan barang-barang bukan tanggung jawab mereka.
Sebenarnya bukan kata-kata itu yang membuat ane terhenyak, melainkan bagaimana tulisan itu dibuat. Selembar kertas seukuran A3, sepertinya bekas kalender dari jenis artpaper, dengan tulisan tangan memakai spidol permanen di sebaliknya. Weleh... pemandangan yang cukup kontras dengan performa kantor PA yang masih bau guntingan pita itu (maksudnya belum genap setahun diresmikan). Padahal di jeroan kantor itu terdapat banyak unit komputer baru (sepertinya hampir di tiap ruangan) lengkap dengan printer warnanya.
Oalah... harteknas gini masih manual? Apa kata dunia???
06 Agustus 2010
Biasakan Yang Benar
Membiasakan yang benar, jangan membenarkan yang biasa. Kalimat ini ane peroleh dari Ustadz Madi Mulyana, anggota DPRD I Jawa Tengah saat reses bulan kemaren. Waktu itu acara reses dimulai tepat jam 14.00 sesuai undangan, walaupun sebagian peserta -seperti biasanya- belum memenuhi kursi yang disediakan. Ane sendiri termasuk golongan orang-orang telat, sekitar 30 menit dari jadual. (Jadi tersindir nih...)
Bro & Sis,
Jika direnungkan, memang benar apa yang beliau katakan itu. Sering kita membenarkan molornya sebuah acara, karena dianggap jam karet adalah hal yang biasa. Padahal seharusnya tidak. Karena kewajiban kita lebih banyak dibanding waktu yang tersedia. Jadi efektifkanlah waktumu!
Dan banyak hal lain yang sudah biasa kita saksikan dan praktikkan, yang semestinya salah. Kebiasaan yang salah itu harus kita hentikan sekarang juga. Dan marilah kita mulai membiasakan hal-hal yang benar semisal: berhenti tepat di belakang garis marka saat lampu merah, tertib antrian di mana pun, tidak bersedia memberikan nota kosong, berkata jujur, dan masih banyak lagi yang lainnya... [bang haji Rhoma mode is on]
Bro & Sis,
Jika direnungkan, memang benar apa yang beliau katakan itu. Sering kita membenarkan molornya sebuah acara, karena dianggap jam karet adalah hal yang biasa. Padahal seharusnya tidak. Karena kewajiban kita lebih banyak dibanding waktu yang tersedia. Jadi efektifkanlah waktumu!
Dan banyak hal lain yang sudah biasa kita saksikan dan praktikkan, yang semestinya salah. Kebiasaan yang salah itu harus kita hentikan sekarang juga. Dan marilah kita mulai membiasakan hal-hal yang benar semisal: berhenti tepat di belakang garis marka saat lampu merah, tertib antrian di mana pun, tidak bersedia memberikan nota kosong, berkata jujur, dan masih banyak lagi yang lainnya... [bang haji Rhoma mode is on]
26 Juli 2010
Tradisi Nisfu Sya'ban di Pekalongan
Hari ini bertepatan dengan tanggal 15 Sya'ban 1431 Hijriyah. Artinya ini adalah hari Nisfu Sya'ban (pertengahan bulan Sya'ban). Ada tradisi menarik yang dilakukan masyarakat muslim Pekalongan pada hari ini, yaitu Khoul Akbar (berziarah ke makam ulama). Pengunjung dan pesertanya kebanyakan justru dari luar Pekalongan. Mereka datang berbus-bus, sehingga menyebabkan parkiran sepanjang Jalan Jendral Sudirman (Pantura). Karena akses jalan menuju lokasi Khoul ini hanya untuk pejalan kaki.
Dari Jl. Jend. Sud, belok ke arah Utara akan memasuki Jl. Irian, yakni jalan menuju kompleks makam Sapuro. Saat ini jalan Irian telah dipenuhi para pedagang kaki lima beraneka macam jenis dagangannya.
Walaupun even ini belum digarap secara formal oleh dinas pariwisata setempat, namun sudah secara otomatis menjadi destinasi para wisatawan ruhani dari berbagai kota.
Dari Jl. Jend. Sud, belok ke arah Utara akan memasuki Jl. Irian, yakni jalan menuju kompleks makam Sapuro. Saat ini jalan Irian telah dipenuhi para pedagang kaki lima beraneka macam jenis dagangannya.
Walaupun even ini belum digarap secara formal oleh dinas pariwisata setempat, namun sudah secara otomatis menjadi destinasi para wisatawan ruhani dari berbagai kota.
24 Juli 2010
Setiap Kita Adalah Pemberani
Bro & Sis,
Ternyata, setiap kita adalah pemberani, lho! Tidak percaya? Lihatlah ketika kita masih kecil. Kita bebas bermain apa saja tanpa memikirkan potensi bahaya di baliknya. Setiap ekspresinya adalah natural bukan artifisial. Itulah fitrah!
Namun setelah beranjak dewasa, kebanyakan informasi yang menjejali otak kita adalah hal-hal yang menciutkan nyali kita. Jadilah kini, kita menjelma menjadi penakut dan pengecut. Kita melupakan fitrah kita.
Maka, jika kita ingin keluar dari krisis yang membebat kehidupan kita, mari bergegas kembali pada nilai-nilai fitrah. Insya Allah, badai 'kan segera berlalu...
23 Juli 2010
Aset itu Bernama: Anak
Bro & Sis, lama nih nggak niliki blog... Mumpung ada momen HAN, pengin berceloteh sedikit tentang Anak.
Bicara tentang anak, angan saya nyangkut pada pepatah jawa kuno: 'banyak anak banyak rejeki.' Saya pikir-pikir, ternyata pepatah itu muncul dari sebuah semangat keislaman yang luar biasa. Betapa tidak, hal itu masuk dalam wilayah aqidah! Dalam aspek aqidah, seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah SWT itu Maha Pencipta, Pemberi sekaligus Pengatur Rezeki. Dan -sesuai hadits nabi yang mengatakan bahwa- setiap anak telah ditulis baginya 4 perkara tatkala dia berumur 120 hari sejak terjadinya pembuahan: ajal, rezeki, jodoh dan nasibnya (lihat hadits arbain tentang penciptaan manusia). Itu artinya, rezeki tiap manusia sudah ada kavlingnya sendiri-sendiri, tidak mungkin saling tukar ataupun saling serobot. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator mengalirnya rezeki itu dari Allah SWT ke anak-anak kita.
Maka tidak mengherankan pada tahun-tahun awal terlibat dalam dunia tarbiyah, saya 'dikompori' untuk segera menikah dan memiliki banyak anak. Mengapa? Karena itu merupakan 'bukti' proses tarbiyah yang telah dijalani telah benar-benar berhasil mencelup aqidah kita. Wajarlah jika era itu menjadi era semangat nikah dini bagi para aktivis dakwah kampus. Bahkan kawan saya, seorang ketua Rohis yang belum usai kuliahnya dan belum memiliki penghasilan tetap pun berani menikah (kini dia telah siap mantu).
Anak adalah aset kita yang tak ternilai harganya. Apalagi bagi para aktivis dakwah, anak berarti mutarobbi (kader binaan) abadi yang jelas-jelas langsung akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Maka sebagai aset, para orang tua berkewajiban membekalinya dengan aqidah yang lurus, pendidikan yang islami, sehingga potensinya akan berkembang dengan baik dan benar secara syar'i.
22 Maret 2010
Megono dan Teknologi
Bro & Sis,
Tahukah Anda, makhluk apakah “megono” itu? Megono adalah salah satu makanan khas dari Pekalongan. Terbuat dari buah nangka muda yang dicacah lembut dan diberi rempah-rempah untuk selanjutnya dimasak dengan cara dikukus. Biasanya megono berfungsi sebagai pelengkap, bukan makanan pokok. Namun walau demikian, bagi orang Pekalongan sarapan tanpa megono seraya makan sayur tanpa garam. Jadi walau fungsinya hanya sekedar pelengkap, namun kehadirannya adalah suatu keniscayaan. Bahkan saking urgennya, masyarakat Pekalongan sampai menyimbolkan sarapannya dengan STM, sego-tempe-megono.
Lantas, apa pula maksud judul posting ini? Hehe… ini sih just kidding aja. Biar kelihatan keren gitu. Gara-gara membaca berita di Republika Rabu (17/2/2010) yang berjuluk “Nokia dan Intel Hadang Microsoft cs.” Di sana ditulis bahwa pada pameran telepon genggam terbesar di dunia yang digelar di Barcelona, Spanyol, pada 15-18 Februari 2010, Nokia dan Intel meluncurkan produk bersamanya yang diberi nama MeeGo. Itu semacam platform sistem operasi baru pada smartphone untuk menyaingi Windows Mobile 7-nya Microsoft, Androidnya Google dan lainnya.
“Nokia dan intel berkongsi untuk meraih dominasi dalam bisnis piranti lunak smartphone di bisnis telekomunikasi dunia. Hal itu diwujudkan dalam merger yang dilakukan terhadap perangkat lunak Linux Maemo yang digunakan dalam ponsel tipe N900 dengan produk intel MOBLIN, yang juga beroperasi dalam sistem Linux guna menghasilkan platform baru mereka, MeeGo,” demikian paragraf penjelasnya.
Ane jadi tergoda untuk mengkhayalkan, jangan-jangan para CEO Nokia dan Intel pernah ‘terdampar’ di Pekalongan, dan sempat mampir di sebuah warungnya lantas mencicipi “kearifan lokal” di sana yang bernama megono itu tadi. Nah, saking berkesannya dengan makanan khas itu, mereka terinispirasi dengan fungsi strategis megono walau tampilannya sederhana. Maka diangkatlah “megono” yang 100% asli produk lokal Pekalongan, menjadi ikon platform baru mereka. Namun karena suku kata terakhirnya kurang mendukung (MeGo-NO), maka dihilangkanlah! Alih-alih mengganti MeGo-YES yang kurang marketable, lebih baik diambil “MeGo” nya saja. Dan biar lebih keren lagi ditulis: MeeGo!
Ini sekedar celoteh, lho!
Tahukah Anda, makhluk apakah “megono” itu? Megono adalah salah satu makanan khas dari Pekalongan. Terbuat dari buah nangka muda yang dicacah lembut dan diberi rempah-rempah untuk selanjutnya dimasak dengan cara dikukus. Biasanya megono berfungsi sebagai pelengkap, bukan makanan pokok. Namun walau demikian, bagi orang Pekalongan sarapan tanpa megono seraya makan sayur tanpa garam. Jadi walau fungsinya hanya sekedar pelengkap, namun kehadirannya adalah suatu keniscayaan. Bahkan saking urgennya, masyarakat Pekalongan sampai menyimbolkan sarapannya dengan STM, sego-tempe-megono.
Lantas, apa pula maksud judul posting ini? Hehe… ini sih just kidding aja. Biar kelihatan keren gitu. Gara-gara membaca berita di Republika Rabu (17/2/2010) yang berjuluk “Nokia dan Intel Hadang Microsoft cs.” Di sana ditulis bahwa pada pameran telepon genggam terbesar di dunia yang digelar di Barcelona, Spanyol, pada 15-18 Februari 2010, Nokia dan Intel meluncurkan produk bersamanya yang diberi nama MeeGo. Itu semacam platform sistem operasi baru pada smartphone untuk menyaingi Windows Mobile 7-nya Microsoft, Androidnya Google dan lainnya.
“Nokia dan intel berkongsi untuk meraih dominasi dalam bisnis piranti lunak smartphone di bisnis telekomunikasi dunia. Hal itu diwujudkan dalam merger yang dilakukan terhadap perangkat lunak Linux Maemo yang digunakan dalam ponsel tipe N900 dengan produk intel MOBLIN, yang juga beroperasi dalam sistem Linux guna menghasilkan platform baru mereka, MeeGo,” demikian paragraf penjelasnya.
Ane jadi tergoda untuk mengkhayalkan, jangan-jangan para CEO Nokia dan Intel pernah ‘terdampar’ di Pekalongan, dan sempat mampir di sebuah warungnya lantas mencicipi “kearifan lokal” di sana yang bernama megono itu tadi. Nah, saking berkesannya dengan makanan khas itu, mereka terinispirasi dengan fungsi strategis megono walau tampilannya sederhana. Maka diangkatlah “megono” yang 100% asli produk lokal Pekalongan, menjadi ikon platform baru mereka. Namun karena suku kata terakhirnya kurang mendukung (MeGo-NO), maka dihilangkanlah! Alih-alih mengganti MeGo-YES yang kurang marketable, lebih baik diambil “MeGo” nya saja. Dan biar lebih keren lagi ditulis: MeeGo!
Ini sekedar celoteh, lho!
Langganan:
Postingan (Atom)