18 Agustus 2010

HUT RI Ke-65


Barusan usai hiruk-pikuk peringatan ke-65 tahun negeri kita tercinta...
Bro & Sis, ada satu hal yang mengganjal di hatiku nih, yakni: monotonitas Indonesia! Apa itu? Coba antum tengok logo resmi HUT RI itu. Seingatku, sejak logo 50th Indonesia merdeka, sampai hari ini tidak pernah berubah grand design-nya. Apa Indonesia ini miskin desainer grafis ya? Ane kira tidak. Tapi mengapa tidak diselenggarakan lomba logo HUT RI? Apakah panitia takut tekor? Atau jangan-jangan ada regulasi lumutan yang mengharuskan pakai master desain yang itu-itu saja? Atau... karena tidak mau repot alias terbiasa pakai template? Apa pun yang melatarinya, menurut nalar kreatif, hal itu tidak bisa dibenarkan! Karena merupakan pengebirian potensi kreasi anak bangsa!

12 Agustus 2010

Selamat Menunaikan Ibadah Ramadhan 1431 H

Ramadhan telah tiba!
Ane ucapkan selamat menunaikan ibadah Ramadhan 1431 Hijriyah. Semoga Allah SWT menerima semua amal kita...

09 Agustus 2010

HARTEKNAS

Bro and sis.
Sudah pada tahu belum, kalau hari ini adalah HARTEKNAS? Ya, Hari Teknologi Nasional. Eh, ngomong soal teknologi, kemaren ane lihat pemandangan yang "mengenaskan" lho.
Ketika mau menemui seorang kawan di kantor Pengadilan Agama Pekalongan, mata ane kepentok pada sebuah papan kecil bertuliskan himbauan untuk mengunci motor dan helm, dan kehilangan barang-barang bukan tanggung jawab mereka.
Sebenarnya bukan kata-kata itu yang membuat ane terhenyak, melainkan bagaimana tulisan itu dibuat. Selembar kertas seukuran A3, sepertinya bekas kalender dari jenis artpaper, dengan tulisan tangan memakai spidol permanen di sebaliknya. Weleh... pemandangan yang cukup kontras dengan performa kantor PA yang masih bau guntingan pita itu (maksudnya belum genap setahun diresmikan). Padahal di jeroan kantor itu terdapat banyak unit komputer baru (sepertinya hampir di tiap ruangan) lengkap dengan printer warnanya.
Oalah... harteknas gini masih manual? Apa kata dunia???

06 Agustus 2010

Biasakan Yang Benar

Membiasakan yang benar, jangan membenarkan yang biasa. Kalimat ini ane peroleh dari Ustadz Madi Mulyana, anggota DPRD I Jawa Tengah saat reses bulan kemaren. Waktu itu acara reses dimulai tepat jam 14.00 sesuai undangan, walaupun sebagian peserta -seperti biasanya- belum memenuhi kursi yang disediakan. Ane sendiri termasuk golongan orang-orang telat, sekitar 30 menit dari jadual. (Jadi tersindir nih...)
Bro & Sis,
Jika direnungkan, memang benar apa yang beliau katakan itu. Sering kita membenarkan molornya sebuah acara, karena dianggap jam karet adalah hal yang biasa. Padahal seharusnya tidak. Karena kewajiban kita lebih banyak dibanding waktu yang tersedia. Jadi efektifkanlah waktumu!
Dan banyak hal lain yang sudah biasa kita saksikan dan praktikkan, yang semestinya salah. Kebiasaan yang salah itu harus kita hentikan sekarang juga. Dan marilah kita mulai membiasakan hal-hal yang benar semisal: berhenti tepat di belakang garis marka saat lampu merah, tertib antrian di mana pun, tidak bersedia memberikan nota kosong, berkata jujur, dan masih banyak lagi yang lainnya... [bang haji Rhoma mode is on]

26 Juli 2010

Tradisi Nisfu Sya'ban di Pekalongan

Hari ini bertepatan dengan tanggal 15 Sya'ban 1431 Hijriyah. Artinya ini adalah hari Nisfu Sya'ban (pertengahan bulan Sya'ban). Ada tradisi menarik yang dilakukan masyarakat muslim Pekalongan pada hari ini, yaitu Khoul Akbar (berziarah ke makam ulama). Pengunjung dan pesertanya kebanyakan justru dari luar Pekalongan. Mereka datang berbus-bus, sehingga menyebabkan parkiran sepanjang Jalan Jendral Sudirman (Pantura). Karena akses jalan menuju lokasi Khoul ini hanya untuk pejalan kaki.
Dari Jl. Jend. Sud, belok ke arah Utara akan memasuki Jl. Irian, yakni jalan menuju kompleks makam Sapuro. Saat ini jalan Irian telah dipenuhi para pedagang kaki lima beraneka macam jenis dagangannya.
Walaupun even ini belum digarap secara formal oleh dinas pariwisata setempat, namun sudah secara otomatis menjadi destinasi para wisatawan ruhani dari berbagai kota.

24 Juli 2010

Setiap Kita Adalah Pemberani

Jundi asyik bermain api, tidak takut potensi bahayanya sedikit pun


Bro & Sis,
Ternyata, setiap kita adalah pemberani, lho! Tidak percaya? Lihatlah ketika kita masih kecil. Kita bebas bermain apa saja tanpa memikirkan potensi bahaya di baliknya. Setiap ekspresinya adalah natural bukan artifisial. Itulah fitrah!
Namun setelah beranjak dewasa, kebanyakan informasi yang menjejali otak kita adalah hal-hal yang menciutkan nyali kita. Jadilah kini, kita menjelma menjadi penakut dan pengecut. Kita melupakan fitrah kita.
Maka, jika kita ingin keluar dari krisis yang membebat kehidupan kita, mari bergegas kembali pada nilai-nilai fitrah. Insya Allah, badai 'kan segera berlalu...

23 Juli 2010

Aset itu Bernama: Anak

Irfan berakting a la pejuang kemerdekaan dengan "tebu runcing"nya. Latar belakang pembakaran limbah panen tebu, lokasi depan rumah.


Bro & Sis, lama nih nggak niliki blog... Mumpung ada momen HAN, pengin berceloteh sedikit tentang Anak.

Bicara tentang anak, angan saya nyangkut pada pepatah jawa kuno: 'banyak anak banyak rejeki.' Saya pikir-pikir, ternyata pepatah itu muncul dari sebuah semangat keislaman yang luar biasa. Betapa tidak, hal itu masuk dalam wilayah aqidah! Dalam aspek aqidah, seorang muslim harus mempercayai bahwa Allah SWT itu Maha Pencipta, Pemberi sekaligus Pengatur Rezeki. Dan -sesuai hadits nabi yang mengatakan bahwa- setiap anak telah ditulis baginya 4 perkara tatkala dia berumur 120 hari sejak terjadinya pembuahan: ajal, rezeki, jodoh dan nasibnya (lihat hadits arbain tentang penciptaan manusia). Itu artinya, rezeki tiap manusia sudah ada kavlingnya sendiri-sendiri, tidak mungkin saling tukar ataupun saling serobot. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator mengalirnya rezeki itu dari Allah SWT ke anak-anak kita.

Maka tidak mengherankan pada tahun-tahun awal terlibat dalam dunia tarbiyah, saya 'dikompori' untuk segera menikah dan memiliki banyak anak. Mengapa? Karena itu merupakan 'bukti' proses tarbiyah yang telah dijalani telah benar-benar berhasil mencelup aqidah kita. Wajarlah jika era itu menjadi era semangat nikah dini bagi para aktivis dakwah kampus. Bahkan kawan saya, seorang ketua Rohis yang belum usai kuliahnya dan belum memiliki penghasilan tetap pun berani menikah (kini dia telah siap mantu).

Anak adalah aset kita yang tak ternilai harganya. Apalagi bagi para aktivis dakwah, anak berarti mutarobbi (kader binaan) abadi yang jelas-jelas langsung akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Maka sebagai aset, para orang tua berkewajiban membekalinya dengan aqidah yang lurus, pendidikan yang islami, sehingga potensinya akan berkembang dengan baik dan benar secara syar'i.